By | June 20, 2017

MENGGAGAS PARADIGMA KEILMUAN DAN PENGABDIAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA

jurnal mlangi 4

Alhamdulillah, setelah mengalami masa “fatroh” setahun lebih, berkah Ramadan Mubarok, Jurnal Mlangi Edisi Ke-4 kembali terbit. Monggo dinikmati.

Pengantar Redaksi:
Perkembangan Pendidikan Tinggi Indonesia sejak tahun 1945 hingga kini masih mengalami masa-masa yang sangat sulit, apalagi jika harus bersaing dengan pendidikan di kawasan Asia Pasifik dan global. Permasalahan ini akan menjadi kompleks lagi setelah kesepakatan AFTA, APEC, ACTA, hingga MEA diberlakukan. Padahal pendidikan, terutama pendidikan tinggi, memiliki memiliki posisi strategis sebagai salah satu pilar kedaulatan bangsa, di samping keuangan, teknologi, dan militer.

Kondisi tersebut diperkelam jika melihat realitas internal kebangsaan. Salah satu indikator buruknya adalah tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi, di mana pada saat yang sama sarjana asing yang bekerja di Indonesia terus meningkat. Sementara, saat ini tenaga kerja yang dikirim keluar negeri lebih didominasi oleh tenaga-tenaga nonprofesional sehingga tidak dapat menduduki posisi yang menguntungkan.

Di tengah realitas itulah lahir fenomena positif, yakni berdirinya puluhan Universitas Nahdlatul Ulama di berbagai belahan Nusantara. Meskipun cukup terlambat, tetap saja UNU memiliki peran strategis di masa yang akan datang. Keberadaan UNU sejatinya tidak dapat dilepaskan dari NU sebagai organ pengkaderan dan perjuangan. Sejarah mencatat, salah satu embrio NU adalah tashwirul afkar, institusi think-tank tempat menggodok kaum pejuang dan arena dialektika ide-ide berskala dunia: islamisme; nasionalisme; sosialisme; komunisme, dan tentu saja jawanisme.

Di sinilah menjadi penting untuk meletakkan positioning UNU. Hemat kami, UNU harus dimaknai sebagai universitas kader dan jantung pendidikan ke-NU-an. UNU diposisikan sebagai terobosan dalam rangka melanjutkan, mengembangkan, sekaligus memperkuat pendidikan tinggi di pesantren. Berbagai bidang keilmuan agama yang ditekuni di pesantren harus mendapatkan tautan “kontekstual-metodologis” dengan keilmuan umum di level universitas. Universitas kader adalah “penguatan kapasitas jamaah dan jam’iyyah NU dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui pendidikan tinggi inilah jamaah nahdhiyyin punya sarana untuk mendayagunakan apa yang sudah dimiliki NU berikut pesantren-pesantrennya. Melalui UNU, ajaran agama diperkuat melalui “reinstrumentasi ilmu pengetahuan dan teknologi”. Melalui UNU ilmu-ilmu yang diajarkan oleh universitas didudukkan sebagai “instrumen-teknokratis” untuk memperjuangkan Islam dan mewujudkan tatanan Indonesia serta dunia yang damai, makmur, dan berkeadilan.

Positioning tersebut membutuhkan kerangka konseptual paradigma keilmuan UNU yang diturunkan hingga level paradigma pendidikan-pembelajaran. Dan tentu saja paradigma pengabdiannya. Jurnal Mlangi menawarkan perspektif kedua hal tersebut. Di samping itu juga diulas transformasi paradigma dirosah ilmiah di Timteng. Sejauh mana konflik berkepanjangan saat ini mempengaruhi dirosah islamiah di perguruan tinggi; jika ada transformasi, ke arah mana; jika stagnan, di mana akar masalahnya. Selain itu juga dimuat tulisan-tulisan menarik lainnya.

Akhirnya, selamat menikmati.[]

– Berminat? Sila hubungi lebih lanjut: Mbak Ranti (WA: 081268165912)

Jurnal Mlangi edisi lain:
Jurnal Mlangi #1

Jurnal Mlangi #2

Jurnal Mlangi #3


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *