By | Januari 31, 2017

Novel_tere_liye

Ini sebetulnya soal selera saja. Jika ada penggemar Tere Liye melihat gambar di atas, anggap saja kita cuma beda selera, tidak kurang tidak lebih.

Tapi tulisan di gambar itu bukan tulisan saya. Ponakan saya, yang kini sedang sekolah kelas VI Madrasah Ibtidaiyah, menulis penilaian kejam itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia dengan tegas memberikan tulisan semacam itu.

Saya belum membacanya, memang, namun secara garis besar novel-novel Tere Liye memang bukan bacaan favorit saya. Singkat kata, penilaian ponakan saya itu sejalan dengan kesan saya terhadap tulisan Tere Liye, kendati sebenarnya saya tak setegas dan sekejam itu. Dalam benak saya, Tere Liye tidak memberikan tulisan yang cocok buat selera bacaan saya. Itu saja.

Saya hanya membaca dua bukunya, yakni Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk. Dan dari dua novel itu saya sudah menangkap kesan kurang cocok itu. Gaya berceritanya tak memberikan suatu pleasure kepada saya. Saya akui tulisannya memang tidak murahan, tapi tetap saja tidak cocok ke selera saya. 

Dari situ, saya mulai memutuskan bahwa membaca novel-novelnya saya coret dari prioritas saya. Artinya, saya masih bersedia membacanya suatu saat nanti, tapi kalau ada bacaan lain saya akan menyisihkannya dan memilih yang lain itu. Kulihat, banyak juga teman-teman di sini yang mengoleksinya, kesempatan meminjamnya sangat memungkinkan. Hanya saja, ya itu, banyak buku yang mendesak harus saya selesaikan akhir-akhir ini. Saya belum tertarik mendatangi teman-teman untuk meminjam novel-novel Tere Liye.

Pernah suatu hari saya lihat Tere Liye menulis status FB (1 Maret 2016) tentang para pahlawan negeri ini. Begini lengkapnya.

Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.

*Tere Liye

Nah, pernyataan ini menurut saya sarat sesat pikir, tak mengerti sejarah, dan ya … konyol juga. Sejak itu, novel-novelnya menjadi makin jauh dari daftar prioritas saya. Penulis tanpa kesadaran sejarah itu perlu disayangkan juga, apalagi penulis buku-buku terlaris, sebab anugerah itu bisa sangat berpengaruh dan berguna buat pembacanya, terutama dalam bidang wawasan sejarah yang terbilang suram nasibnya di negeri ini.

Barangkali kurang adil juga membuat keputusan mengenai novel-novel Tere Liye dengan alasan yang saya sebut di atas. Tapi sekali lagi, saya menganggap ini adalah soal selera saja. 

Kembali ke tulisan ponakan dalam gambar di atas, saya harus akui komentarnya polos dan tanpa pretensi mendiskreditkan siapapun, wabil khusus penulisnya. Saya unggah di sini sekadar ingin bercerita bahwa kami sependapat dalam kadar tertentu. Itu saja.[]

13 Replies to “Menilai Novel Tere Liye”

  1. Romlie Fj

    Hanya muncul untuk menshohihkan akan sarasinya pemahaman saya dengan penulis. serta mentaqlid tulisan emas ini. Selebihnya, mantap.

    Reply
  2. BigBangJoe

    saya setuju. tp nampaknya penulis ini sangat produktif ya. nampaknya banyak sekali karyanya yg terbit dalam waktu yg sangat singkat.

    Reply
    1. mhilal Post author

      Betul. Bahkan hingga kini, sudah terbit novelnya yang terbaru. Facebooknya pun tetap aktif, update setiap harii….

      Reply
      1. BigBangJoe

        sangat salut dengan produktivitasnya, sampai setiap kali ke toko buku kayaknya sering bgt kaget karena tau2 sudah ada judul baru lagi.
        bahkan judul baru sudah muncul tak lama setelah selesai bikin trilogi… luar biasa luapan ide nya, tp kalo kualitas ya belum tentu…
        namun nampaknya kualitas sangat ditentukan oleh selera pembaca, kalo suka pasti dibilang bagus – no matter what.

        Reply
        1. mhilal Post author

          Wah, sampean sepertinya rajin ke toko buku ya. Saya memang kadang ke toko buku (rata-rata sebulan sekali), tapi memang novelnya terpampang di tumpukan depan pintu, secara eksklusif pula, meminggirkan buku lain. Pemandangan yang “sad but true” hehe

          Reply
          1. BigBangJoe

            hahaha cukup rajin. sebulan bisa 3-4 kali meski tak selalu beli buku, hanya perasaan senang jika melihat buku berjejer.

            betul bgt. bukunya bahkan bisa memenuhi satu bagian sendiri dalam satu rak! hahaha

            Reply
  3. cinta1668

    Cinta jg spendapat mas Hilal, memang sih tulisan Tere Liye itu ga kacangan tp tetap sja. Bagi Cinta ada kesan berat saat dibaca, mending baca novel teenlit saja semacam novelnya Winna efendi yg jelas2 lbh hangat diksinya dan lebih enak utk dicerna bahasanya. 😁
    FYI, Cinta ga prnh selesai bca novel Tere Liye, krn kesan prtama oas baca kurang pasa saja dg selera maka Cinta tinggalkan hehe

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *