By | March 21, 2017
tariq ramadan

sumber foto: akun facebook resmi Tariq Ramadan

Saya selalu tertarik menonton video ceramah atau dialog Tariq Ramadan. Cendekiawan Muslim Eropa ini kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang menggugah. Kadang terlintas dalam pikiran, apa yang dia serukan amat pas diterapkan di Indonesia. Selaku umat Muslim, kadang saya merasakan problem yang sama dengan yang dia hadapi di Eropa.

Hanya saja, selalu saya pertahankan suatu pengingat: kondisi Islam di Eropa dan Indonesia jelas berbeda. Di sana, umat Muslim adalah minoritas, adapun Muslim di Indonesia adalah mayoritas. Tantangan psikologis dan sosialnya berbeda jauh. Akan tetapi, secara umum Muslim seluruh dunia menghadapi tantangan yang serupa: kemiskinan, inferiority complex (meski mayoritas, penyakit psikologis ini dijangkiti kebanyakan Muslim Indonesia), pendidikan rendah, kegamangan identitas, dogmatisme, paham kekerasan, kurangnya kesadaran etika publik, dan lain sebagainya.

Semua problem itu ditanggung oleh umat Muslim sebagai tugas berat dan berjangka panjang untuk diselesaikan. Bersama-sama dengan para cendekiawan Muslim lain, Tariq Ramadan berseru kepada umat, dan bahkan kepada umat lintas agama, untuk bahu-membahu menyelesaikannya. Baginya, problem-problem itu adalah tugas kemanusiaan, bukan cuma tugas umat Muslim.

Berikut ini adalah tiga video Tariq Ramadan tentang “identitas Muslim”, “kompleks inferioritas”, dan “orang-orang berpikiran tertutup”. Ketiga persoalan itu dijabarkan dengan sangat menarik, menurutku.

Identitas Muslim adalah menjadi warga negara

Di video ini, ada yang bertanya bagaimana cara mempertahankan identitas Muslim. Tariq Ramadan memberikan jawaban yang mengejutkan, menurut saya.  Dan perlu diingat, pertanyaan ini diajukan oleh Muslim Amerika yang hidup sebagai minoritas. Jadi, sebetulnya amatlah penting pertanyaan itu adanya.

Bagi Tariq Ramadan, pertanyaan ini mesti dihadapi oleh setiap umat Muslim. Tapi dia mengingatkan agar kita mengingat prinsip, jalan dan tujuan kita. Persoalan ini mestinya tidak lantas menonjolkan perbedaan-perbedaan. Semuanya adalah saudara dan satu sama lain mesti saling menghormati. Kita harus hati-hati sebab ada orang, baik di dalam umat Muslim sendiri maupun luar umat, yang bermain-main dengan pertanyaan semacam ini.

Kita seharusnya tidak mulai dari persoalan ini. Kita harus fokus pada prioritas. Kita harus sadar betul apa yang sebenarnya kita inginkan. Selama ini, ada dua sikap yang diambil kaum Muslim. Pertama, ada sekelompok umat Muslim yang sangat ingin diterima oleh masyarakat sekitar, lalu dia menyerah. Dia sepenuhnya berkompromi. Ada orang yang ingin menunjukkan bahwa dia sangat Amerika, tapi dia lebih Amerika ketimbang orang Amerika sendiri. Singkatnya, dia tidak tahu apa yang dia lakukan dalam kaitannya dengan referensi Islam. Orang ini berbahaya. Mereka sedang menutupi rasa lemahnya. Kedua, ada orang Muslim yang sepenuhnya mengisolasi diri sebab dia merasa bukan bagian dari masyarakat. Jadi dia tidak ambil peduli dengan politik, dia tidak mau berpusing-pusing dengan apa yang baik. Dia hanya mau memperhatikan aspek spiritualnya.

Keduanya bukanlah pilihan yang bijak. Kita harus mengubahnya. Dan itu artinya kita harus, pertama-tama, terlibat sebagai umat manusia. Lalu, kedua, kita terlibat sebagai warga negara. Keduanya harus kita tekankan, kita harus jelas apa prinsip kita. Semua ini berkaitan dengan pendidikan kita. Pendidikan akan menjelaskan apa prinsip utama kita sebagai umat Muslim, dan prinsip-prinsip ini akan melahirkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri adalah kunci.

Rasa percaya diri datang dari pengetahuan. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa tanpa pengetahuan. Pengetahuan yang mendatangkan rasa percaya diri itu adalah pengetahuan yang diadaptasikan ke dalam masyarakat, ke dalam negara kita. Itulah artinya ilmu yang bermanfaat, artinya ilmu yang diadaptasikan ke dalam negara di mana kita hidup.

Kita, sebagai umat Muslim, harus terlibat dalam level nasional. Terlibat berarti memahami bahwa kita punya peran di negara ini, yakni berkontribusi dan menjadi nilai tambahan bagi negara ini.

Tariq Ramadan mengingatkan pula, jadilah warga negara dan jadilah kaum Muslim pada saat bersamaan. Sebagai warga negara, kita harus menjadi Muslim dan harus membuat mereka terkejut dengan membicarakan hal-hal penting di masyarakat yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan Islam. Hal-hal penting itu artinya kewargaan, hak akan kesetaraan, kesetaraan gender, lingkungan, apapun. Semua itu milik kita. Kita harus ada di sana.

Kita harus menipiskan perbedaan-perbedaan kewarganegaraan dalam cara berbicara dan bertindak. Hentikanlah selalu mengulang-ulang bicara, “Kami adalah orang Muslim.” Yang terpenting adalah terlibat di masyarakat. Inilah cara kita menyelesaikan kompleks inferioritas atau psikologi selalu harus menjustifikasi diri sendiri.

Menanggulangi Kompleks Inferioritas


Persoalan itu tidak berhubungan dengan pengetahuan, melainkan dengan psikologi.

Bila kita kembali ke awal peradaban Islam, umat Muslim mengambil dari Cina, dari Yunani, dari semua peradaban lain, tidak lain karena mereka sangat percaya diri. Mereka sangat percaya diri, sehingga mereka tidak takut untuk mengambil, dan mentransformasi, dan menjadi selektif. Hanya karena kita tidak percaya diri, maka kita takut mengambil, dan kita menciptakan sendiri kompleks inferioritas. Kenyataannya, ketika kita tidak yakin dengan pendirian dan prinsip kita, maka kita takut untuk mengambil dari orang lain.

Jawaban terbaik bagi persoalan ini adalah mengatakan kepada umat Muslim bahwa mereka penting. Ketahuilah lebih banyak tradisi dan agamamu. Dan percaya dirilah kepadanya. Percaya dirilah terhadap apa kalian miliki. Lalu, selektiflah terhadap apa yang datang dari luar tradisi dan agamamu.

Umat Muslim tidak boleh kehilangan tradisinya. Ia adalah tradisi yang agung, dengan banyak sekali kontribusi, pemikiran, komentar, dan lain-lain. Semuanya ini harus dipelajari dan direbut agar bisa berurusan dengan dunia saat ini. Kita harus menjadi tambahan nilai bagi dunia. Kita harus berkontribusi. Kita harus memberi sesuatu. Kita harus menyediakan sesuatu pada orang lain.

Persoalan ini sangat esensial. Secara psikologis kita butuh untuk tahu bahwa kita punya peran dan misi yang harus dituntaskan; misi dalam ilmu, misi dalam masyarakat, dalam politik, dalam ekonomi, dalam seni. Di manakah umat Muslim dalam persoalan imajinasi dan budaya? Apa yang sudah kita sumbangkan kepada dunia kini? Kita harus lebih kreatif.

Itulah yang Nabi lakukan. Beliau mengambil dari sana-sini, dia mendengar dari para sahabat, dalam persoalan strategi dan lain-lain. Dia ambil dari Persia, dari Arab, dan lain-lain. Beliau ambil, ambil, ambil. Inilah citarasa kreativitas yang penuh percaya diri (sense of confident creativity).

Mendekati orang-orang dogmatis

Di sini kita memerlukan empati intelektual.

Dalam buku The Quest for Meaning, Tariq Ramadan menjelaskan hal ini: kita kadang melihat dunia melalui jendela kita. Jadi kita perlu meminggirkan diri sejenak agar bisa keluar dari jendela kita, dan kadang kita perlu melihat sesuatu dari sudut pandang objek itu sendiri, bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri. Itu sangatlah sulit.

Pada saat kita berurusan dengan seorang dogmatis, yang melihat sesuatu dari satu sisi semata, itu sangatlah sulit. Yang terpenting bukanlah mengatakan bahwa mereka keliru. Terkadang dogmatisme adalah satu dimensi intelektual yang menguasai dimensi lain.

Apa yang membuat kita berpikir secara berbeda? Dari sudut psikologis, kita sekarang tahu bahwa ketika memperoleh pengetahuan stimulus yang datang dari luar otak kita menyentuh, selain cortex yang merupakan sisi rasional, juga amygdal yang merupakan sisi emosional. Dan ada yang sangat kuat dari cara kerja otak kita, ketika pengetahuan kita terhubung dengan kenikmatan, ia akan mengubah cara mendapatkan pengetahuan. Kita semua mengalami hal ini. Kita mungkin pernah mempelajari disiplin ilmu yang tidak kita sukai; matematika, fisika, biologi, filsafat, atau sastra. Di satu sisi, intelek kita tidak suka pada disiplin ilmu itu, tapi di sisi lain kita menyukai guru yang mengajarinya. Kenyataannya, menyukai guru membuat kita suka disiplin ilmu yang dia ajari. Jadi melalui emosi, intelek kita bekerja secara berbeda.

Ketika kita berurusan dengan orang dogmatis, kita tidak boleh berhenti di level intelektual. Kita harus bersedia mendengar. Inilah cara kita melakukan simpati intelektual: memahami dari mana dia berpikir. Lalu kita berusaha sesuatu yang baru, sesuatu yang dia sukai. Dan bila dia merasakan kasih sayang, respek, dan ketulusan, dia akan membuka pikiran mereka.

Beberapa dogmatisme keluar dari proteksi diri, beberapa keluar dari tiadanya pengetahuan, dan beberapa keluar dari sifat keras kepala. Mereka tampaknya sama saja, tapi alasannya sepenuhnya berbeda-beda. Kita harus melihat dari sudut psikologis. Itu artinya, tampakannya serupa, tapi realitas terdalamnya sepenuhnya berbeda. Inilah yang sebetulnya dilakukan oleh Nabi alaihissalam kepada para sahabat. Mereka dengan pertanyaan yang sama, tapi Nabi memberikan jawaban berbeda-beda, karena Nabi mampu menangkap dari mana mereka datang. Itulah yang harus kita lakukan.

Apakah artinya itu? Itu berarti ia memerlukan waktu lebih, ia memerlukan cinta lebih. Jangan berusaha yakinkan orangg-orang itu bahwa kita berusaha meyakinkan mereka. Berusahalah untuk meyakinkan mereka bahwa kita berusaha mencintai. Orang-orang itu tidak mau dikontrol.

Cara terbaik membantu orang lain untuk bergerak maju adalah mencintai dan menghormati mereka dengan rasa cinta dan penghormatan yang keluar dari kasih sayang atas kemanusiaannya di atas segalanya. Tunjukkanlah respek. Dan bila mereka melakukan sesuatu yang sepenuhnya salah, maafkanlah. Jadi sejatinya, kita harus memperhatikan diri kita sendiri terlebih dahulu, lalu perhatikanlah mereka. Karena memang tidak mudah berurusan dengan pikiran dogmatis. Jadi, kita harus jadi cermin negatif dari dogmatisme.[]

9 Replies to “Tariq Ramadan: Identitas Muslim, Kompleks Inferioritas dan Dogmatisme”

  1. bicara

    Yang sangat penting ketika membuka dialog dengan barat itu adalah kenyataan bahwa mereka atheists atau paling tidak sekuler luar biasah, jadi standar mereka beda, contoh kecil saja ya mereka akan mempertanyakan, kok bisa ya profesor ilmu alam tapi masih penganut agama (islam) yang taat, bukannya itu kontradiktif, yang satu evolusi yang satu creationist

    Reply
    1. mhilal Post author

      Setuju, Mas Bicara. Kadang mereka sulit mengerti sama cara berpikir kita. Standar di sini terbilang aneh. Begitupun sebaliknya. Tapi wong namanya saja dialog, disyaratkan pikiran terbuka dari kedua belah pihak

      Reply
  2. bicara

    Saya suka gayanya yg membawa Islam Eropa, mungkin ini bentuk reformasinya, tapi untuk kaum progresif pun cucu al banna ini dianggap kurang progresif bahkan dituduh sebaliknya. Yaah beliau ini ga main2 kan pengetahuan agamanya, sampe ke al Azhar pulak. Ada debat yang bagus di oxford union, waktu itu ada Ahmad Arif, tapi lebih seru pas mereka head to head. Tapi lebih asik lagi kayaknya kalau bisa bahasa French, karna banyak juga debate nya dalam bahasa itu.

    Reply
    1. mhilal Post author

      Wahaa… setuju, Mas Bicara. Kalau saja sy ngerti bahasa prancis, mesti debat-debat itu tidak kalah menarik. Tapi, mengingat sulitnya bahasa ini, saya perlu kursus dulu kalau pingin ngerti hehe

      Reply
  3. Bang Ical

    Simpati Intelektual. Gagasan ini pernah dibahas dulu, di Malang. Gagasan inilah yang menjadi perkenalan pertama saya dengan Tariq Ramadhan dan pemikiran-pemikirannya 😃

    Reply
    1. mhilal Post author

      Upaya Tariq Ramadan mengambil posisi moderat amat menarik, menurut saya, kang. Dia menyerukan reformasi Islam, tapi juga kritis terhadap Barat.

      Reply
      1. Bang Ical

        Tak lupa: kajiannya tentang Hukum Islam, Islam, dan positioning-nya dalam pelbagai problem sosial, juga menarik 😃

        Reply
        1. mhilal Post author

          Oh, sebentar-sebentar, di Malang ini di mana saya bisa ketemu tempat diskusi asyik tentang pemikirannya, Bang?

          Reply
          1. Bang Ical

            Kalau di Malang …

            Komunitas saya sudah bubaran, Bang. Namanya RIMA (Rumah Inspirasi). Direkturnya terlalu sibuk sama program Tahfiz Qur’an Tematik untuk masyarakat, geliat kajian masih terganggu.

            Di UMM, ada lembaga namanya PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat). Direktur saya di RIMA juga jadi direktur di PSIF. Tapi, senior saya yang sangat concern di bidang pemikiran, sedang menempuh studi di Australia, dan tidak di kantor itu lagi. Saya tidak tahu habitus intelektual di sana masih hidup atau tidak. Sepertinya masih.

            Di dekat Kepanjen ada Sekolah Tinggi Filsafat asuhannya Mas Dhofir. Saya ndak tahu tepatnya dimana. Tapi kajian pemikiran begitu kuat di sana 😃

            Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *