By | April 11, 2013

jurnal mlangi 1

TELAH TERBIT EDISI PERDANA!

|
|
|

JURNAL MLANGI
Media Pemikiran dan Kebudayaan Pesantren
(160 hal.)

Tema:
Pesantren dan Pendidikan Karakter Bangsa:
Menuju Pribadi Insan Kamil dan Keadaban Publik”

Assalamu’alaikum war-rohmah wal-barokah.

Innama bu‘ist-tu li-utammima makarimal akhlaq | Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Al-akhlaq Fauqol-ilmi | Al-hikmah

Rasa syukur tak terkira wajib kami panjatkan kehadirat Gusti Alloh swt, yang telah menganugerahkan rohmat dan fadhal-nya kepada kami, sehingga memungkinkan edisi Perdana jurnal Mlangi ini dapat hadir. Kami berdoa, semoga apa yang ada dalam Jurnal ini menjadi ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat, yang menyelamatkan kita semua.

Sidang pembaca yang terhormat, mengakumulasi pengetahuan, mengembangkan, mengamalkan, dan menuliskannya merupakan satu siklus tak terpisahkan dalam institusi pendidikan. Tulisan dan ilmu, bagi Imam Ghozali, seperti kuda dan tali kekangnya. Selama apapun kuda dilatih, sejinak apapun kuda dididik, jika tidak diikat oleh tali kekang, akan memungkinkan lari dan kemudian hilang tak berbekas. Begitu juga ilmu dan pengetahuan, agar bisa bertahan, berkembang, akumulatif, dan bermanfaat untuk publik serta masa depan, niscaya harus dituliskan.

Dalam konteks itulah, Jurnal ini diterbitkan. Jurnal ini diharapkan menjadi arena atau medan untuk mengembangkan gagasan-gagasan transformatif, merefleksikan pengalaman, mengapresiasi pemikiran, yang terkait dengan kebudayaan dan pemikiran pesantren. Pesantren adalah kampung peradaban, yang menyimpan khasanah nyaris tak terbatas ilmu dan pengalaman yang berusia ratusan tahun, yang jika dieksplisitkan akan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa. 

Dalam edisi perdana ini kami mengambil “Pesantren dan Pendidikan Karakter Bangsa” sebagai tema utama. Pertimbangannya adalah isu ini begitu penting dan strategis serta masih dalam perbincangan publik. Pendidikan karakter sendiri sebenarnya sudah cukup lama menjadi diskursus pendidikan. Di Barat, secara historis, pendidikan karakter memiliki akar-akar panjang seiring dinamika perkembangan kondisi sosial masyarakatnya. Dalam tradisi Islam, pendidikan karakter, yang secara populer disebut dengan pendidikan akhlak, memiliki akar lebih panjang lagi, bahkan seumur datangnya agama samawi terakhir ini. Dalam sebuah hadits, kanjeng Nabi Muhammad saw secara tegas menyebutkan bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan akhlak (karakter) nan luhur. Sementara itu, di jagad pendidikan nasional, pendidikan karakter baru saja dijadikan satu satu kebijakan pendidikan nasional.

Sebagaimana diketahui, pendidikan karakter, di samping pendidikan usia dini dan pendidikan berbasis ICT, telah dicanangkan sebagai benchmark tiga kebijakan pokok mendiknas Muhammad Nuh. Jika kita lihat latar belakangnya, nampak bahwa kebijakan pendidikan karakter didisain sebagai respons strategis terhadap maraknya tata-laku kemasyarakatan dan kepemerintahan yang semakian menyimpang dari nilai nilai akhlakul karimah. Korupsi, untuk menyebut sebagai contoh, menjalar dari semua tingkatan pemerintahan, menelusup dari ruang profan (duniawi) hingga ruang sakral. Proyek percetakan kitab suci Al Qur’an pun bahkan menjadi arena korupsi. Belum lagi maraknya mafia peradilan (jual beli hukum), politik yang penuh dengan riswah, merebaknya kekerasan sehingga darah (nyawa) seolah tidak ada harganya, kepemimpinan yang dipegang orang-orang tak berpengetahuan dan berakhlak, lingkungan yang rusak, perampokan sumber daya alam, dan lain sebagainya. Inilah salah satu latar belakang lahirnya kebijakan pendidikan karakter dan kurikulum 2013.

Namun demikian, apa filosofi, paradigma, konsep, muatan isi, instrumen, hingga strategi implementasinya, hingga saat ini masih kabur, samar, dan gelap. Pada sisi lain, pendidikan karakter dalam dirinya memiliki muatan nilai, subtansi, dan relevansi yang sungguh penting dalam pendidikan. Pendidikan karakter, meskipun aneka konsep menyelimutinya, kesemuanya memiliki benang merah, yakni pendidikan yang berorientasi pembentukan karakter, akhlak, watak, tabiat, dan sikap yang mulia dan kuat. Menilik per definisi dalam literatur pendidikan, spirit pendidikan karakter sejalan dengan misi strategis kenabian saw yang secara eksplisit dideklarasikan sebagai misi penyempurnaan akhlakul karimah.

Kritisisme semakin penting untuk dibangun jika melihat resources pendidikan karakter sebagian besar berasal dari literatur Barat. Sementara, basis pendidikan yang dikembangkan di Barat bersumber pada world-view (welstanchuung), filsafat, pemikiran, konteks sosial, dan kebudayaan yang khas, seperti liberte, egalite, dan fraternite. Di level life-skill juga ditumbuhkan nilai-nilai yang tidak selalu kompatibel dengan tradisi budaya nusantara seperti nilai eksploratif, yang diajarkan pada anak sejak dini, bahwa dunia bisa dipahami, dan karenanya bisa dikuasai. Pendek kata, pendidikan karakter di Barat tidak terlepas dari disain besar filsafat, format ekonomi, format politik, konstruksi kebudayaan, baik di level lokal, nasional, maupun global.

Atas dasar itulah, menjadi penting untuk mengeksplorasi lebih lanjut seputar pendidikan karakter, sebagai bagian dari ikhtiar pesantren untuk memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan nasional. Institusi pendidikan, seperti pesantren, berperan strategis dalam mendorong transformasi sosial lebih baik melalui penguatan dan penegakan kedaulatan agency, individu-individu yang berdiaspora dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan akhlak personal dan keadaban publik. Tidak sebagaimana aktivisme politik, strategi perjuangan ini membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Akan tetapi dapat dipastikan, bahwa masa depan yang lebih baik terkait erat dengan kualitas pendidikan generasi mudanya. Semakin berkualitas pendidikan, baik secara akademik maupun karakter (akhlak), maka masa depan yang lebih baik lebih mungkin dibayangkan dan diharapkan. Output pendidikan seperti ini akan menghasilkan warga masyarakat yang berbudi pekerti mulia-luhur, yang dalam jangka panjang akan menghasilkan outcome keadaban publik, mulai dari sistem sosial, sistem ekonomi, sistem hukum, hingga sistem kebijakan publik.

Daftar Isi:

Editorial
Riset Utama:
• Pendidikan Karakter: Solusi atau Problem?
• Pendidikan Karakter: Medan Pertarungan Hegemoni Nilai dan Ideologi Global
• Potret Pendidikan Karakter Nasional dan Kontribusi Pesantren

Artikel Utama:
• Indonesia 2045, Implikasi bagi Pengelolaan Guru
• Pendidikan Karakter Berbasis Budaya
• Pendidikan, antara Ta’dib, Ta’lim, dan Tarbiyyah, Kajian Pemikiran Naquib Al Atas

Kolom:
• Pendidikan sebagai Basis Strategi kebudayaan
• Pendidikan sebagai Proses Humanisasi

Artikel Lepas:
• Peran Pesantren dalam Memandirikan Anak
• Agama dan Filsafat di Zaman Islam Klasik

Esai Budaya dan Sastra:
• Mengenal Adab Jahili
• Puisi-puisi

Review Kitab-Buku:
• Kitab: Al-Muwaffaqot
• Buku: Al Maqoshid untuk Pemula

Panorama Global:
• Kenapa Indonesia Tidak Bisa Menjadi Model untuk Jazirah Arab?
• Menuju Geopolitik Baru?

Apresiasi Tokoh:
• KH Hasyim Asy’ary: dari Pesantren untuk Nusantara
• KH Ahmad Dahlan: Pelopor Gerakan Pembaharuan Pendidikan

Aswaja Bergerak:
Tantangan dan Peluang Strategis Aswaja

Selamat membaca.

Wahuwal muwaffiq ila aqwamith-thariq, 
Wassalamu’alaikum war-rohmah wal-barokah.
– Dewan Redaksi Jurnal Mlangi

19 Replies to “Jurnal Mlangi #1”

  1. Pingback: Jurnal Mlangi #4 | KURUSETRA

    1. mhilal Post author

      oh, bukan, mbak. Saya cuma nunut jadi tim nulis saja, ndak nyantri di situ.
      Oiya? Rumah mbak Nawa deket pesantren mlangi? wah….

      Reply
    1. hilal Post author

      Penulis jurnalnya? itu ditulis bareng2, sha. Lalu ditumplek-tumplek jadi satu…. 😐

      Reply
  2. capung2

    pendidikan karakter yg sesuai dgn tuntunan Islam yg nntinya dpt mnciptakan sumber daya manusia yg berfikir cemerlang serta jiwa humanisme yg tinggi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *