By | Juni 28, 2016

6753134489_d05818d047_oPara pendiri Amerika Serikat, saat mau mendeklarasikan kemerdekaannya dari Britania Raya dan mau menuliskan naskahnya, mereka bertanya-tanya, “Untuk apa kita membuat negara ini?”

Salah satu di antara mereka menjawab, “Karena kita mau memperoleh kebahagiaan.”

Jawaban ini mengena. Orang-orang yang ada di tempat itu menyetujui jawaban ini. Namun, ada yang melanjutkan pertanyaan, “Apa syaratnya agar kita bisa memperoleh kebahagiaan?”

Terjadi adu argumen mengenai jawaban itu. Namun, akhirnya semua sepakat bahwa jawabannya adalah kebebasan. “Syarat untuk memperoleh kebahagiaan adalah kebebasan,” jawab salah satu dari mereka, menegaskan.

“Tapi, apa syarat untuk mendapatkan kebebasan?” Satu orang lagi mengajukan pertanyaan. Dan kembali, terjadi adu argumen dan gagasan.

Satu orang berseru, “Kita harus mengurus diri sendiri. Itulah syarat kebebasan!” Jawaban ini tepat, yang lain langsung menyepakatinya. Itulah kenapa mereka harus mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Britania Raya. Semua orang tampak lega.

“Tapi,” kata salah seorang lagi, membuyarkan kelegaan mereka, “apa syaratnya agar kita bisa mengurus diri sendiri?” Dan benar, pertanyaan ini membuat mereka saling melempar gagasan lagi.

“Kita harus punya konstitusi!” Ini adalah jawaban yang sangat bagus dan rupanya disetujui oleh semua orang yang ada di situ. Hanya konstitusilah yang akan menjamin bahwa semua hal tadi terlaksana dengan baik.

“Tapi,” kata salah seorang lagi, membuat yang lain serentak terdiam, “apa syaratnya bahwa konstitusi kita berjalan dengan baik?”

Yang lain sontak menjawab serentak, “Moralitas!”


[1] Cerita ini sering saya dengar dari Prof. Yudi Latif dalam berbagai ceramahnya yang tersebar di Youtube. Saya tidak tahu, apakah cerita ini benar atau sekadar fiksi belaka, sebab saya hanya mendengarnya dari Prof. Yudi Latif. Dengan cerita ini, Prof. Yudi Latif menghubungkannya dengan peristiwa lahirnya Pancasila pada sidang BPUPKI 1945, dan memang ceritanya tidak begitu berbeda.

[2] Saya tertarik menonton dan mendengar ceramah Prof. Yudi Latif di Youtube sebab baru-baru ini saya membeli salah satu bukunya yang sudah lama sekali saya buru: Negara Paripurna. Nah, sebelum saya memulai membacanya, saya pikir ada baiknya kalau menonton dulu beberapa diskusinya.

[3] Dan ternyata memang sangat berguna. Dalam berbagai ceramahnya, Prof. Yudi Latif selalu membicarakan hal-hal mendasar dari Republik Indonesia yang kerapkali dilupakan oleh mereka yang mengaku para ahli sekalipun. Salah satunya adalah cerita di atas. Cerita di atas adalah hal mendasar dari gagasan tentang negara dan konstitusi. Sehebat apapun sebuah konstitusi, seperti yang dimiliki oleh Indonesia, kalau prasyaratnya (moralitas) belum terpenuhi, konstitusi itu hanya akan menjadi tulisan di atas kertas atau sekadar hafalan anak-anak SD.[]

Sumber Gambar:
Alex Santoso

10 Replies to “Untuk Apa kita Mendirikan Negara?”

        1. mhilal Post author

          Wah, ide mantap itu, mas. Berkabar saja kalau ke Malang, kita bisa kopdar nanti 😀

          Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *