By | June 26, 2013

Di sini ada pembicaraan tentang budaya dan identitas. Rupanya dua kata itu berkaitan dengan beberapa kata lain, yakni persamaan, perbedaan, politik, sumber daya, ekonomi, dan kepercayaan. Kegagalan menghubungkan budaya dan identitas dengan kata-kata di atas sama saja dengan tidak paham sama sekali kepada dua kata itu, seperti air yang beriak berisik saja, dangkal.

Misalnya pertanyaan kenapa kita harus mempertahankan bahasa daerah? Jika tidak ada kaitannya dengan tema-tema tentang persamaan dan perbedaan, politik dan kekuasaan, ekonomi dan suberdaya, kepercayaan dan agama, dan lain-lain itu, mempertahankan bahasa daerah menjadi sekedar demi bahasa itu sendiri, hanya agar bahasa daerah tetap ada. Cuma itu saja. Namun apabila bahasa daerah dihubungkan dengan tema-tema lain yang lebih luas, argumen mempertahankan bahasa daerah menjadi lebih kuat.

Contoh kasus di Mentawai. Dulu, ketika jumlah penduduknya masih sedikit, masyarakat Mentawai punya tanah garapan yang luas-lebar. Urusan menggarap tanah ini pun agak longgar. Tidak jarang seseorang meminjam tanah tetangganya untuk digarap untuk urusan tertentu. Jadi semua itu berlangsung atas dasar kekeluargaan.

Kali ini penduduk Mentawai meledak, jumlah bangunan rumah juga sudah sangat banyak, tanah dan lahan pun tambah mengecil dari hari ke hari. Lahan yang cuma sepetak kecil itu, jika ditanya sekarang kepada penggarapnya siapakah pemiliknya, beberapa orang akan menjawab tidak tahu, sebab lahan itu adalah hasil pinjaman kepada tetangganya atau orang lain sejak seratus tahun yang lalu. Kepemilikan lahan menjadi tidak bisa teridentifikasi.

Pada saat yang sama lahan garapan sekarang sudah menjadi komoditas, sudah dijual-belikan dengan harga yang mahal. Kepemilikian tanah pun menjadi sebentuk kekayaan. Maka, terdapat beberapa penduduk yang berusaha merunut silsilah keluarganya untuk tujuan mengidentifikasi kepemilikan tanah, lalu mendaku lahan tertentu yang terbukti pernah dipinjam di masa lalu. Lama-kelamaan, banyak terjadi sengeketa tanah.

Nah, yang menraik dari masyarakat Mentawai ini, sengketa tanah ini tidak mengakibatkan bentrokan fisik antara kedua belah pihak yang bersangkutan. Tidak ada saling bacok di sini. Padahal, kalau sengketa itu terjadi tempat lain, rasanya bisa dipastikan akan terjadi bentrok fisik di antara kedua belah pihak jika jalan musyawarah dianggap buntu. Petanyaannya, kok bisa?

Jawabannya ternyata sederhana: karena bahasa!

Karena bahasa mentawai turut berperan mencegah bentrok fisik. Jika kedapatan ada seseorang berkata-kata yang berbentuk ancaman maka orang itu bisa kena denda di hadapan pengadilan adat setempat. Hukuman yang harus ditanggung pun tidak main-main, bisa setara dengan denda pembunuhan dalam hukum nasional kita (bayangkan bagaimana hukuman pembunuhan di situ jika dibandingkan dengan hukum nasional kita). Hukum ini mencegah seseorang untuk berkata-kata kasar dan mengancam orang lain.

Melihat kecenderungan sengketa tanah di kalangan masyarakat Mentawai, tentu bahasa Mentawai menjadi sangat relevan untuk dipertahankan sebagai bahasa setempat. Sebabnya jelas, sengketa tanah adalah pemicu paling efektif untuk terjadinya konflik, namun berkat bahasa yang mereka gunakan dan hukum yang berlaku bentrok fisik bisa dihindari. Itulah kekuatan bahasa!

Dengan argumen inilah mestinya mempertahankan bahasa daerah diperkuat. Bahasa punya sumbangsih nyata terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Bahasa memiliki kekuatan yang bisa berperan nyata terhadap para penggunanya. Peran itu bisa kita identifikasi dengan menghubungkan bahasa dengan kata-kata lain di atas: bahasa-politik, bahasa-sumberdaya, bahasa-ekonomi, bahasa-kepercayaan, dan lain-lain.[]

Catatan:
Kaum muda masyarakat Mentawai akhir-akhir ini sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa Mentawai. Para ahli meramalkan, jika ini terus berlangsung, dalam satu atau dua dekade ke depan bentrok fisik akan banyak terkadi di pulau itu.

4 Replies to “Kekuatan Bahasa Daerah”

  1. Citra Rahman

    Menarik sekali, Bang. Saya meski lahir di Aceh, tapi masih susah berbicara dalam bahasa daerah setempat, tapi tetap terus mempelajarinya dan berbicara meski terbata-bata. Terima kasih untuk tulisannya. 🙂

    Reply
    1. mhilal Post author

      Dengan senang hati, Mas Rahman. Senang rasanya ada teman yang menyenangi bahasa daerah juga 😉

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *