By | Juni 30, 2010

ink-fountain-pen-blankSayangnya saya tidak pernah ketemu muka dengan Mahbub Djunaedi. Tapi,  saya berani bertaruh kalau orangnya pasti suka bercerita yang lucu-lucu, periang, dan berwajah optimistis. Dalam bayangan saya, dia akan berbicara dengan suara serak dan kencang gaya orang Betawi, serta intonasi yang khas dan sulit diikuti.

Pembaca boleh katakan saya sok tahu atau apalah. Tapi, coba saja baca kumpulan kolom-kolomnya yang pernah dimuat di majalah Tempo sejak tahun 1971 sampai 1985, coba rasakan sendiri bagaimana tulisan Mahbub Djunaedi menggelitik pembacanya, akan kita dapati kesimpulan yang sama: orang ini memang lucu.

Selain membuat saya tersenyum-senyum sendirian di kolong kamar kost saya yang agak pengap, tulisan Mahbub Djunaedi juga membuat saya takjub. Dia piawai mengemas tema-tema sukar menjadi semudah sarapan nasi di warung depan kost. Tapi itu belum seberapa, sebab banyak sekali orang yang saya temui bisa melakukan hal serupa. Yang bikin saya kesemsem, dia juga mengemasnya menjadi kocak dan menyegarkan. Hasilnya adalah sebuah gabungan yang ganjil: serius kandungannya, sederhana penyajiannnya, lucu gaya bertuturnya. Yang terakhir ini adalah bonus tambahan. Ibaratnya, makan nasi di warung depan kost dan tiba-tiba, karena alasan tertentu, si ibu penjual kasih ikan ayam hangat secara cuma-cuma. Sebuah bonus yang menyenangkan, bukan?

Lebih dari itu, nuansa humor dalam tulisan merupakan suatu strategi untuk menyampaikan gagasan. Mahbub Djunaedi tentu sangat menyadari ini. Seperti Semar dalam cerita wayang, dia pernah bilang bahwa mengkritik seseorang sambil mengajaknya tertawa bareng adalah cara terbaik. Tidak jarang dia menyentil nama para pejabat pemerintah, seperti Menteri Agama, Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan, dan bahkan Presiden saat itu dalam tulisannya dan mengulas kebijakan mereka, dengan nuansa humor tentunya.

Judulnya memang “Kolom demi Kolom”, tapi ini bukan tulisan tentang tips menulis kolom atau pengalaman menulis kolom di media-media cetak. Bukan! Ini buku kumpulan kolom yang bicara banyak hal, yang disatukan mungkin karena bisa bikin orang tertawa itu. Maka jangan sampai ia dibaca macam buku pariwisata atau buku panduan sukses secara mendadak, yang akan kasih pembacanya berbagai informasi secara rinci atau trik-trik jitu. Buku ini sepertinya hanya ingin mengajak pembacanya membicarakan hal-hal genting sambil ketawa-ketiwi, itu saja.[]

2 Replies to “Kolom Demi Kolom”

  1. Pingback: Membaca Mahbub Atau Orwell | KURUSETRA

  2. Pingback: Buku-buku Nasional Yang Memengaruhi saya | Kurusetra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *