By | August 21, 2017

pahala jima' seperti jihad

PENGANTAR

Baru-baru ini terjadi diskusi seru di sebuah grup Whatsapp antara saya dan Abdul Rosyid, salah seorang teman guru di Madrasah  Diniyah Raudlatul Ulum I Ganjaran. Diskusi itu adalah seputar Jima’ Malam Jumat. Rosyid memulai diskusi dengan bertanya:

Pertanyaan…

Sering Kita Dengar Bahwa Orang Yg Melakukan Hubungan Suami Istri Dimalam Jumat Pahalanya Sama Seperti Membunuh Orang Kafir…

Benarkan Keterangan Ini…???

Pertanyaan itu menggelitik siapapun sebab temanya seru dan memesona.

Secara sambil lalu, saya kemudian menjawab sekenanya begini: [hadis itu] lâ ashla lahû. Saya anggap itu jawaban “sekenanya”, sebab saya hanya mendasarkannya pada ingatan sambil lalu semata tanpa referensi yang jelas. Dan cara seperti itu sebetulnya kurang baik.

Dan seperti kebiasaan Rosyid yang selalu penasaran, dia mengejar jawaban itu. “Yg Mengatakan La Asla Itu Dimana…??” Tanya Rosyid. Maka dari pertanyaan susulan ini, dimulailah suatu diskusi seru.

Tulisan berikut adalah rangkuman dari diskusi tersebut. Di bagian akhir, akan dicoba dijelaskan posisi saya dan Rosyid mengenai jawaban dari pertanyaan di atas. Tulisan ini tidak lebih agar peristiwa tersebut terdokumentasikan.

HADIS DALAM KITAB IHYA’

Dari manakah ada penjelasan bahwa pahala bergaul suami-istri di malam Jumat sama dengan memerangi orang kafir? Rosyid mengajukan jawaban, yakni dari kitab Ihya’ Ulumiddin-nya Imam Abû Hâmid al-Ghazalî. Di dalam kitab itu, Imam Al-Ghazalî menyebutkan sebuah hadis (selanjutnya disebut Teks 1):

ولما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل

Artinya: Karena (ada) hadis yang diriwayatkan dari Nabi SAW. bahwa seseorang hendaknya menjima’ istrinya, hingga dicatat untuknya berkat jima’nya pahala seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah kemudian dia terbunuh (mati syahid).

Di sinilah titk mula diskusi itu mulai seru. Saya menunjukkan takhrij dari Syaikh Al-Irâqî bahwa hadis itu tidak ditemukan sanad sama sekali olehnya. Lam ajid lahû ashlan, kata syaikh Al-Irâqî dalam Takhrîj Ahâdîts al-Ihya‘-nya. Dengan demikian, hadis itu tidak bisa dijadikan dasar apapun, sebab ia tidak memenuhi syarat sebagai hadis.

Namun Rasyid menunjukkan argumen berbeda. Dia mendapati bahwa Syaikh Az-Zabidi, dalam syarah Ihya’, mengatakan bahwa hadis di atas memiliki asal. Pernyataannya ini dicantumkan dalam Takhrîj Ahâdits Ihya’ Ulum ad-Dîn yang mencantumkan tiga takhrîj dari Al-Irâqî (725-806 H.), Ibn as-Subkî (727-771 H.) dan Az-Zabîdî (1145-1205 H.) Begini teks yang disodorkan oleh Rasyid (selanjutnya disebut Teks 2):

ﻳﺮﻭﻯ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇﻥ اﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺠﺎﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ ﺃﻱ ﺣﻠﻴﻠﺘﻪ ﻓﻴﻜﺘﺐ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺟﻤﺎعه ﺫﻟﻚ ﺃﺟﺮ ﻭﻟﺪ ﺫﻛﺮ ﻗﺎﺗﻞ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻓﻘﺘﻞ ﻗﻴﻞ ﻛﻴﻒ ﺫﻟﻚ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻧﺖ ﺧﻠﻘﺘﻪ ﺃﻧﺖ ﺭﺯﻗﺘﻪ ﺃﻧﺖ ﻫﺪﻳﺘﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﺤﻴﺎﻩ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﻤﺎﺗﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﺑﻞ اﻟﻠﻪ ﺧﻠﻘﻪ ﻭﻫﺪاﻩ ﻭﺃﺣﻴﺎﻩ ﻭﺃﻣﺎﺗﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﺄﻗﺮ ﻗﺮاﺭﻩ ﻫﻜﺬا ﻫﻮ ﻓﻲ اﻟﻘﻮﺕ ﺑﺘﻤﺎﻣﻪ
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻌﺮاﻗﻲ: ﻟﻢ ﺃﺟﺪ ﻟﻪ ﺃﺻﻼ اﻩـ
ﻗﻠﺖ: ﺑﻞ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺫﺭ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎء ﺣﺪﻳﺚ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓﻀﻌﻪ ﻓﻲ ﺣﻼﻟﻪ ﻭﺟﻨﺒﻪ ﺣﺮاﻣﻪ ﻭﺇﻗﺮاﺭﻩ ﺷﺎء اﻟﻠﻪ ﺃﺣﻴﺎﻩ ﻭﺇﻥ ﺷﺎء ﺃﻣﺎﺗﻪ ﻭﻟﻚ ﺃﺟﺮ ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﻣﺴﺘﺪﻻ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﻟﻌﺰﻝ
ﻗﺎﻝ اﺑﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ: (6/ 311) ﻟﻢ ﺃﺟﺪ ﻟﻪ ﺇﺳﻨﺎﺩا.

Penjelasan dari teks di atas: Syaikh Al-Irâqî memang tidak menemukan dasar/sanad dari teks hadis yang disebut Imam Al-Ghazâlî di atas, namun Syaikh Az-Zabîdî menemukannya dalam kitab Al-Qût dalam redaksi yang lebih lengkap. Jadi Teks 1 di atas hanyalah penggalan dari hadis yang lebih panjang. Dan bila dicantumkan teksnya yang lengkap, hadis itu memiliki kemiripan dengan hadis di dalam kitab Sahih Ibn Hibbân dalam bab ‘azl (mencabut alat kelamin lelaki dari alat kelamin perempuan tepat sebekum ejakulasi). Jadi, menurut Az-Zabîdî, hadis riwayat Ibn Hibbân itu bisa dijadikan dasar terhadap Teks 1 di atas.

Rasyid lalu menambahkan:

Dalam Kajian Hadits Yg Mene[m]ukan Sanad Lebih Didahulukan Dari Pada Yg Tidak Menemukan. Dalam Hal Ini Lebih Mendahulukan Informasi al-Zabidi D[a]r[i] P[a]d[a] al-Iroqi.

Dengan demikian, berdasarkan temuannya ini, Rasyid menganggap bahwa pandangan umum mengenai pahala pergaulan suami-istri yang serupa dengan jihad melawan orang kafir memiliki dasar dalam hadis. Dan hadis yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazâlî di ataslah (Teks 1) dasarnya.

DISKUSI SEPUTAR REDAKSI.

Namun saya masih tetap pada pendirian saya, yakni Teks 1 di atas lâ ashla lahû. Kenapa demikian? Sebab dalam pandangan saya, meskipun Syaikh Az-Zabidi menemukan redaksi lengkap dalam kitab Al-Qût dan sanad dalam Sahîh Ibn Hibbân, namun hadis yang dicantumkan oleh Ibn Hibbân relatif berbeda dengan Teks 1.

Hadis lengkap yang ditemukan oleh Syaikh Az-Zabîdî adalah sebagai berikut (selanjutnya disebut Teks 3):

وكان ابن عباس رضي الله عنه يقول العزل هي الموؤودة الصغرى فلقوله هذا استنباط حسن من السنة، وذلك أنه روي عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الجماع: أن الرجل ليجامع أهله فيكتب له من جماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله عز وجل فقيل له: وكيف ذلك يا رسول الله؟ فقال: أنت خلقته، أنت رزقته، أنت هديته، إليك محياه إليك مماته. قالوا: بل الله خلقه ورزقه وهداه وأحياه وأماته. قال: فأنت تراه في هذا المعنى في يقول: إذا جامعت فأمنيت في الفرج. وقد قال الله تعالى: (أفرأيتم ما تمنون أأنتم تخلقونه أم نحن الخالقون) الواقعة: 58. فإذا لم يخلق الله من منيك خلقا حسب لك كأنه قد خلق منه ذكرا على أتم أحواله وأكمل أوصافه بأن يقاتل في سبيل الله، فيقتل لأنك قد جئت بالسبب الذي عليك وليس عليك خلقه ولا هديته، وإنما يقدر على ذلك الله عز وجل وهو فعله مجردا فكان لك أجر ما لو فعله الله تعالى إذا قد أتيت بما أمكنك عمله، فلذلك قال ابن عباس: هو الموؤودة الصغرى لأنه يوجد العزل بعدم هذا الفضل، اهـ .

Menurut Syaikh Azzabidi, redaksi  di atas senada dengan hadis riwayat Abû Dzarr dalam Sahih Ibn Hibbân (selanjutnya disebut Teks 4):

أخبرنا ابن سلم ، قال : حدثنا ابن حرملة ، قال : حدثنا ابن وهب ، قال : أخبرني عمرو بن الحارث أن سعيد بن أبي هلال حدثه ، عن أبي سعيد مولى المهري ، عن أبي ذر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لك في جماع زوجتك أجر » فقيل : يا رسول الله وفي شهوة يكون من أجر قال : « نعم أرأيت لو كان لك ولد قد أدرك ثم مات أكنت محتسبه ؟ » قال : نعم قال : « أنت كنت خلقته؟ » قال : بل الله خلقه قال : « أنت كنت هديته؟ » قال : بل الله هداه قال : « أكنت ترزقه؟ » قال : بل الله كان رزقه ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « فضعه في حلاله وجنبه حرامه وأقرره فإن شاء الله أحياه وإن شاء أماته ولك أجر »

Nah, bagi saya hadis dalam Sahîh Ibn Hibbân (Teks 4) ini memang memiliki redaksi yang mirip dengan Teks 3. Namun perlu diingat, Imam Al-Ghazali dan Az-Zabidi membuat keterangan mengenai hadis ini adalah dalam hal ‘azl, dan bukan di bidang fadilah pergaulan seksual antara suami-istri. Menurut saya, Teks 4 bisa dijadikan dasar bagi Teks 1 dan Teks 2 hanya di dalam masalah ‘azl semata, dan tidak bisa dijadikan dasar dalam fadilah jima’. Alasan saya adalah sebagai berikut:

  1. Imam Al-Ghazali mencantumkan hadis Teks 1 di atas ketika menjelaskan persoalan ‘azl semata. Di tempat lain dalam kitab Ihyâ’, Imam Al-Ghazali membuat penjelasan tentang fadilah pergaulan suami-istri, namun sedikitpun dia tidak menyebutkan hadis Teks di atas, kemungkinan besar karena dia tahu bahwa hadis Teks 1 di atas lâ ashla lahû di bidang pergaulan suami-istri.
  2. Syaikh Az-Zabîdî sendiri sudah menyebutkan bahwa hadis Teks 4 dan Teks 3 ini berbicara masalah ‘azl. Dia mengatakan bahwa Ibn Hibbân menyebutkan hadis ini di dalam masalah ‘azl, bukan di dalam masalah fadilah pergaulan seksual suami-istri (مستدلا به على تحريم العزل).
  3. 3. Penggalan awal dari hadis Teks 3 dan Teks 4 memiliki kandungan makna yang berbeda secara signifikan. Coba bandingkan dua teks berikut:

١- «إن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل»

٢- «لك في جماع زوجتك أجر»

Yang nomor satu berbicara secara terperinci bahwa pahala hubungan seksual suami-istri sama seperti berjihad fi sabîlillâh, sedangkan yang kedua hanya mengatakan bahwa hubungan seksual suami-istri berganjar pahala. Bagaimana bisa dua hal di atas dianggap sama? Oleh karenanya, bagi saya, nomor 2 tidak bisa dijadikan asal bagi nomor 1.

PANDANGAN ROSYID

Namun, lagi-lagi, Rosyid punya pandangan berbeda. Begini pandangannya:

Hadis yang ada di Ihyâ’ ini (Teks 1):

يروى عن النبي صلى الله عليه وسلم أن الرجل ليجامع أهله فيكتب له بجماعه أجر ولد ذكر قاتل في سبيل الله فقتل

Hadis di atas dikomentari oleh Al-‘Irâqî:

وقال العراقي: لم أجد له أصلا, اهـ.

Pernyatanyaan Al-‘Irâqî kemudian ditanggapi oleh Az-Zabîdî begini:

قلت: بل له أصل من حديث أبي ذر يقول فيه في أثناء حديث قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فضعه في حلاله وجنبه حرامه  فأقر إقراره فإن شاء الله أحياه وإن شاء أماته ولك أجر أخرجه ابن حبان في صحيحه مستدلا به على تحريم العزل.

Posisi Az-Zabîdî dalam kasus ini adalah memberikan kritikan terhadap Al-‘Irâqî yang mengatakan lâ ashla lahû. Untuk membuktikan pernyataannya Az-Zabîdî mengutip hadis Ibn Hibbân yang secara substansial semakna dengan hadis di Ihyâ’.

Sebab dalam mekanisme takhrîj, kalau tidak ditemukan hadis yang sama lafazny, maka dicarikan alternatif hadis lain yang memiliki substansi yang sama walaupun redaksinya berbeda.

Apa yang dinyatakan Az-Zabîdî benar. Sebab hadis yang di Ihyâ’ secara substansi[al] sama dengan yang [di dalam kitabnya] Ibn Hibbân, yakni Jima’ memiliki nilai pahal.

KESIMPULAN

Saya rasa, dari paparan argumen masing-masing di atas, kiranya sudah memadai untuk ditarik kesimpulan dari diskusi di atas. Kesimpulan ini mencakup persamaan dan perbedaan antara pandangan saya dan pandangan Rosyid.

Persamaan pandangan antara kami berdua adalah sebagai berikut:

  1. Kami sama-sama sepakat bahwa pergaulan seksual suami-istri mengandung pahala.
  2. Kami berpandangan sama bahwa Az-Zabîdî mengoreksi pandangan Al-‘Irâqî mengenai hadis Teks 1 yang tercantum sepenggal di dalam Ihyâ’.

Adapun persimpangan pandangan antara saya dan Rosyid adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Rosyid, Ashlun (dasar hadis) yang dimaksud oleh Az-Zabîdî mencakup keseluruhan hadis Teks 3, sedangkan menurut saya ashlun itu hanya mencakup bagian akhir dari hadis itu (bagian yang menjelaskan ‘azl). Alasannya adalah poin nomor 2.
  2. Menurut saya, substansi keduanya berbeda jauh. Yang pertama menjelaskan secara rinci apa bentuk pahalanya, adapun yang kedua hanya menyebutkan bahwa hubungan seksual suami-istri bernilai pahal.
  3. konsekuensinya, menurut saya tidak benar bahwa pahala hubungan seksual suami-istri seperti jihad fî sabîlillâh. Bagi Rosyid, ini adalah benar.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *