By | July 2, 2013

TELAH TERBIT EDISI KEDUA!

jurnal mlangi 2

|
|
|

JURNAL MLANGI
Media Pemikiran dan Kebudayaan Pesantren
(188 hal.)

PESANTREN, RISET STRATEGIS BANGSA,
DAN KONDOBHUWONO

Dari redaksi:

Perjuangan itu, minimal di ranah wacana, harus terus digelorakan. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Gelombang informasi membanjiri kita setiap hari laksana arus besar Tsunami. Dunia maya pun seolah lebih real, lebih nyata, tinimbang realitas yang sebenarnya itu sendiri. Selain informasi, kita juga dijejali dengan berbagai teori, konsep, paradigma, filsafat yang sebagian besar di antaranya sesat dan menjerumuskan. Ya, rusaknya tatanan kebangsaan kita, dari politik hingga ekonomi, dari hukum hingga kebudayaan, juga situasi dan kondisi global saat ini yang penuh ketidak-adilan dan kian kuatnya hegemoni the dominant ideology, salah satunya, dilakukan melalui penyebarluasan riset, teori, konsep, dan informasi yang sesat dan menyesatkan.

Pusat-pusat pengetahuan global telah secara sistematik menyebarkan kekaburan dan me-misleading yang membuat kita mengalami disorientasi sejarah dan realitas, mulai dari teori pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sejarah, pluralisme, multikulturalisme, hingga kebudayaan. Untuk sekedar menyebut contoh, taksonomi ranah pendidikan menjadi kognisi, afeksi, psikomotorik, yang begitu mendarah-daging dalam kepala para pendidik, sebenarnya sama sekali tidak kompatibel dengan filsafat manusia yang berkembang di bumi nusantara, yang berakhir pada amburadulnya output pendidikan kita. Trikotomi Geertz yang diamini ilmuwan sosial mainstream Indonesia bukan hanya telah menggariskan jarak sosial dan emosional antarkomunitas yang sebelumnya tidak ada, namun juga telah menghilangkan para kyai-kyai yang lahir dari keraton-keraton Nusantara dalam peta sosiologis dan antropologis.

Teori-teori developmentalisme yang diacu dalam pembangunan nasional hanya melahirkan kerusakan sumber daya alam tak terkira dan memusatkan distribusi sumber daya ekonomi pada elit-elit korup, dan akhirnya melempangkan jalan bagi penyedotan kekayaan nusantara ke negara-negara pusat. Hasilnya, kemiskinan dan kesenjangan di dunia ketiga kian parah dan lebar. Teori-teori pembangunan politik yang berpusat pada filsafat politik liberal yang dicangkokkan dalam tata negara kita pada akhirnya menceraikan rakyat dengan wakilnya, menelanjangi kedaulatan rakyat, bahkan juga kedaulatan nasional. Yang lebih sistemik lagi, bagaimana masyarakat terjebak dengan diskursus teoretik yang membenturkan antara nasionalisme dan Islamisme, padahal salah satu ekspresi otentik dari Islamisme adalah nasionalisme sejati (hubbul wathon minal-iman). Energi bangsa ini terkuras hampir ratusan tahun dalam jebakan diskursus tersebut, dan juga diskursus serupa lainnya.

Dalam struktur berpikir, bagaimana logika Aristotelian yang berbasis pada prinsip identitas telah membuat kita berpikir seragam dan berfikir positivistik. Berbagai teori yang mengandung fallacies of thingking tersebut bermuara pada tercerabutnya kita dari realitas geografis, demografis, ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan kita sendiri. Akibatnya bukan hanya kehilangan identitas atau kepribadian orisinal, namun juga gagal memahami potensi dan kekayaan anugerah-Nya yang luar biasa, gagal memahami siapa identitas kita.

Kita tanpa sadar dipakaikan โ€œkacamataโ€ setelah mengkonsumsi berbagai teori tersebut tanpa kritisisme di institusi pendidikan, dari dasar hingga tinggi, namun bukan realitas sebagaimana kita seharusnya memahaminya, akan tetapi sebagai realitas yang mereka inginkan. Secara amat perlahan kita diseret untuk memahai kenyataan dengan kacamata yang justru membuat kita semakin tidak paham diri kita, sejarah kita, potensi alam kita, kebudayaan kita, dan apa yang harus kita lakukan. Kita diseret secara perlahan-lahan memahami realitas sebagaimana mereka memahaminya, mengkonstruksi kesadaran sebagaimana yang diinginkan oleh sistem yang dirancang.

Jika diteruskan, hal ini akan berujung pada kondisi di mana kita akan belajar tentang keindonesiaan, kenusantaraan, bukan melalui kefaktaan sosial otentis yang ada, dengan teori yang cocok, dengan nilai yang ideal, namun melalui tumpukan buku-buku dan teori-teori yang diproduksi untuk kepentingan hegemoni dan eksploitasi. Aneh bin ajaib, semakin kaum akademik melakukan riset seputar keindonesiaan, dari budaya sampai energi, yang dibiayai oleh lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, semakin tidak faham dan mengenal potensi budaya dan kekayaan alam Indonesia, dan di sisi lain semakin kekuatan global tersebut semakin kuat cengkeraman kuku dan taringnya di bumi Nusantara.

Pesantren sebagai institusi pengetahuan tidak boleh diam atau merasa sudah cukup memerankan peran historisnya hanya karena telah melakukan proses selama ini. Oleh karena akar masalahnya atau arena pertarungannya berada di ranah pengetahuan, maka menjadi wajib menggerakkan kembali diskursus strategis. Inilah arena perjuangan pokok pesantren, yakni menjadi institusi riset strategis, dengan kebijakan riset strategis, di samping kaderisasi tentu saja kaderisasi ulama.

Pesantren adalah taman budaya nusantara yang kaya. Kekayaan budaya ini harus menjadi modal sosial pengembangan pesantren agar berperan di tengah-tengah konstelasi dunia. Keragaman tradisi intelektualnya merefleksikan kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang memproduksi local knowledge yang luar biasa. Paduan akan inovasi mutakhir dan pijakan yang kuat dalam tradisi lokal akan menjadikan pesantren sebagai universitas berkelas dunia dengan nuansa kearifan lokal yang kental. Pada akhirnya Pesantren akan menjadi taman intelektual muda nusantara yang merajut makna keislaman dan keindonesiaan.

Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain bagi pesantren untuk mengembangkan tradisi kajian dan riset strategis untuk kepentingan kemuliaan Islam dan kedaulatan bangsa yang sejati. Dengan menjadi institusi yang kuat tradisi kajian dan risetnya, pesantren akan memberikan kontribusi besar dalam menjawab berbagai persoalan kekinian dan masa depan. Menjadi institusi riset berkelas dunia sama sekali bukan untuk latah, apalagi gagah-gagahan, dan bukan tujuan akhir, namun untuk ikut memberikan kontribusi menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Berbagai persoalan global tersebut, seperti demografi, kemiskinan, lingkungan, kesehatan, konflik, sumber daya alam, semuanya berada di Indonesia.

Karenanya menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan kontemporer sama artinya dengan menyelesaikan sebagian problem global, dan dengan demikian memberi kontribusi global. Tepat pada titik tersebut sejatinya pesantren telah menjadi world-class-research university dalam pengertian yang sesungguhnya. Inilah barangkali yang dibayangkan Sunan Kalijaga ketika memberi wejangan bahwa Islam Jawa harus mampu mituturi dunia. Itulah yang dimaksud oleh Kanjeng Sunan dengan Kondobuwono. Pertanyaannya, mungkinkah mewujudkan idealisme tersebut?

Dengan kuatnya riset, pesantren akan membalik posisi sosialnya saat ini, dari tineliti menjadi peneliti, dari lazim (digerakkan, dipengaruhi) menjadi mutangaddi (penggerak, mempengaruhi), dari mafngul (objek penderita) menjadi fangil (subjek pelaku), dari pasif menjadi aktif, dari statis menjadi lebih dinamis, dari akidah menuju transformasi sosial. Di samping itu, evolusi institusi pesantren saat ini yang semakin mengintegrasikan diri dalam sistem pendidikan formal, dengan berbagai pola dan variannya, meniscayakan, cepat atau lambat, akan lahirnya kebutuhan untuk melakukan riset.

Riset ala pesantren tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan riset konvensional. Perbedaan ini berakar pada perbedaan konstruksi ontologi, epistemologi, metodologi, dan aksiologi antara riset ala pesantren dengan riset konvensional. Perbedaan ini berakar pada sejarah sosial, sumber nilai, dan tradisi intelektualnya. Sebagaimana diketahui, proses riset dan kajian akademik di Barat tidak terlepas dari kepentingan dominasi dan hegemoni, sehingga riset (pengetahuan) menjadi salah satu pilar dari superioritas Barat, yang dalam banyak hal justru menjadikan sains sebagai ancaman terhadap kemanusiaan.
Edisi kedua kali ini akan mengupas seputar riset dan keniscayaan pesantren menjadi riset strategis. Riset Utama pertama mengupas sejarah research university dan transformasinya hingga saat ini di Barat. Riset Utama kedua mengupas soal tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari sejarah hingga prioritas riset yang ada. Riset ketiga, yang merupakan poin penting edisi kali ini, akan menyuguhkan paradigma, orientasi ideologi riset ala pesantren (Pesantren-Riset). Tulisan utama pertama akan memotret dominasi perguruan tinggi Amerika di lingkungan global. Tulisan kedua berisi uraian keharusan melakukan dekolonisasi metodologi sebagai prasyarat menginisiasi riset berbasis pada kebutuhan keislaman dan kebangsaan, sedangkan tulisan ketiga berisi seperti apa konsep awal perguruan tinggi riset berbasis pesantren. Selain itu juga dimuat berbagai artikel, esai, kolom, yang relevan dengan topik ini.

Akhirnya, selamat membaca sembari berharap untuk terus didoakan agar selalu dilimpahi hidayah, rahmat, inayah, dan fadhal-Nya, sehingga jurnal ini bisa terus terbit serta apa yang tertulis di dalamnya menjadi bagian dari ulumun-nafiโ€™ah. Amin, amin, amin, Ya Mujibas-saailiin.[]

Bila tertarik, silahkan hubungi Bangkit Ahmad.

Table of Contents Edisi Kedua

Editorial
Pesantren, Riset Strategis Bangsa, dan Kondobhuwono

Riset Utama I
Transformasi Research University di Barat, Sejarah dan Perkembangan Mutaakhir

Riset Utama II
Wajah Riset dalam Panggung Perguruan Tinggi Indonesia

Riset Utama III
Paradigma dan Ideologi Riset Ala Pesantren

Artikel Utama I
Dominasi Global Perguruan Tinggi Amerika

Artikel Utama II
Dekolonisasi Metodologi, Pra-Syarat Riset Berbasis Kebutuhan Bangsa

Artikel Utama III
Tradisi Riset di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam

Artikel Utama IV
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Nilai-nilai Pesantren

Kolom I
Neoliberalisme dan Tantangan Ilmu Sosial

Kolom II
Redupnya Tradisi Riset Sejak Dini

Kolom III
Anak dan Bahasa Asing, Kapan Dipersuakan?

Artikel Lepas I
Memperkokoh Basis Teologis Pendidikan

Artikel Lepas II
Konsep Kepemimpinan Sultan Agung

Artikel Lepas III
Penyelewengan Makna Jihad

Panorama Global
Arab Spring: Agama dan Teori Transisi Demokrasi Gelombang Keempat

Esai Sastra
Genre Sastra Jahili

Puisi

Review Kitab
Ar-Risalah: Embrio Ushul Fiqh

Review Buku
Senjakala Integrasi-Interkoneksi

Apresiasi Tokoh I
Meneladani Mbah Kyai Nur Iman

Apresiasi Tokoh II
Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid, Kebangkitan Tanah Air dari Lombok

Aswaja Bergerak
Aswaja dalam Dinamika Sejarah Nusantara

6 Replies to “Jurnal Mlangi #2”

  1. Pingback: Jurnal Mlangi #4 | KURUSETRA

    1. mhilal

      Itu jurnal, sob. Kalau tertarik, silahkan menghubungi pihak distributor kami ๐Ÿ˜‰

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *