By | August 7, 2016
Justice League oleh Ammon Beckstorm

Justice League oleh Ammon Beckstorm

Bulan Puasa kemarin saya membeli bukunya Prof. Yudi Latif, Negara Paripurna. Buku ini sudah lama ingin saya beli, baru kesampaian pas puasa kemarin.

Buku itu berisi serba-serbi Pancasila. Terlihat dari anak judulnya, Historisitas, Normativitas, dan Aktualitas Pancasila.

Tujuan utama saya membelinya satu: saya ingin paham sila ke-5. Bunyinya tentu sudah tahu semua, tak perlulah saya tulis ulang di sini. Kenapa cuma sila ke-5? Sebab saya pernah membaca tulisannya Pandji Pragiwaksono bahwa sila ke-5 adalah sila yang belum terwujud dengan baik di Indonesia. Saya renung-renungkan, ternyata ada benarnya juga. Sila ke-1 hingga ke-4 sudah berujud baik—meski, tentu saja, belum sempurna— di negeri kita, atau kalaupun belum, setidaknya langkah yang harus diambil untuk mewujudkannya lebih terang-benderang di benak saya. Adapun sila ke-5 masih au’ ah gelap. Saya betul-betul awam soal keadilan sosial. Apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkannya? Apa ada tahap-tahapannya? Negara apa yang harus saya jadikan model? Bagaimana konsepnya? Lingkup sosialnya kira-kira seperti apa? Dan masih banyak lagi. Dan masih banyak lagi. Masih gelap.

Terdorong oleh rasa ingin tahu itu, saya awali membaca buku ini dari penjelasan tentang sila ke-5. Jadi dimulai dari bab terakhir. Dan saya takjub. Bukan kepalang takjub. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah gagasan yang sangat luhur. Saya jadi makin terasa bahwa kehidupan saya kini, bahkan kehidupan sehari-hari saya, amatlah jauh dari keadilan sosial. Ingin rasanya saya jorokin kepala orang-orang yang bilang Pancasila tidak sesuai dengan Islam, lalu akan saya tuding mukanya: “Sebutkan, mana bagian dari Islam yang tidak mencita-citakan keadilan sosial?!”

wa bil khusus di bidang ekonomi dan pendidikan, saya merasa amat jauhnya dari keadilan sosial.

Kata Pak Faisal Basri di Kompas, 27 Juni 2016 kemarin:

Di Indonesia, ketimpangan terlihat nyata dalam penguasaan kekayaan. Sekitar 1 persen keluarga menguasai sekitar 50 persen kekayaan Indonesia. Lebih lanjut, dua pertiga dari kekayaan yang didapat kelompok paling kaya di Indonesia diperoleh dari hasil kroniisme.

Bayangkan, 1% keluarga kaya menguasai 50% kekayaan Indonesia! Berarti 50% sisanya di tangan 99% sisanya, itu pun dengan main sikut sana-sini, tackle kiri-kanan, dan saling mangsa. Tak mungkin ketimpangan besar begini adalah ujud keadilan sosial.

Belum lagi bicara soal tetek-bengek produksi-distribusi-konsumsi, inflasi, bursa saham. Praktek perburuan rente, permainan harga cukong, ribetnya birokrasi, shared economy, koperasi, kapitalisme, sosialisme, lalu entah apa lagi. Keadilan sosial makin terasa gelap di benak saya.

Di bidang pendidikan pun tak kalah runyam. Dan terkait pendidikan ini, saya menemukan tulisan Prof. Yudi Latif lagi, di Harian Kompas terbitan hari ini. Tulisan yang sangat bagus dan mencerahkan. Terima kasih buat Pak Rully Cahyono atas kesediaannya menulis ulang dan memuatnya di blognya.[]

15 Replies to “Pancasila Sila Ke-5”

    1. mhilal Post author

      Belum, mas Ical. Pas waktu beli Negara Paripurna, saya juga disodorkan buku Mata Air Keteladanan sama penjualnya. Tapi saya pikir saya selesaikan dulu Negara Paripurna, baru nanti membeli buku satunya untuk dibaca. Rasanya memang buku-bukunya Yudi Latif tergolong wajib dibaca semua.

      Omong-omong, Mas Ical sudah baca dua-duanya? Salam kenal juga, Mas 🙂

      Reply
      1. Bang Ical

        Salam kenal kembali, Mas Hilal 🙂

        Iya, keduanya sudah baca, dan dulu nabung buat koleksi. Sekarang bukunya nangkring di perpustakaan komunitas. Teman-teman di komunitas sedikit bosan baca ‘Negara Paripurna’, tapi mereka suka sama ‘Mata Air Keteladanan’, karena memang isinya lebih banyak cerita 🙂

        Reply
        1. mhilal Post author

          Wahh, dahsyatullah… sepertinya saya memang harus beli buku itu.
          Eh, mas, saya ndak bisa berkunjung ke blognya mas ical. Sepertinya, tautan di nama mas ical di tas tidak cocok. Pas saya klik, arahnya ke blog yg tidak tepat donainnya. Apa ya nama blog mas ical?

          Reply
          1. Bang Ical

            Hmmmmm, kok banyak yang gitu ya? Nanti saya coba perbaiki. Kunjungi aja ke alamat:

            bangicalku.wordpress.com

            🙂

            Reply
            1. mhilal Post author

              oh, pantesan. pengaturan akunnya keliru. Yang tertulis di sana bangical.wordpress.com, kurang “ku”-nya :p

              Reply
  1. bicara

    sebenarnya ketimpangan di Indonesia tidak lebih parah dari negara-negara lain, lagi pula kekayaan yang dimaksud itu seperti yang sering muncul di forbes dgn daftar terkaya tidak bisa mencerminkan kekayaan yang sebenarnya karena cuma nilai estimasi dan bukan uang semuanya atau aset lancar, parahnya adalah, meski pun mereka tidak besar2 amat kekayaanya kalau di banding kekayaan seluruh indonesia tapi segelintir itu bisa sangat2 berpengaruh, contohnya nih ada mantan ketum pertai yg punya bisnis tambang dst pernah jadi menko punya 2 teve dan salah satu situs berita online terbesar, yg kucrut ini gampang sekali mutusin koalisi atau ga, medianya juga sesuai selera doi sehingga penonton ya bisa terpengaruh

    Reply
    1. mhilal Post author

      Asyik, mas bukua rupanya urun rembuk di sini.
      Tidak lebih parah itu artinya normal-normal saja atau memang negara-negara lain sama buruk ketimpangannya, mas? Dilihat dari rasio gini Indonesia, trennya terus naik dari tahun ke tahun sejak reformasi. Bahkan tahun ini sudah mencapai 0,44. Jakarta sudah 0,46. Menurut mas bukua apa ini sudah tingkat ‘waspada’ ataukah masih ‘normal-normal saja’ sebab di negara lain pun rasio gininya juga serupa?

      Kalau soal si kucrut yang berlumur lumpur itu sih sepertinya kita sependapat, mas. saya sudah hampir tidak pernah menonton saluran tv-nya. Bahkan acara diskusi hukumnya yang dulu bagus itu pun sudah ndak pernah nonton lagi 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *