By | March 10, 2017

Selera humor

Is’ad akhirnya menuntaskan kewajibannya, tepat sebelum ia meninggal dunia.

Kewajiban-kewajiban itu sempat membuatnya jadi objek su’uzon, terutama olehku yang berpikiran sempit. Dalam waktu yang sangat singkat, juga dengan caranya yang elegan, Is’ad menunjukkanku bahwa pikiran di kepalaku ini amatlah bebalnya.

Setiap habis magrib malam Selasa, saya membimbing halqah (forum) mengaji kitab Idzatun Nasyi’in. Tak lebih dari hanya 5 kali pertemuan halqah itu sudah berlangsung, tapi Is’ad belum sekalipun ikut serta. Di setiap pertemuan, saya tanya ke teman-temannya ke mana si Is’ad kok tidak pernah ikut forum, dan jawabannya selalu sama: Is’ad tidak ada di bilik pesantren, keluar entah ke mana, seperti tidak mementingkan forum itu.

Padahal kitab Idzatun Nasyi’in adalah kitab penting. Pemuda seusia Is’ad sebaiknya sudah membaca kitab itu. Muatannya mengandung pesan moral yang berguna untuk hidupnya kelak. Dan Is’ad tidak mau membaca dan mengajinya? Sungguh anak yang lalai!

Pikiran itu tetap bertahan; sebuah pikiran yang sangat tidak patut dan kini kusesali.

Aku menyesali pikiran itu karena ternyata Is’ad bukannya tidak mau hadir ke forum, tapi karena alasan-alasan yang bisa dimaklumi. Dia belum punya kitab Idzatun Nasyi’in, dan untuk mempunyainya dibutuhkan biaya. Barangkali, karena alasan itulah dia memutuskan untuk menghindar dulu. Memang harganya hanya belasan ribu, tapi bagi seorang santri semacam dia, biaya segitu bisa sangat rumit.

Pekan berikutnya, karena sedang kerja lembur, aku tidak bisa datang ke halqah mengaji itu. Aku sungguh lupa bahwa malam itu ada jadual halqah, jadi tanpa konfirmasi ke anggota halqah aku tidak menghadirinya. Kabarnya, semua anggota halqah datang dan menungguku. Termasuk Is’ad.

Besoknya, Is’ad mengalami kecelakaan. Nyawanya tak tertolong setelah dia dilarikan ke rumah sakit.

Sehari setelah peristiwa itu, aku mendengar bahwa Is’ad rupanya hadir ke halqah. Teman-teman anggota halqah bercerita padaku. Dia sudah punya kitab Idzatun Nasyi’in. Kabarnya, dia datang ke halqah dengan riang gembira sebagaimana selalu. Malam itu dia datang ke halqah untuk membayar keinginannya yang tertunda, meski tanpa hasil yang diharapkannya sebab halqah itu gagal berlangsung.

Tapi kabar itu tak pelak membuatku menyesal. Aku menyesal karena punya pikiran yang tidak sepatutnya padanya. Aku menyesal sebab tidak bisa hadir ke halqah. Selain menyesal, sungguh, aku juga tertawa mendengar kabar itu.

Ah, Is’ad, kau menuntaskan semuanya dengan selera humor yang bagus. Kau berhasil membuatku tertawa, meski tawa itu terasa getir di dada.[]

6 Replies to “Selera Humor Is’ad”

  1. nilamic

    Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya. Amin

    Mak kek gentengah tolesennah sampian. Allah karim

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *