By | March 24, 2017
Kupon Play Station

Doc. Pribadi

Tadi bongkar-bongkar isi dompet. Rupanya di situ masih ada kupon penyewaan Play Station yang saya dapat sewaktu jaman jahiliyah dulu.

Tiba-tiba, saya terkenang jaman itu. Jaman ketika PS menjadi kegemaran yang melenakan. Tidak peduli siang atau malam, saya akan bertandang ke rental PS, untuk bermain barang 3 jam atau lebih, ditantang atau saya yang menantang teman. Kadang kami menyewa PS selama 24 jam, lalu kami mainkan bersama-sama di kamar indekos atau di kontrakan.

Bermain PS tidak sekadar memainkan game yang biasanya untuk bersenang-senang. Permainan itu sebetulnya mengandung pula unsur pertaruhan reputasi, peperangan intimidasi, juga ajang bercongkak ke teman-teman lain bahwa lawan kita ini tak punya kemampuan main yang patut diperhitungkan.

Tapi tetap harus diakui, PS adalah candu yang tidak baik. Kewajiban-kewajiban beberapa teman ada yang terganggu atau bahkan terbengkalai karena kecanduan PS. Puji syukur, sekarang saya tidak lagi menggemari permainan ini. Hampir tidak pernah bermain PS akhir-akhir ini kecuali karena ajakan beranjangsana bersama teman-teman.

Kembali ke kupon tadi, dompet saya rupanya menyimpan 9 lembar. Jumlah itu sebetulnya cukup buat mendapat bonus sejam gratis, sebab 8 lembar kupon bisa ditukar permainan PS selama sejam. Lumayan buat tambahan membantai lawan.

Kupon di dompet saya itu didapat karena rutin bermain di rental bernama Inzomnia. Lokasinya dekat dengan Warung Kopi Mato, di pinggir Selokan Mataram, Yogyakarta. Harga penyewaan per jam waktu itu Rp. 2.500. Sekali main 2 jam, tiga lembar kupon bisa kita dapat. 9 lembar kupon di dompet itu berarti saya sudah menyewa di sana paling tidak selama 18 jam, tiga kali duduk menyewa PS.

Dengan pertimbangan iseng dan tak punya kesibukan, saya akan sebutkan lawan-lawan yang paling sering saya ladeni bermain di rental. Juga akan diceritakan sedikit perangai dan tabiat buruk mereka.

Edwin Ristianto

Dia punya cara sendiri mengekspresikan diri ketika bermain PS di rental: misuh dan caci maki kencang-kencang. Peduli setan, katanya berhujah, main PS tanpa ekspresi teriak-teriak apa bedanya sama kuburan?

Tim jagoannya adalah MU. Saat kepingin bermain, dia akan mengirim SMS (waktu itu kami belum punya posel android) atau datang ke kosku. Lalu kami bertemu di rental PS terdekat atau berangkat bareng.

Sudah lama kami tidak berjumpa. Saat terakhir berjumpa, yakni di penghujung tahun 2015, kami sama sekali tidak ada keinginan untuk bertarung di depan layar. Kami hanya mengobrol di warung kopi.

Setelah lulus kuliah, dia merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan. Setelah menikah, dia kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan kuliah magister bidang hukum, hingga kini.

Bahrul Ulum

Betul sekali, magister bidang filsafat ini adalah lawan lain yang sering bermain dengan saya. Kami menggemari tim yang sama: Barcelona FC. Oleh karena itu, saat bermain dengannya saya mengalah dan memilih Liverpool atau Bayern Munchen.

Ekspresinya saat bermain juga unik. Dia sering teriak-teriak menyebut asma Tuhan yang teragung, terutama saat gawangnya sedang terancam. Tak peduli siapapun, saat bermain dengannya akan terdengar lantang teriakan: Allah! Allah! Allah! Saya sering malu ke orang-orang yang juga sedang menyewa PS di situ. Tapi sepertinya dia cuek saja.

Saat kami ngopi bareng sehabis bertanding di depan layar, saya bertanya soal ekspresinya itu. Dia menjawab santai: “Daripada berkata-kata kotor, ya mending berzikir dan nyebut.”

Ya, ya, ya…. Baiklah.

Setelah lulus di bidang magister ilmu Filsafat, lelaki ini pulang ke kampung halamannya dan menjadi dosen di sebuah kampus swasta.

Rohim Warisi

Nah, bermain dengannya adalah perang psikologis. Saat berhasil menyarangkan goal, dia akan menunjukkan ekspresi sombong nan congkak. Gayanya ini memaksa saya melakukan hal yang sama.

Tim kegemarannya adalah AC Milan. Dia punya strategi khas yang sulit ditahan: umpan lambung ke arah penyerang tunggal di depan, yang jika penyerang ini berhasil lolos dari offside, maka 75% peluang akan menghasilkan goal. Strategi ini adalah andalannya.

Bermain dengannya adalah tantangan, sebab selain strategi dan taktik, kau juga harus melakukan serangan psikologis yang kejam. Yang terakhir ini juga penentu kemenangan.

Lelaki ini kini kembali ke kampung halamannya. Konon kabarnya, dia bekerja di sebuah studio film untuk menyuting resepsi pernikahan atau pementasan dangdut koplo. Setelah resign dari tempat kerjanya, dia mendirikan perusahaan penerbitan buku.

Penutup

Begitulah, kupon PS itu membawa nostalgia semasa masih kuliah dulu. Kini saya hampir tidak pernah menyentuh stik PS. Bahkan game di laptop atau PC pun sudah saya tinggalkan sama sekali.

Selain tiga pemain di atas, masih banyak lawan-lawan bermain lain, namun seingat saya tiga orang itulah yang paling sering. Rasanya tidak mungkin saya ceritakan semuanya.

Nah kupon itu sudah saya buang. Sudah tidak ada gunanya lagi saya simpan di dompet. Biarlah masa jahiliyah itu tinggal cuma kenangan, tanpa prasasti atau dokumen apapun.[]

23 Replies to “Kupon Play Station Dan Suatu Nostalgia ”

      1. lalativ

        Haha iyoo mas, opo maneh lek di kancani mbek lambe turah e arek” jan tambah ngarai pengen nambah sewoan e 😂

        Reply
        1. mhilal Post author

          Lambe turah! Hahaha…. konco seng ruame ngono ancen marai tambah seru ngegame e haha

          Reply
  1. Raf

    Wah saya jadi keinget zaman SD dulu awal 2000-an di Tangerang sewa PS-One Rp. 2000,-/jamnya. Ngumpulin kupon juga. Saya dulu mah nggak begitu doyan maen Winning Eleven, lebih sering maen Crash Team Racing dan RPG kayak Suikoden. 😂

    Reply
    1. mhilal Post author

      Nah, betul. Di rental PS sy sering lihat anak² SD, dan mereka umumnya memang tidak suka winning eleven 😄

      Reply
  2. rohimwarisi

    Kulo tasek iling, sewaktu permainan kulo di bawah tekanan tiki-taka ne Barca, mendadak kulo muni, wontenvsms dugi seseorang. Setelah niku, barca selalu babak belur.

    Reply
    1. rohimwarisi

      Heh! Ingat yg ngajari pemain berputar ala Zidane itu saya. Lantas kau bergumam takjub “Lawar sekali boy, rohim ni…”

      Reply
  3. mfadel

    Wkwkwk.. kita laki-laki normal kelahiran masa kini, pasti main PS. Dan rental adalah pelarian yang bagus 😂

    Kalau main bola, caci maki dan asma Allah yang keluar kayaknya udah biasa ya haha. Ayo lawan Liverpool saya bang!

    Reply
  4. ghozaliq

    Wkwkwkw saya kecanduan main PS juga, tapi sekarang untungnya sudah hilang. Tentu saja saya pernah mendapatkan kupon seperti itu, ahaha berasa beli galon isi ulang jadinya…wkkekw

    Kalau tiket atau kupon yang masih saya simpang itu yang berkaitan dengan perjalanan, seperti tiket kapal, tiket kereta, dan tiket lainnya yang mungkin tidak bisa saya dapatkan kedua kalinya… Ahaha

    Reply
        1. mhilal Post author

          Tp kadang ndak berhasil, bang. Cara itu malah bikin kebobolan banyak goal 😄😄

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *