By | November 9, 2016

language

Berkat gonjang-ganjing dan hiruk-pikuk yang kini sedang memenuhi media sosial kita, saya jadi makin bersemangat belajar Bahasa Indonesia yang baik. Situasi ini ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Pentingnya Bahasa Indonesia sedang mendapatkan konteksnya yang paling terang-benderan.

Apa pasal? Pasalnya adalah pidato Ahok di Kepulauan Seribu itu, yang ternyata bikin ramai. Kondisi makin ramai lagi setelah pemilik akun Twitter @BuniYani menayangkan kembali video pidato itu, berikut transkrip yang tidak memuat 1 kata. Kondisi jadi makin runyam, khalayak ramai jadi heboh. Banyak orang yang melaporkan Ahok ke polisi dengan dugaan telah menista Islam. Efeknya adalah demonstrasi 4 November 2016 kemarin itu.

Timbul perdebatan di jagat maya, betulkah Ahok menista agama? Masyarakat terbelah menjadi 2 kelompok. Bagi kelompok yang satu, Ahok jelas-jelas menista agama Islam dengan penyataannya. Bagi kelompok lainnya, tidak ada penistaan dalam pernyataan Ahok. Media sosial gaduh sekali sama perdebatan ini.

Saya mah tertarik sama perdebatan soal bahasa Indonesia saja. Apa efek dari hadir dan absennya kata “pake” dalam pernyataan Ahok itu terhadap pengertian kita? Inilah inti perdebatan itu. Bagi kelompok yang satu, Ahok telah menista Islam, entah menggunakan kata “pake” maupun tidak. Argumennya bermacam-macam. Adapun kelompok sebelahnya mengatakan ada perbedaan semantis antara kalimat yang menggunakan kata “pake” dengan yang tidak. Sejauh kata “pake” hadir, tidak ada pengertian penistaan ataupun penghinaan terhadap Alquran.

Tapi yang lebih penting dari itu, ahli bahasa jadi kondang sekali kini. Kedua kelompok itu mendadak jadi pakar bahasa yang memaksakan kehendaknya. Padahal, pakar bahasa yang benar-benar pakar akan menggunakan keahliannya di pengadilan, sementara mereka di media sosial itu hanyalah jangkrik yang terlalu bising untuk didengar.

Kabarnya, pengadilan itu akan diselenggarakan secara terbuka. Semoga nanti proses pengadilannya ditayangkan dengan lengkap, saya ingin menontonnya. Saya ingin menonton videonya di Youtube juga. Dan yang terpenting, kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia semakin meningkat di negeri ini.

Harapan ini mengingatkan saya pada cerita mengenai persoalan kebahasaan yang dulu pernah dihadapi kaum Muslim dan mendorong peristiwa besar. Peristiwa itu adalah membubuhkan harakat dalam Alquran. Dalam sejarah Alquran, peristiwa itu adalah salah satu peristiwa penting yang menjadikan mushaf Alquran berbentuk seperti sekarang ini.

Alkisah, wilayah Muslim sudah mencapai banyak negara. Ia sudah luas sekali, hampir mencapai per tiga daratan bumi. Jadi wilayahnya mencapai ke negeri-negeri yang tidak berbahasa ibu Arab. Hal ini menimbulkan persoalan, yakni banyak sekali orang membaca Alquran secara keliru. Tidak hanya keliru, salah baca itu menyebabkan perubahan makna yang fatal juga.

Salah satu kesalahan fatal dalam membaca itu adalah ketika membaca surat At-Taubah ayat 3. Kata rasûluh (berharakat dlommah) secara keliru dibaca rasûlih (berharakat kasrah). Secara linguistika Arab (Nahwu), dua bacaan itu absah dilakukan, namun secara semantis maknanya jadi aneh dan problematis, sebab berbenturan dengan teologi Islam.

Seorang pembesar Dinasti Abbasiyah mendengar bacaan keliru ini, dan kemudian disepakati untuk menuliskan mushaf Alquran dengan harakat sesuai dengan standar yang dibuat oleh Khalîl ibn Ahmad al-Farahidî (718-786 M). Dengan demikian, hingga kini kita yang pengguna bukan bahasa Arab bisa membacanya dengan lebih mudah sebab inisiatif tersebut.

Inilah contoh kecil betapa problem kebahasaan bisa menghasilkan peristiwa besar dalam sejarah Islam. Nah, semoga peristiwa “pake” ini bisa menghasilkan peristiwa besar dalam Islam di Indonesia yang akan diwarisi dan dinikmati oleh generasi selanjutnya. Semoga.[]

sumber gambar: di sini

11 Replies to “Pidato Ahok dan Bahasa Indonesia”

  1. pratiwysa

    Beliau itu org besar. Sepak terjang di dunia politik tdk diragukan lg. Tentu saja beliau faham sekali apa sebab dan akibat dr salah berbahasa. Ya karena posisi itulah perkataan nya mnjd dipersalahkan. Sejauh ini kita tdk tau dan mengerti tntg praduga. Tp mungkin saja beliau sengaja berniat menistakan agama. Hanya Allah yg tau

    Reply
    1. mhilal Post author

      Setuju. Memang tidak bisa disangkal kalau Ahok adalah salah seorang politisi masa depan negeri ini 🙂

      Reply
  2. shiq4

    Klo sebagai orang awam sih saya nggak nganggep penistaan pas liat kalimat lengkapnya. Nggak ada yg salah. Yg aneh tu media kok bisa nyebarin video editan tanpa ngecek kebenaran. Dan berita2 yang nyulut emosi. Sekarang yg rame video ketua FPI yg di edit dan ternyata ucapannya ada yg mirip ahok. Tapi kok nggak di demo kwkwk…..

    Reply
    1. mhilal Post author

      Nah, setuju mas. Seng parah itu media sosial itu yang kadang menambah runyam suasana. Dan, ngomong-ngomong, Habib Rizieq Syihab sudah bikin klarifikasi soal pernyataannya di video yg viral itu. Soal kita setuju atau tidak, itu soal lain, saya kira…. 🙂

      Reply
  3. ghozaliq

    perdebatan-perdebatan yang muncul di medsos menyajikan sudut pandang yang beragam, dengan status yang berkualitas tentunya,
    malah sekarang bermunculan beragam “meme” yang membahasakan bahasa dalam gambar dengan tujuan menghindari multi tafsir

    Reply
  4. belalang cerewet

    Saya menyimak hingga akhir dan penasaran di mana posisi mas halal. Ternyata nunggu persidangan. Betul banget, medsos jadi bising. Tapi saya serius juga tertarik bagaimana nanti pakar semantik dan kalau perlu semiotik turun tangan. Ya lumayanlah, Mas. Kejadian ini jadi bikin mas bikin satu tulisan baru di Blog hehe.

    Reply
    1. mhilal Post author

      kalau soal pendirian pribadi, sy tidak melihat ada penistaan dalam pernyataan Ahok. Tapi tidak penting pendirian saya, saya lebih tertarik sama hal positif apa yang bisa dihasilkan dari ramai-ramai ini. Hal positif yang berusaha saya hasilkan ya bikin postingan yang positif. Baru sebatas itu, mas. Lumayan lah, soalnya sudah lama banget tidak nulis 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *