By | May 17, 2017

Baru saja selesai menghabiskan Novel Hujan Bulan Juni, kini saatnya menyantap George Orwell, Animal Farm. Dua buku itu saya pinjam dari Jhon, satu di antara secuil lelaki skripsi yang sedang menyintas status kemahasiswaannya.

Saking terkenalnya, di dalam Bahasa Indonesia novel ini sudah diterjemahkan oleh lima orang berbeda, dari tahun berbeda-beda. Yang paling awal adalah terjemahan Joesoef Soe’yb, judulnya menjadi Kisah Pertanian Hewan (1963). Adapun novel yang saya pegang ini adalah versi terjemahan Mahbub Junaidi, judulnya dia putuskan menjadi BinatangismeKarena Mahbub Junaidilah buku ini saya pilih untuk dibaca.

Kenapa Mahbub? Tentu saja karena gaya menulisnya yang dekil. Sudah sejak lama saya menyiarkan kegemaran saya pada gaya menulis Mahbub. Terjemahan Mahbub juga cakep. 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia, buah tangan Michael H. Hart, adalah salah satunya. Jika kau jeli, kentara sekali bahwa gaya Mahbub kental sekali dalam terjemahannya. Hart jelas punya peran dalam buku itu, namun Mahbub Junaidi seperti mendesak-desak masuk dalam baris-baris tulisan, tanpa sedikitpun membuat pembaca terganggu.

Itulah kepiawaian dan kedekilan Mahbub. Dan ulah itu dia ulangi kepada novel Animal Farm. Tanpa beban mencoreng muka George Orwell, Mahbub menerjemahkannya dengan seenaknya, menyikat sekat bahasa tanpa ampun, lalu memilih judul Binatangisme. Bahkan Mahbub tega menambah teks yang tidak ada sama sekali dalam novel bahasa Inggrisnya. Ugal sekali dia.

Contohnya, sejak paragraf pertama sekalipun dia sudah menunjukkan ulah itu. Ini adalah paragraf awal dari teks Animal Farm bahasa Inggris:

Mr. Jones, of the Manor Farm, had locked the hen-houses for the night, but was too drunk to remember to shut the popholes. With the ring of light from his lantern dancing from side to side, he lurched across the yard, kicked off his boots at the back door, drew himself a last glass of beer from the barrel in the scullery, and made his way up to bed, where Mrs. Jones was already snoring.

Lalu, coba perhatikan bagaimana dengan berakrobat Mahbub mengalihbahasakannya:

Tuan Jones pemilik perternakan “MANOR”. Malam itu ia baru mengunci kandang ayam. Karena kelewat mabuk, ia lupa menutup lubang kunci tempat ayam keluar-masuk. Menggenggam lampu minyak yang sinarnya berayun kian-kemari, ia terhuyung-huyung melintasi pekarangan, menendang pintu belakang rumahnya dengan sepatu bot, meneguk habis gelas bir penghabisan, kemudian membuang diri ke tempat tidur. Nyonya Jones–tentu saja istrinya–sudah lama mendengkur. Bibirnya mencong, setitik ingus melekat di lubang hidungnya.

Pertama, Mahbub berakrobat dalam pilihan kalimat. Perhatikan, titik dan koma dalam terjemahan berbeda jauh dengan buku bahasa Inggris. Tanda baca baru pun bercokol di tempat tertentu. Orwell hanya memuat dua kalimat dalam paragraf pertama itu, sementara Mahbub menyulapnya menjadi enam kalimat!

Kedua, Mahbub tidak taat pada bahasa Orwell, bahkan cenderung mengkhianatinya. “Mr. Jones, of the Manor Farm….” bagaimana bisa terjemahannya jadi “Tuan Jones pemilik perternakan Manor“? Kemudian “With the ring of light from his lantern dancing from side to side….” mosok boleh diterjemahkan menjadi “Menggenggam lampu minyak yang sinarnya berayun kiankemari….”? Di novel Bahasa Inggris, yang dancing adalah lantern, sementara Mahbub mengubahnya menjadi sinar lampu minyak yang berayun kiankemari. Ini pembelotan yang nakal.

Ketiga, Mahbub suka membuang detil yang disampaikan oleh Orwell. Misal penjelasan beer, Orwell menambahkan “from the barrel in the scullery….” Tapi seperti tanpa beban, Mahbub mencoretnya dari terjemahan, seolah detil itu hanya hal remeh yang tidak penting. Atau kata where, dari anak kalimat “where Mr. Jones was already snoring.” Tanpa kenal ampun Mahbub coret juga.

Keempat, Mahbub suka menambah-nambah detil yang sebetulnya tidak ada dalam teks bahasa Inggris. Dia menambah penjelasan “tentu saja istrinya,” padahal tidak ada di teks Inggrisnya. Juga dari mana dia dapat “Bibirnya mencong, setitik ingus melekat di lubang hidungnya.” selain dari imajinasinya sendiri? Imajinasi Mahbub telah merongrong teks aslinya dengan kejam namun kreatif.

Sejak paragraf pertama saja pembaca sudah disuguhi tiga hal itu, apalagi bila membacanya terus hingga titik penghabisan. Entah apa nanti yang akan ditemui lagi. Hal-hal mengejutkan tentunya.

Membaca Animal Farm versi terjemahan Mahbub Junaidi ini saya jadi kepikiran soal dilema terjemah. Di satu sisi, penerjemah dituntut menyampaikan pikiran penulis, yang disampaikan dalam bahasanya, ke dalam bahasa terjemahan. Tuntutan ini mengharuskan penerjemahnya menyingkirkan subjektivitas demi penulis teks asal.

Namun yang begitu itu kan sulit–untuk tidak mengatakan mustahil. Kalaupun ternyata penerjemah sepenuhnya patuh pada bahasa teks asli persis seperti apa adanya, hasilnya mesti tidak enak dan kaku sebab cita rasa bahasanya pasti tidak Indonesia banget.

Di sisi lain, bila penerjemah berusaha mengikuti cita rasa Bahasa Indonesia, risikonya adalah hilangnya cita rasa bahasa asal yang bisa jadi merupakan bagian dari pesan yang penulisnya mau sampaikan. Pada titik inilah, kita bisa mengamini kata Nur Cholis Madjid bahwa menerjemah adalah pengkhianatan. Dan Mahbub ini tidak peduli. Dia adalah tipikal penerjemah yang tidak mementingkan cita rasa bahasa asalnya. Dan itulah sisi menarik dari Mahbub.

Eh tapi ini saya baru baca. Jadi sebaiknya saya teruskan saja membaca buku ini, bukunya George Orwell sekaligus bukunya Mahbub Junaidi.[]

12 Replies to “Membaca Mahbub Atau Orwell”

    1. mhilal Post author

      Sebagai eksperimentasi boleh dicoba, tapi jangan sekali-kali dianggap sebagai kiblat final. Kiblat final cuma ka’bah *bukan soal partai lho*

      Reply
  1. shiq4

    Klo saya malah lebih menyukai terjemahan teks asli yg gak jauh beda. Soalnya klo mesti dipelajari, kita mesti mwrujuk pada teks asli yg tidak banyak perubahan. George orwel kan penulis besar, saya sudah sering mendengar namanya disebut-sebut.

    Reply
    1. mhilal Post author

      Ada benarnya juga, Mas shiq4. Saya cuma karena senang saja sama penerjemahnya, makanya jadi begitu tulisannya, hehe

      Reply
  2. BigBangJoe

    mantaaaab!!!
    terjemahan memang selalu menjadi “masalah” ya, karena ga semua hal dapat diterjemahkan begitu saja, yang ada malah bikin bingung… Saya setuju bahwa ada saatnya untuk menambahkan sesuatu pada teks asli supaya maknanya bisa jadi mengena, meski memang akhirnya jadi seperti “mengkhianati” sang penulis asli. Tapi buat saya lebih baik begitu daripada ga bisa menyampaikannya dengan baik… Ada beberapa buku terjemahan yg sudah membuat saya kecewa (4 buku nampaknya), makanya saya memutuskan utk membeli buku dalam teks aslinya – paling tidak terjemahan dalam bahasa inggris, demi bisa menyerap maknanya secara lebih mendetail. Meskipun saya jadi cape bacanya karena harus sambil buka kamus tapi paling tidak saya bisa mendapat gambaran yg lbh sesuai deh…

    Reply
    1. mhilal Post author

      Eh, sekarang sudah ndak perlu buka-buka kamus lagi, Bang Joe, tp pencet-pencet di ponsel, hehe

      Setuju, Bang. Kadang emang ada beberapa terjemahan yang bikin kesal. Ngomong-ngomong, 4 buku yang bikin Bang Joe kecewa itu sudah diceritain di blog belum? 😀

      Reply
      1. BigBangJoe

        Tapi kan tetep disebutnya “buka aplikasi”, jadi tetep buka kamus dong ya hahahahaa… Aku ga berani ceritain keempat buku itu soalnya mengecewakan buatku kan belum tentu buat orang lain juga, apalagi yang menerjemahkan “bukan orang sembarangan”, jadi aku rasa aku aja yg blo’on karena ga ngerti… Sama ada 1 majalah yang dapet lisensinya dari amerika jadi selalu memuat juga artikel utama dari majalah amerikanya. nah terjemahannya cukup memusingkan buatku… etapi mengenai buku yg mengecewakan itu nampaknya aku pernah menyebutkan judulnya deh hehehehehe

        Reply
  3. Pingback: Kolom Demi Kolom | KURUSETRA

  4. azizatoen

    Kok aku ketawa bacanya kak Hilal, jadi tertarik pengin baca 😂
    Coba esok lusa aku cari bukunya di gramed deh 😂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *