By | August 21, 2017

orang alim

Dalam kitab Murâqî al-Ubûdiyah karya Syaikh Nawawi Banten, ada disebutkan sebuah hadis. Begini bunyinya:

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم العالم حبيب الله ولو كان فاسقا والجاهل عدو الله ولو كان صالحا

Artinya: orang alim adalah kekasih Allah, meskipun ia fasik. Orang bodoh adalah musuh Allah meskipun dia saleh.
(lihat dalam Murâqi al-‘Ubûdiyah)

Catatan saya:

  1. Hadis ini tidak memiliki sanad. Lâ ashla lahû, begitu istilahnya dalam Ilmu Hadis. Sudah saya cari dalam berbagai kitab matan hadis, tapi tidak satupun ada hadis yang serupa maupun mirip dengannya.
  2. Secara matan (redaksi), hadis di atas problematis. Kata ‘âlim tidak bisa disandingkan dengan fâsiq. Sekali dua kata itu bergabung dalam satu sosok pribadi, maka konsekuensinya dia menjadi ‘ulamâ’ sû’ (ulama brengsek), yang dalam banyak hadis lain dikecam habis-habisan.
  3. Kitab Murâqî al-‘Ùbûdiyah adalah komentar terhadap kitab Bidâyah al-Hidâyah. Di dalam kitab ini, disebutkan banyak keterangan yang mengecam ulamâ’ sû’. Artinya apa? Artinya, hadis di atas bertentangan dengan penjelasan yang ada dalam kitab yang sama.
  4. Ada sebuah hadis yang bunyinya mirip dengan hadis di atas, namun substansinya berbeda. Hadis itu adalah sebagai berikut:

الكريم حبيب الله ولو كان فاسقا والبخيل عدو الله ولو كان راهبا

Artinya: seorang dermawan adalah kekasih Allah meskipun ia fasik. Orang kikir adalah musuh Allah walaupun dia adalah pendeta.

Hadis ini oleh berbagai ahli dianggap sebagai hadis palsu alias hadis maudlû‘.

Kesimpulan

Ada banyak hadis yang menjelaskan kemuliaan orang berilmu dan keutamaannya di atas orang bodoh. Namun, kita tidak bisa mendasarkannya pada hadis di atas, oleh sebab alasan-alasan yang sudah disebutkan di atas.

Oleh karena Syaikh Nawawi Banten menyebutkan hadis di atas dalam Murâqî al-‘Ubûdiyah tanpa men-takhrîj-nya terlebih dahulu tidak lantas mengecilkannya sebagai seorang ulama besar. Syaikh Nawawi Banten sudah berusaha menulis kitab itu dan kita layaknya membaca dan mengamalkannya. Justru tugas kita adalah memahaminya dengan benar dan kritis. Saya rasa, begitulah yang diinginkan oleh Syaikh Nawawi Banten sendiri.

Terakhir, catatan di atas adalah upaya saya dalam melacak keabsahan hadis tersebut. Jika pembaca sekalian mendapatkan keterangan sebaliknya, mohon beritahu saya dalam komentar.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *