By | June 29, 2016

544477432_9b86d22e43_o

Bahasa Indonesia adalah bahasa utama di blog KURUSETRA ini. Meski begitu, itu tidak berarti saya seorang xenophobic (omong-omong, apa bahasa Indonesianya kata ini?) yang serba anti asing. Pada kesempatan tertentu, bisa jadi saya akan gunakan di blog ini bahasa asing yang saya kuasai. Bukan tidak mungkin pula, blog ini juga akan memuat bahasa daerah yang saya kuasai. Bisa jadi.

Tak terkecuali juga di bulan Ramadan ini, Bahasa Indonesia akan tetap saya gunakan. Untuk itu, saya akan mendaftar beberapa kata terkait Ramadan yang sering ditulis secara tidak baku, dan oleh karena itu, melanggar tata baku Bahasa Indonesia. Saya akan daftar kata-kata itu sejauh bisa saya temui di KBBI.

Namun, harap diingat baik-baik, oleh karena kata-kata berikut ini baku tidak berarti ia adalah yang paling benar. Terkait kata-kata baku ini, para pembaca yang budiman berhak menganut pendapat pribadinya jika kata-kata itu dianggap kurang cocok. Misal lema Insya Allah, beberapa kalangan umat Muslim merasa keberatan dengan kata itu sebab dianggap mengubah makna dari kata aslinya dalam bahasa Arab, bahkan secara harfiah memberi pengertian yang mencederai keagungan Tuhan. Menurut mereka, lema itu seharusnya diganti menjadi in sya Allah (meski cuma berbeda spasi, dalam bahasa Arab implikasi makna harfiahnya tidaklah sama). Nah, jika pembaca memiliki alasan semisal di atas ini, silakan mendobrak kata baku dan bikinlah sesuai pengetahuan yang Anda miliki.

Di dunia ini, memang ada beberapa orang yang sengaja memilih tidak menggunakan kata baku ketika menulis dalam Bahasa Indonesia. Ada banyak alasan kenapa mereka melakukannya. Dan itu absah-absah saja. Di kesempatan lain, mungkin akan saya ceritakan.

1. Ramadan.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah penulisannya menjadi Ramadlan atau Ramadhan. Ini tentu karena kebingungan bagaimana penulisan huruf dlâ’ (aksara Arab ke-15) dalam Bahasa Indonesia. Kebiasaan masyarakat kita menuliskannya menjadi dl (mis. qodli), adapun bahasa Inggris biasa menuliskannya menjadi dh.

Bahasa Indonesia baku yang berdasarkan EYD tampaknya menetapkan huruf ke-15 itu ditulis menjadi d. Dengan demikian, beberapa kata serapan dari bahasa Arab yang menyertakan huruf dlâ’ ditulis begini: rida (bukan ridla atau ridha), wudu (bukan wudlu atau wudhu), kadi (bukan kadli atau kadhi), iduladha (bukan iduladlha atau iduladhha) dan juga Ramadan (bukan Ramadlan atau Ramadhan). Kata yang lain silakan temukan sendiri.

2. Idulfitri dan Iduladha.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah menuliskan dua kata itu dipisah dengan spasi. Biasanya ditulis begini: Idul Fitri dan Idul Adha. Kekeliruan ini bisa dimaklumi sebab dalam bahasa Arab, keduanya memang terdiri dari dua kata: ‘îd al-fithr dan ‘îd al-adlhâ.

Dalam bahasa Indonesia, penyerapan kata dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata atau lebih ditulis bersambung menjadi satu. Contoh yang sangat gamblang adalah Idulfitri dan Iduladha ini. Contoh lainnya adalah kata di bawah ini.

3. Halalbihalal

Kesalahan yang sering terjadi adalah menuliskannya secara terpisah, halal bi halal atau halal bihalal, sebagaimana contoh sebelumnya. Kekeliruan ini terjadi karena alasan seperti di atas, yakni karena di bahasa asalnya kata ini terdiri lebih dari satu kata: halâl + bi + halâl. Berdasarkan tata aturan kebahasaan yang sama pula, ketiga kata itu digabung menjadi satu ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia: halalbihalal.

Dengan alasan itulah kita bisa mengerti kenapa kata insya Allah ditulis demikian dalam Bahasa Indonesia (tidak ditulis in sya’ Allah), padahal jika dicocokkan dengan bahasa aslinya terjadi penyelewengan makna yang krusial. Namun, menurut saya, konsistensi kebahasaan lebih penting. Kita tidak bisa mengukur Bahasa Indonesia dengan logika bahasa Arab yang tata aturan dan kaidah kebahasaannya sangat berbeda.

Atas alasan itu, saya tidak keberatan menuliskannya berdasar kata baku: insya Allah.

4. Silaturahmi

Kata lain yang juga memiliki alasan kekeliruan penulisan adalah silaturahmi. Kata ini memiliki dua bentuk kekeliruan tulisan karena dua alasan berbeda.

Pertama, sama seperti kekeliruan di atas, kata ini sering secara keliru ditulis terpisah, silatur rahmi, karena memang di bahasa asalnya ia terdiri dari dua kata: shilah + rahim. Padahal, sesuai dengan kaidah di atas, kata ini seharusnya ditulis bergabung meskipun dalam bahasa asalnya terdiri dari dua kata: silaturahmi.

Kedua, di samping kekeliruan di atas, kata ini sering ditulis tidak baku menjadi silaturahim (terjadi pergeseran huruf i). Hal ini pun bisa dimaklumi karena memang dalam bahasa Arab pelafalannya adalah silaturahim, bukan silaturahmi.

Pertanyaannya, kenapa Bahasa Indonesia membuat kata yang melenceng dari pelafalan asli menjadi kata yang baku? Jawaban yang paling mungkin, menurut saya, adalah karena Bahasa Indonesia menyerapnya berdasarkan kebiasaan tutur di masyarakat. Masyarakat Indonesia sering mengucapkannya silaturahmi, berbeda dari tuturan asli orang Arab melafalkannya silaturahim. Dengan demikian, dasar dari penyerapan kata ini adalah kebiasaan penuturan masyarakat Indonesia, bukan berdasarkan pelafalan asli orang Arab.

Di sinilah terjadi dilema penyerapan kata yang kadang dihadapi oleh Bahasa Indonesia. Menetapkan bahwa kata silaturahmi sebagai kata baku membuat pengertian kata itu berbeda dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Arab, arti rahmi jelas berbeda dengan rahim. Yang pertama berarti uterus, sedangkan yang kedua bermakna dua: (1) uterus, dan (2) kerabat. Oleh karena itu, ketika dikatakan dalam bahasa Arab shilah ar-rahim, maka jelas maksudnya arti kata rahim yang kedua, yakni “kerabat”, tidak mungkin akan dimaksudkan arti pertama, sebab artinya akan “menyambung uterus”. Orang Arab tidak akan melafalkannya menjadi shilah ar-rahm, sebab kemungkinan maknanya hanya satu, yakni “menyambung uterus”, dan tidak ada kemungkinan makna yang lain.

Berdasarkan pemahaman akan perbedaan makna antara rahim dan rahm inilah kemudian beberapa kalangan umat Muslim enggan menggunakan kata baku, dan kukuh menggunakan kata asli dalam Bahasa Arab: silaturahim. Kekukuhan ini jauh lebih beralasan ketimbang keengganan mereka menggunakan kata insya Allah yang merupakan konsekuensi dari konsistensi kaidah penyerapan kata dari Bahasa Arab.

Dan atas pertimbangan ini pula, saya juga enggan menggunakan kata baku silaturahmi. Sebab pembakuannya berdasarkan salah kaprah. Saya lebih suka menuturkannya dengan silaturahim.[]

Sumber Gambar:
maria zerihoun

13 Replies to “Kata-kata Baku Terkait Ramadan”

            1. mhilal Post author

              Saya di malang selatan, mas. Di Kecamatan Gondanglegi.
              Mas Fadli kalau ke malang biasanya kemana tujuannya?

              Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *