By | April 10, 2017

monumen gondanglegiiDi Gondanglegi, di ujung Timur Jl. Kiai Ahmad Dahlan, ada sebuah monumen yang agak terlantar. Betul, agak terlantar karena seperti teronggok di situ tanpa ada yang peduli. Orang-orang berlalu lalang di situ tanpa menoleh padanya sedetikpun.

Saya mampir ke sana (8 April 2017) untuk sekadar melihat-lihat. Sudah bertahun-tahun hidup di kecamatan ini, tapi baru sekali itu saya mengunjunginya, seolah ia hanya tumpukan material tanpa guna.

Saya melihat ada dua buah prasasti menempel di dinding tugu itu. Baiklah, saya harus memotretnya, buat dibaca-baca nanti dan menelusurinya di internet. Siapa tahu ada informasi menarik yang bisa diketahui dari monumen itu.

Di prasasti pertama, tertulis catatan berikut:

MONUMEN

Pasukan Mobile Brigade (Mob-Brig) Polisi Keresidenan Gondanglegi semasa Perang Kemerdekaan II, 19 Desember 1948-27 Desember 1949.

Diresmikan pada tanggal 23 Juni 1996
oleh
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur

Drs. H. Sumarsono, SH., MBA.
Mayor Jendral Polisi

Di prasasti berikutnya, tertulis catatan berikut:

KENANGAN

Pasukan Mobile Brigade Polisi Keresidenan Malang Bersama Rakyat dari tanggal 04 Januari 1949 s/d 07 Januari 1949 telah berhasil menghalau musuh (Belanda) yang menduduki Gondanglegi.

prasasti monumen gondanglegiJadi itu adalah monumen untuk perjuangan kemerdekaan jilid 2, yakni ketika Belanda melakukan agresi militer untuk merebut kembali Hindia Belanda. Monumen itu mengenang peperangan yang terjadi selama 3 hari itu di Gondanglegi tempo dulu.

Apa yang terjadi waktu itu? Sayangnya saya tidak menemukan penjelasan memadai di Google. Berhalaman-halaman kubolak-balik, tidak kunjung kudapati keterangan tentang peristiwa yang diabadikan oleh monumen itu. Baru sekarang kudapati ternyata Google tidak mahatahu.

Di kisaran waktu perang kemerdekaan ke-2 itu kudapati penjelasan tentang Mayor Hamid Roesdi, salah satu pahlawan kemerdekaan di Malang. Di waktu itu, Hamid Roesdi pernah bermarkas di Turen, kecamatan sebelah timur Gondanglegi. Tapi apakah Mobile Brigade yang dimaksud monumen itu dipimpin oleh Hamid Roesdi, tidak ada keterangam sama sekali di internet.

Selanjutnya, prasasti kedua dari monumen itu menyebut “bersama rakyat”, tidak jelas siapa maksudnya. Apakah rakyat secara umum, ataukah laskar-laskar non militer juga ikut, misal Laskar Hizbullah? Jika betul, berarti para santri juga punya peran dalam perebutan Gondanglegi dari pendudukan Belanda.

Mengamati monumen itu membuat banyak pertanyaan-pertanyaan tentang sejarah lokal ini berputar-putar di kepalaku. Rasa-rasanya, ini cuma perasaan saya lho ya, sejarah lokal semacam itu layak diteliti lebih jauh. Hitung-hitung buat menambah wawasan lokal. Biar di kepala ini tidak cuma berisi Jakarta!

Siapapun yang mengerti sejarah monumen itu dan kebetulan membaca tulisan ini, sudilah kiranya memberitahu saya. Tidak perlu menjelaskannya secara panjang lebar, cukup kasih tahu saya buku atau dokumen yang bisa saya baca. Saya suka baca buku kok. Atau misalnya ada saksi sejarah yang bisa saya wawancarai, tolong kasih tahu.[]

30 Replies to “Monumen Gondanglegi”

  1. yahxyz

    njenengan tahu perpustakaan umum yang ada di kepanjen?
    di utaranya Polres Kepanjen. sebelum pertigaan.

    Reply
        1. mhilal Post author

          Kalau nanti (dan semoga) bang ical lanjut kuliah di malang, kita harus kopdarΒ² bang. Haha

          Reply
    1. mhilal Post author

      Nah, itu memang sedang saya cari, mbak umi. Di gondanglegi tdk ada perpusnya, maklum daerah pelosok. Mungkin di perpus kota malang. Nanti klo pas berkunjung ke sana akan coba sy cari hehe

      Reply
      1. umisholikhah

        Maksud saya perpusda kota Malang juga Mas, hehe. Kecamatan jarang yg ada perpusnya, (kec. saya juga ga ada perpusnya sih..pelosok juga ya ini )kalaupun ada tak selengkap perpusda.
        Semoga nemu Mas, biar terpecahkan misterinya πŸ˜€

        Reply
        1. mhilal Post author

          Oh, gitu. Mantap jaya. Oh iya, di dekat RSI itu ada taman makam pahlawan. Saya berencana berkunjung ke sana, siapa tahu ada hubungannya. Nanti tak ceritakan lagi di blog ini 😊

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *