By | October 23, 2013

thegodfather

Behind every great fortune there is a crime ~ Balzac

Tom Hagen bukan orang Sisilia, tapi dia diangkat menjadi cosiglieri oleh sang Don, menjadi penasihat dan orang terdekatnya. Ini kontroversial. Belum pernah dalam sejarah seorang Don melakukannya.

Don Vito Corleone melakukannya bukan tanpa alasan. Tom Hagen memang berkulit putih dan berambut pirang—ciri-ciri yang oleh para mafia Amerika keturunan Sisilia secara sinis dijuluki Irish, orang Irlandia—namun, berkat didikan sang Don, memiliki kecerdasan yang tak kalah bulus ketimbang orang Sisilia.

Cara kerjanya pun efektif dan efisien, hampir tanpa cela. Persis seperti cosiglieri pada umumnya yang selalu bisa diandal.

Sejak kecil, Tom Hagen telah dipungut oleh keluarga Corleone. Ibunya miskin dan pesakitan. Mata Tom cacat, hampir buta karena penyakit. Temannya adalah Sonny Corleone, anak sulung sang Don.

Setelah ibunya meninggal, Sonny mengajak Tom begitu saja ke rumahnya dan diizinkan tidur di loteng semaunya. Berbaring di ranjangnya berbalut selimut, sang Don melihat wajah Tom sangat damai, seperti sedang di rumah sendiri bersama keluarganya. Pemandangan itu memantik keputusan sang Don untuk memungut Tom.

Selanjutnya, Tom besar dan dididik di rumah keluarga Corleone. Matanya juga dioperasi hingga pulih total. Semua atas biaya sang Don.

Pendidikan Tom selesai hingga dia lulus sebagai sarjana Ilmu Hukum. Tapi tak hanya di lembaga pendidikan dia belajar. Perlahan-lahan, dia mengamati dan belajar banyak hal dari sang Don. Dia perhatikan bagaimana sang Don membangun imperium bisnisnya, bagaimana sang Don berdiplomasi dengan lawan bisnisnya, bagaimana sang Don memperlakukan sesama orang Sisilia yang datang ke rumahnya meminta bantuan, bagaimana sang Don merekrut para pasukan yang loyal untuk menjaga imperiumnya. Semuanya tak lepas dari identitas dan tradisi Sisilia sang Don.

Singkatnya, Tom Hagen telah belajar bagaimana menjadi seorang Sisilia sejati.

Pada saat dia diajak bicara oleh sang Don mengenai apa rencananya setelah lulus kuliah, Tom tanpa keraguan sedikitpun menjawab akan bekerja untuk keluarga sang Don. Tom sadar, seperti yang selalu dikatakan oleh sang Don bahwa ‘setiap lelaki dilahirkan dengan satu takdir saja’, sejak dipungut oleh sang Don takdir Tom adalah mengabdi padanya.

***

Tom Hagen bukanlah tokoh utama dalam novel ini, namun sudut pandangnya termasuk yang paling sering digunakan oleh pengarang untuk melangsungkan jalan cerita. Perannya bukan di puncak, tapi arti pentingnya melebihi karakter lain yang diceritakan di novel ini. Hal ini menjadikan Tom Hagen sebagai karakter yang unik.

Peran yang hampir sebanding dengan Tom Hagen, menurut saya, hanyalah Michael Corleone, anak yang kemudian mengganti posisi sang Don. Michael adalah putra sang Don yang paling cerdas, punya pancaran wibawa mirip seperti ayahnya. Itulah salah satu alasan kenapa di kemudiah hari dialah yang diatur menjadi penerus kepala keluarga oleh sang Don sendiri. Michael punya arti sangat penting sebab dialah yang menyibak serba-serbi budaya dan tradisi mafia Sisilia ketika dia bersembunyi di pulau itu.

Namun, di halaman-halaman belakang, banyak sekali pikiran Michael dituturkan melalui mulut Tom Hagen. Rupanya, Mario Puzo tak hanya menjadikan karakter Tom Hagen sebagai tangan kanan terpercaya sang Don, namun juga sebagai pembantu utama si pengarang untuk membuat plot yang dia inginkan.

***

Mario Puzo hampir selalu meminta bantuan para tokoh untuk bernarasi di novelnya ini. Dalam hal ini dia cukup berhasil sebab pembaca menjadi serasa mendengarkan pengakuan dosa. Cara seperti ini memungkinkan Mario Puzo menyelipkan emosi dalam narasinya.

Misalnya ketika dia hendak menceritakan masa lalu Luka Brasi, sosok sadis nan misterius yang menjadi salah satu orang kepercayaan sang Don. Mario Puzo meminjam mulut seorang nenek tua bernama Filomena yang masa mudanya menjadi seorang dukun. Nasib mempertemukannya dengan Luka Brasi yang berdarah dingin dan membuat hidupnya terancam. Beruntung, Don Vito Corleone berhasil menundukkan Luka Brasi, dan menjamin keamanan hidup Filomena dari Luka Brasi. Tapi sepanjang hidupnya, Filomena tak pernah bisa melupakan pengalaman mengerikan itu. Dengan penuh perasaan ngeri dan ketakutan, Filomena menceritakan itu semua kepada Michael Corleone yang eksil ke Sisilia.

Gaya bercerita semacam ini, yakni berloncat-loncatan dari satu sudut pandang ke sudut pandang yang lain, menjadikan novel ini menarik diikuti ceritanya. Meski di beberapa kesempatan Mario Puzo menjadi pecerita menurut sudut pandangnya sendiri, namun berkat loncat-loncatan yang piawai itu pembaca menjadi merasa tidak digurui.

***

Saya sudah menonton film The Godfather jauh sebelum membaca novel ini. Tentu saja, mana mungkin saya melewatkan film paling popular kedua versi IMDB ini?

Filmnya saja sudah luar biasa menarik, untuk apa baca novelnya pula? Dorongan untuk membaca novel The Godfather adalah hasil provokasi seorang teman. Tidak sia-sia, provokasinya memang bukan omong kosong. Novel ini saya nilai sebagai salah satu buku yang wajib dibaca.[]

10 Replies to “The Godfather”

    1. mhilal Post author

      Yg pertama adalah Shawshank Redemption!
      Btw, klo sedang berburu film jadul, ada baiknya cari di 100 terbaik versi IMDB. Tak akan kecewa dah 🙂

      Reply
  1. arip

    Belum baca euy novelnya mah. Kayanya kudu baca, lagi suka novel klasik.
    Tapi kalau filmnya udah soalnya penasaran nangkring di list film terbaik IMDb.

    Reply
    1. mhilal Post author

      Berarti, selain the godfather, shawshank redemption juga udah nonton dong 😉
      novel ini emang mantap jaya, arip

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *