By | February 12, 2017

Taman edukatif milkindo

Oleh sebab hari ini adalah akhir pekan, seperti yang sudah kuduga Taman Wisata Milkindo sangat ramai pengunjung. Ramai sekali, tak ubahnya seperti pasar malam.
Lokasinya terletak di desa Tegalsari, Kepanjen, Malang. Cuma 7,7 km dari rumah, 15 menit perjalanan dengan sepeda motor. 

Si Dinda agak kaget juga, sebab ketika pertama kali dia ke sini suasananya tidak seramai tadi (Minggu, 12 Februari 2017). Dan tidak jadi soal, kami sudah bertekad akan mengunjunginya. Keramaian tetap kami terobos.

Parkir kendaraan roda dua hanya Rp. 2.000. Tiket masuk per orang hanya Rp. 10.000, itu pun sudah dapat bonus sebotol susu. Kupasrahkan urusan botol susu ini ke Si Dinda, sebab loketnya sangat ramai orang mengantre. Kutunggu dia sambil melihat-lihat sekeliling, ramai sekali. Si Dinda datang menyusul, membawa tujuh botol susu. Wah, selain jatah bonus kami, ternyata dia membeli lagi beberapa. Buat oleh-oleh ke rumah, katanya. Harganya hanya Rp. 5.000. Serba murah pula harga di sini. Pantas pengunjung bisa sebanyak ini, pikirku.

Kami berjalan berkeliling menyusuri lorong taman itu, mencari tempat duduk bersantai. Bahkan mencari tempat dudukpun sulit karena saking ramainya. Setiap pojokan seperti sudah ditempati orang. 

Kami melewati kandang sapi, kandang kelinci, juga wahana buat bermain polo. Semua ramai. Kulihat terdapat tempat kosong, di bagian selatan taman, tempat pot-pot kembang dipersiapkan sebelum disebar ke segenap penjuru taman. Nah, tempat ini ideal sekali buat tongkrongan.

Kami membuka plastik botol susu, ada banyak pilihan rasa di sana. Rasa pisang, melon, anggur, susu murni dan strawberi. Aku mengambil rasa anggur. Si Dinda mengambil rasa kegemarannya, rasa pisang. Rasanya memang mantap jaya. 

Kuamati sekeliling, terlihat orang-orang berlalu lalang. Ada pula yang bercengkerama di tempat duduk. Menikmati kegembiraan bersama keluarga atau teman-teman, juga dengan pasangan kekasihnya. 

Tempat semacam ini, yakni sebuah taman yang bersih dan nyaman, tampaknya amat diperlukan oleh penduduk Malang. Apa karena saking jarangnya wahana semacam ini sehingga pengunjung bisa tumplek-tumplek bertandang? Tidak cuma penduduk Kepanjen dan sekitar semata yang datang ke sana, beberapa orang dari Kota Malang pun juga terlihat di sana. Apa di Malang kekurangan wahana bersantai begini? Apa di tempat-tempat antara Kota Malang dan Kepanjen tidak ada taman semacam ini? Ah, entahlah.

Dan konsep tamannya memang merupakan gagasan brilian. Shella Varhina, penggagas dan pendirinya, menyiapkan dengan bagus, jelas dengan gigih pula. Taman ini dibikin ramah untuk anak-anak dan remaja. Untuk anak-anak, dipersiapkan beberapa wahana bermain yang murah dan dekat dengan alam: kelinci, perah susu langsung dari sapinya, penyewaan sepeda, juga kendaraan kereta. Untuk remaja juga disedia titik-titik yang bagus buat swafoto. Kuperhatikan, mereka menenteng ponsel ke sana-kemari, berpose di titik tertentu, lalu swafoto atau swafoto bareng-bareng (bagaimana sebaiknya menerjemahkan wefie?).

Shella Varhina sudah mendirikannya sejak 2013 silam. Dan hingga kini, taman ini sedang diperluas ke arah barat. Beberapa bagian juga tampak sedang diperindah. Sepertinya, wahana ini dirancang akan sangat luas, lahan yang tersedia masih banyak sekali.

Saya masih duduk di tempat semula, mengamati sekeliling, juga menikmati pemandangan hijau. Kuperhatikan Si Dinda juga menikmatinya. Kami menikmati kebersamaan ini.

Dan sudah kupersiapkan sebuah buku, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, karya Pramoedya Ananta Toer, untuk kubaca di situ. Kuselami buku itu tanpa memperhatikan sekitar. Kubaca surat Pram untuk putrinya, Tieknong, tentang banyak hal, tentang berbagai pengalaman Pram. Surat itu ditulis saat Pram masih mendekam di Pulau Buru sebagai tapol, tanpa kepastian apakah surat itu akan sampai ke tangan anaknya itu atau tidak. Aku tenggelam, tak sadar bahwa Si Dinda sedang memotretku dari samping.

Kuakhiri saja baca buku itu sebab sudah waktunya pulang. Taman Wisata Milkindo adalah tempat yang bagus buat bersantai dan beranjangsana, asal bukan akhir pekan.[]

4 Replies to “Taman Wisata Edukatif Milkindo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *