By | May 28, 2016

Dia sudah jadi bintang Matematika sejak masih sekolah. Setelah itu dia kuliah di bidang Matematika Murni. Kini sudah strata 2 di bidang yang sama.

Lebih asyiknya lagi, lelaki ini juga serius belajar agama. Sejak sekolah sudah hafal Alquran dari A sampai Z. Selama kuliah, dia selalu men-taqrir (membaca Alquran di luar kepala agar tetap ingat) setiap habis salat. Dulu dia selalu melakukannya dengan hatam tiap minggu.

Gabungan Matematika Murni dan agama itu membuatnya bisa berbicara tentang banyak hal yang menarik. Dia sering mengajakku mengobrol tentang berbagai tema yang memungkinkanku ikut nimbrung obrolannya. Aku di bidang Filsafat dan dia di bidang Matematika Murni. Ya sudah, akhirnya kami sering bicara Kosmologi atau Fisika Teoretis.

Kini, di jenjang pendidikan strata 2-nya, dia sudah menggarap Tugas Akhir. Judulnya adalah…. ah, saya lupa, meski sudah dia sebutkan lebih dari dua kali. Intinya, sebagaimana dia ceritakan berulang-ulang, isi penelitiannya berkisar soal penyelesaian integral. Lebih dari itu, saya tidak bisa jelaskan lagi.

***

Kini, matematikawan ini sedang galau. Bukan galau karena perempuan, tentu saja. Ini adalah galau yang benar-benar serius. Dia galau mengenai hal yang terbilang fundamental dalam hidup: spiritualitas.

Kegalauannya itu bisa dijelaskan begini. Awalnya adalah pertanyaan “Apa sebetulnya manfaat dari pengetahuannya tentang Matematika yang ndakik-ndakik itu?” Seperti topik TA yang sedang dia garap sekarang ini, integral di TA-nya itu tidak diajarkan di sekolah sebab konsepnya adalah pengembangan terkini dan tidak akan bisa dipahami oleh anak usia SMA. Bahkan juga terbilang sulit bagi orang dewasa yang tidak mendalami bidang Matematika.

Aku tentu berusaha menenangkannya. Kubilang bahwa manfaat teori Matematika Murni untuk khalayak luas acap kali ditemukan beberapa saat setelah teori itu ditemukan. Tidak langsung ketahuan manfaatnya begitu saja. Albert Einstein saja dicemooh ketika menemukan perhitungan Relativitas. Baru beberapa saat kemudian temuannya itu diakui dan dia pun lalu dikagumi banyak orang.

Entah apa yang dia rasakan setelah kuberi penjelasan itu, apakah merasa ada ketenangan tertentu atau malah makin galau. Namun, saat itu dia menyebutkan kegalauannya yang lain. Dia adalah penghafal Alquran. Dia men-taqrir hafalannya setiap sehabis salat sehingga bisa khatam sekali seminggu. Tapi akhir-akhir ini kemalasannya makin tak terkendali. Meski masih bisa khatam, namun sudah tidak lagi bisa seminggu sekali. Dia jadi takut, kemalasan itu akan merusaknya, namun ia makin tak terbendung dan menjadi-jadi.

Tampaknya, ada banyak keburukan yang sering dia lakukan akhir-akhir ini. Namun keburukan apa, aku tidak bisa menebak. Dia rupanya merasakan beban pikiran tertentu yang berefek pada berbagai pikiran yang tidak perlu. Dan itu membuatnya bingung, seperti tak punya pegangan hidup. Misalnya, dia merasa takut pada ancaman ayat berikut ini akan menimpa dirinya:

أفرأيت الذي اتخذ الهه هواه وأضلّه الله على علم – الاية

Dalam benaknya kadang dia takut apakah dia tergolong orang dalam ayat itu. Jangan-jangan, semua ilmu yang sudah dia miliki hanya akan menjadikan dirinya orang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Siapa tahu, bukankah itu mungkin saja?

Nah, mengenai kegalauannya yang terakhir itu, saat itu saya tidak berkomentar apa-apa.[]

2 Replies to “Kala Seorang Matematikawan Sedang Galau”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *