By | May 11, 2013

Si Paman Kecil pulang kampung. Alasan kenapa pulang kampung tidak dia sebutkan, namun asal dia mau menceritakan pengalamannya di sana, sebetulnya itu sudah sangat menyenangkan. Dia melihat peristiwa-peristiwa yang menurutnya tidak beres, namun berada di luar kemampuannya untuk diperbaiki.

Kampung halamannya adalah sebuah daerah yang masyarakatnya terbilang relijius. Di sana, perayaan dan ritual keagamaan diselenggarakan dengan penuh gairah. Nah, bisa ditebak, sekali dia menemukan ketidakberesan itu, kaitannya adalah dengan  cara beragama orang-orang sekitarnya.

Di kampung halamannya dia melihat orang-orang mendaftar berangkat haji secara berduyun-duyun, tak ubahnya seperti mendaftar caleg yang akhir-akhir ini juga tak kalah ramai. Ini tentu menggembirakan, sebab sebagaimana agama memberi tuntunan, hanya orang-orang berpunya saja yang disuruh berziarah ke Arab Saudi sana untuk menunaikan ibadah kelima ini, sementara orang-orang tidak mampu diperkenankan menyebarkan kebaikan di kampungnya saja. Bukankah ini tidak berarti lain selain orang-orang kampung halamannya sudah pada sejahtera?

Tapi tidak bagi Paman Kecil. Paman Kecil justru melihat ketidakberesan itu terletak di sini. Mendaftar haji bareng-bareng tidak serta-merta berbanding lurus dengan indeks kesejahteraan seseorang. Yang dia lihat malah keduanya tidak berhubungan blas!

Salah seorang tetangganya adalah seorang janda beranak delapan orang. Tiga di antaranya sudah berkeluarga, sisanya masih menjalani masa pendidikan dan masih menjadi tanggung jawab sang janda. Perempuan ini mendaftar naik haji dengan menjual seperempat dari sepetak tanah miliknya.

Paman Kecil melihat tindakan perempuan ini sembari menahan rasa tidak puas. Dia menyangkal tindakan perempuan itu dan dia pandang sebagai kurang bijak, sebab bagi Paman Kecil tanggung jawab membesarkan dan mendidik sisa anak-anak masih begitu berat, membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula. Rasanya eman-eman kalau duit sebegitu besar dialokasikan untuk haji, padahal di belakangnya terdapat tanggung jawab besar yang harus perempuan itu pikul. Paman Kecil tahu betul seberapa besar asset si janda, jadi dia berpandangan bahwa perempuan itu masih lebih baik mengurus dapur dulu sebelum menyeberang untuk ziarah haji. Singkatnya, kategori istithâ‘ah masih belum ada di dalam perempuan itu.

Lebih dari itu, kenyataan itu amat berseberangan dengan pendirian yang sedang Paman Kecil pegang. Paman Kecil amat tidak tertarik untuk naik haji. Baginya itu seperti membuang-buang uang untuk sesuatu yang, dalam pandangannya, kurang begitu penting. Tolong ini jangan diartikan Paman Kecil tidak suka agama. Tolong jangan sekali-kali diartikan begitu! Paman Kecil bukan orang alim, memang, tapi dia juga bukan tipikal orang yang sok tahu soal agama. Apa yang dia pikirkan itu murni berangkat dari keprihatinan yang tulus.

Menunaikan ibadah haji memang rukun Islam, itu tidak pernah Paman Kecil sangkal. Tapi, harap diingat, ibadah satu ini tidak sembarang orang bisa melakukan. Sementara itu, tanggung jawab domestik juga masih menumpuk, proyeksi dalam negeri juga tak kalah menantang. Paman Kecil selalu mencamkan dalam hatinya bahwa dia akan berangkat haji kalau urusan domestik ini, kalau proyeksi dalam negeri ini, sudah beres.

Bagaimana mungkin dia berangkat haji kalau dia masih miskin? Bagaimana bisa dia dipaksa utang sana-pinjam sini sekedar untuk ibadah haji padahal sementara seabrek tanggung jawab harus dia tinggalkan di rumahnya? Tidak mungkin. Semua itu tidak masuk akal.

Parahnya, kenyataan hadir tepat di depan mukanya dengan paras yang tidak masuk akal itu. Sebagian tetangga-tetangganya justru melakukannya! Mereka menanggung hutang untuk menyeberang ke negeri Arab, sementara utang untuk kepul asap di dapur, untuk pendidikan anak, untuk biaya kesehatan sudah tidak terhitung. Kasus si janda adalah kasus terhangat yang baru dia dengar.

Tapi, ketidakpuasan itu cuma menggumpal di dalam benaknya. Paman Kecil adalah orang yang njawani, lebih mementingkan perasaan si janda ketimbang menyatakan uneg-unegnya. Apalagi usia Paman Kecil jauh lebih muda ketimbang si janda. Bukannya dianggap, ntar omongannya malah dianggap tidak sopan, sok mengerti, sok mengajari, tidak tahu adat. Nah, repot kan?[]

4 Replies to “Paman Kecil”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *