By | April 21, 2016

Di kitab Idzatunnasyi’in, artikel ke-30, ada sebuah  judul yang membahas tema perempuan. Berikut ini adalah ringkasannya. Nanti di belakang akan ada catatan saya pribadi.

1. Ada pepatah Arab: “mereka yang memakai rompi adalah bibi.” Yang memakai rompi adalah simbol feminine. Mereka yang memakai rompi maksudnya adalah perempuan. Jadi artinya, setiap perempuan adalah seumpama bibi. Dengan demikian, setiap lelaki harus menghormati perempuan, sebagaimana mereka harus menghormati bibinya.

2. Kondisi perempuan secara sosial—hingga kini—berbeda-beda, tergantung kepada lingkungan yang melingkupinya. Jadi perempuan juga mengalami kondisi mundur dan mulia, terhormat dan terhina, pintar dan bodoh, tergantung kepada lingkungan yang ditempatinya.

3. Perempuan tidak diciptakan kecuali agar, bersama para lelaki, beraktivitas dalam “ladang kehidupan,” meskipun masing-masing memiliki peran khusus. Peran ini tak elok jika diterobos. Kaum lelaki mencangkul tanah dan menabur benih di ladang itu. Kaum perempuan merawat benih itu, menyiramnya, serta melindunginya dari penyakit. Ladang itu adalah perumpamaan rumah tangga.

4. Jika kaum lelaki menyia-nyiakan kewajibannya, atau kaum perempuan menerobos wilayah di luar perannya (dan, pada saat bersamaan, mengabaikan kewajibannya), maka rusaklah tatanan keluarga. Implikasi lebih lanjut, jika tatanan keluarga ini rusak maka rusak pulalah urusan umat dan tiang kebangsaan. Baiknya kondisi umat dan bangkitnya bangsa tergantung kepada baiknya kondisi keluarga.

5. Baiknya kondisi kaum muda, yang merupakan tiang masyarakat, kebanyakan disebabkan oleh baiknya kondisi perempuan. Kalau mau, kaum perempuan bisa merusak kaum muda atau memperbaiki kondisi mereka. Di tangan merekalah kendali pendidikan kaum muda. Oleh karena itu, kaum perempuan haruslah terhormat, mulia, terdidik, berhias dengan akhlak yang baik. Mereka harus terampil mengelola keluarga. Mereka harus tahu kewajiban-kewajiban mereka atas macro cosmos—keluarga.

6. Kebanyakan perempuan Timur saat ini (yakni, di masa Mustafa al-Ghalayini) dan beberapa abad yang lampau telah disia-siakan. Kaum lelaki beranggapan bahwa perempuan itu tak ubahnya seperti perkakas yang bisa dipakai semau-maunya. Mereka mengira perempuan itu tercipta seperti tawanan atau budak yang hak-hak syar’i dan naturalnya boleh diabaikan begitu saja. Mereka melarang kaum perempuan untuk mengajar dan mendidik. Oleh karena itu, rusaklah kehidupan keluarga, dan dengan demikian rusak pulalah kondisi sosial.

7. Kini orang-orang Timur merasakan akibatnya. Mereka merasa lemah dan tak berdaya. Lalu bangkitlah sebagian orang yang mendapat hidayah Tuhan. Orang-orang ini serius mendidik kaum perempuan, sebab mereka yakin bahwa perempuan adalah tiang kehidupan sosial dan sandaran kebangkitan masyarakat. Hanya saja, kebangkitan ini lemah sekali. Semoga kebangkitan ini diperkuat oleh kaum muda.

8. Keterbelakangan masyarakat disebabkan oleh rendahnya perempuan, tak terdidiknya mereka serta buruknya pendidikan untuk mereka. Didiklah kaum perempuan, niscaya akan kau peroleh kebaikan-kebaikan yang mengikutinya.

9. perempuan menyia-nyiakan dan enggan kepada kewajaran dalam berpakaian, hiasan, dan lain-lain, itu karena mereka tidak belajar ilmu yang bermanfaat dan tidak terdidik dengan baik.

10. Kaum muda harus mendidik anak-anak perempuannya, jika kelak mereka sudah berkeluarga, dengan pendidikan yang baik. Dengan begitu, bangkitlah bangsa, mulialah masyarakat.

Catatan pribadi:
Mustafa al-Ghalayini menulis artikel ini lebih dari 100 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1913. Dia tidak melihat kondisi perempuan saat ini  yang, tampaknya, melebihi dari yang dibayangkannya. Peran yang dimainkan perempuan saat ini sudah merobos apa yang tampaknya dia anggap tidak boleh diterobos.

Dia membuat garis yang tegas antara peran lelaki dan perempuan. Jika kita memahami kondisi sosial di sekitar tahun 1913, kita bisa memaklumi kenapa pembedaan peran begitu penting. Di masa kini, garis pemisah peran itu sepertinya sudah  mulai cair, tidak setegas saat itu. Oleh karena itu, bagaimana mengelola keluarga tidak lagi seketat penjelasan Mustafa al-Ghalayini.

Hal lain yang harus saya catat di sini adalah bagaimana Mustafa al-Ghalayini melihat perempuan dari sudut pandang laki-laki. Misalnya tugas mendidik kaum perempuan adalah tugas lelaki. Ini pun bisa dipahami dalam konteks tahun 1913, di mana pendidikan untuk perempuan tidak seleluasa saat ini. Bahwa Mustafa al-Ghalayini meminta kaum muda mendidik perempuan dalam rangka kebangkitan umat adalah sesuatu yang menarik, sebab akses pendidikan untuk perempuan kini sudah sedemikian leluasa. []

6 Replies to “Perempuan dalam Idzatunnasyi’in”

        1. mhilal Post author

          Ah, mustahil. Buktinya tempo hari sampean menjelaskan soal iddah di komentar tulisan saya :mrgreen:

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *