By | Desember 2, 2015

merry-christmas-joyeux-noel-poster-0[Judul: Joyeux Noël | Rilis: 9 November 2005 | Pengarah: Christian Carion]

We’re talking about cease-fire, for Christmas

Di sebuah medan perang malam itu, tiga pasukan yang saling berusaha bunuh-bunuhan merayakan malam Natal bersama. Tanpa nyana, sehabis malam itu tak ada lagi perang antara ketiganya. Mereka malah berbagi minuman, bermain kartu atau sepak bola, bahkan saling melindungi dari serangan pangkalan masing-masing. Ajaib!

Semuanya bermula pada 18 Desember 1914, Paris, tepat seminggu sebelum Hari Natal. Di sebuah arena perang di Prancis, tiga pasukan membangun parit perlindungan masing-masing: infantri Jerman dipimpin oleh Horstmayer (Daniel Brühl), infantri Prancis dipimpin oleh Letnan Camille René Audebert (Guillaume Canet), dan infantri Skotlandia di bawah komando Letnan Gordon (Alex Frens). Jerman adalah musuh bersama. Prancis bersekutu dengan pasukan Skotlandia.

Ketiga pasukan itu saling serang dan mempertahankan posisi masing-masing. Korban berjatuhan. Peluru beterbangan dan bom meledak-ledak di arena itu tanpa ampun. Namun hingga sepekan peperangan, belum ada tanda siapa yang akan kalah dan siapa yang menang. Sialnya, seminggu sudah perang itu berlangsung, malam Natal harus mereka habiskan di medan perang terkutuk itu.

Pada saat malam Natal itulah sebuah kejadian tak lumrah terjadi. Ketiga pasukan itu berkumpul di parit masing-masing, dengan pengawasan minim kepada parit musuh. Di parit pasukan Skotlandia, mereka mengelilingi sebuah api unggun, meminum bir dan bernyanyi bersama. Anda tentu tahu alat musik khas Skotlandia yang unik itu: Bagpipe. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu I’m Dreaming of Home, sebuah lagu yang tak pelak akan mengingatkan mereka akan hangatnya rumah di malam Natal.

Nyanyian mereka amat nyaringnya hingga terdengar ke parit pasukan Jerman. Dan lagu malam Natal itu amat masygul terdengar di situ, terdengar oleh orang-orang yang jauh dari keluarga akibat perang keparat itu. Kebetulan, di golongan pasukan Jerman terdapat seorang penyanyi opera, Private Nikolaus Sprink (Benno Fürmann). Lagu malam Natal itu disambut dengan suara tenornya yang merdu. Kembali, nyanyian itu membuat seluruh pasukan di medan itu tersentak. Sambutan lagu oleh Sprink begitu merdunya, membawa ingatan mereka kepada kerinduan yang membuat perang begitu menjemukan. Semua pasukan di situ betul-betul terpesona.

Pada saat itulah, Sprink membuat keputusan yang menentukan. Dia beranjak naik dari paritnya sembari bernyanyi. Dilihat oleh semua pasukan di situ, dia berjalan ke tengah-tengah medan tempur. Semua mata memandang padanya tidak percaya.

Respons yang diberikan oleh pasukan Skotlandia pun amat krusial. Si peniup Bigpipe mengiringi nyanyian Sprink. Dan saat itulah dimulai penjajakan—meminjam istilah Martin Buber—suatu ‘perjumpaan’ antar pribadi. Pemimpin pasukan Jerman, Letnan Horstmayer, dan pemimpin pasukan Skotlandia, Letnan Gordon, beranjak ke tempat Sprink berdiri, membincang sesuatu yang tidak terdengar. Baru ketika Letnan Audebert menyusul mereka, pembicaraan itu menjadi jelas: mereka membicangkan genjatan senjata untuk merayakan malam Natal! Ketiga pemimpin itu menyetujui rencana itu.

Begitulah, ketika para pemimpin sudah mencapai kesepakatan itu, para pasukan mulai berkumpul di situ untuk saling berjumpa. Kali ini mereka tidak lagi berjumpa untuk saling serang dan saling bunuh, namun untuk saling kenal dan saling membuka diri. Terlihat para pasukan itu saling memperkenalkan diri, saling menunjukkan potret istri, saling bertukar minuman, bahkan saling menamakan seekor kucing yang hidup berkeliling antar parit. Di satu sisi, adegan itu memperlihatkan suatu peristiwa yang mengharukan, di sisi lain, ia menunjukkan kejadian yang kocak dan mengundang tawa penonton. Anda akan merasakan kelegaan yang aneh setelah menonton adegan itu.

Tiga pemimpin infantri tampak bersulang. Mereka mengucapkan selamat Natal dalam bahasa masing-masing.Joyeux Noël, Frohe Weihnachten dan Merry Christmas diucapkan secara bergantian.

Setelah itu, film ini memperlihat kejadian-kejadian yang menakjubkan. Kondisi yang mereka alami bukan lagi kondisi perang, namun suatu kondisi persaudaraan yang saling bertukar kebahagiaan dan saling melindungi. Pernah di suatu pagi tiba-tiba Letnan Horstmayer, pemimpin infanteri Jerman, berdiri dengan gelisah di bibir parit pasukan Prancis. Moncong bedil pasukan Prancis sudah mengarah padanya, siaga dan siap memuntahkan peluru. Saat Letnan Audebert bertanya, apa maunya berdiri di situ, ternyata Letnan Horstmayer mau memberi tahu bahwa markas Jerman mau menghujani parit pasukan Prancis dengan bom, dan dia menawarkan parit Jerman agar infantri Prancis berlindung di situ. Bom Jerman tidak akan menyerang parit Jerman, bukan?

Sebaliknya, pasukan Prancis dengan senang hati membalas kebaikan itu. Dia menawarkan paritnya agar infantri Jerman bisa berlindung. Markas besar Prancis pasti akan mengirimkan serangan balasan tidak lama lagi.

Pengalaman malam Natal sebelumnya tiba-tiba mengubah medan perang itu seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi lawan untuk dihabisi. Semuanya menjadi keluarga. Natal memang hanyalah sebuah momentum perayaan, namun manusia butuh momentum untuk sekadar berkumpul dengan orang-orang bernama keluarga dan handai taulan, orang-orang yang bisa menjadi tempat kita membuka diri dan bisa kita percaya mereka mau menerima kita apa adanya.

Perang adalah momen yang memaksa kita menutup diri dan menjadikan orang lain sebagai lawan untuk dihabisi tanpa sisa. Selalu ada pembenaran dalam perang untuk mencabut nyawa musuh, entah dengan alasan balasa dendam, perlindungan diri, atau bahkan agama sekalipun tak luput dari perannya membenarkan perang.

Namun, film ini mengajak penonton untuk melihat peran agama sebagai pelerai perang. Agama, yang di film ini disimbolkan dengan perayaan Natal, seharusnya menjadi momen di mana rasa kebersamaan bisa membuahkan kedamaian. Meskipun malam itu yang berkumpul adalah para pasukan yang sebetulnya sedang berperang, namun agama membuat mereka berkumpul tak ubahnya seperti keluarga.

Barangkali, film ini juga menjadi sebuah ajakan bahwa agama masih menjadi harapan yang bisa diandalkan. Meski tidak bisa dimungkiri bahwa agama kadang malah menyulut perseteruan dan perang, namun masih banyak orang yang menganut keyakinan kokoh bahwa agama adalah sumber kedamaian dan kesejukan. Keampuhannya pun tidak bisa diremehkan. Kedamaian yang ditawarkannya justru menyasar target yang sangat sublim dari manusia: kebutuhan manusia akan rasa aman.[]

Catatan:
Omong-omong, sekarang sudah bulan Desember. Anda tahu, bukan, di bulan Desember biasanya ramai soal boleh-tidak bolehnya umat Muslim mengucapkan selamat Natal? Ulasan film ini bukan bermaksud untuk meramaikan keributan yang seringkali tidak produktif itu.

14 Replies to “Joyeux Noël (Selamat Hari Natal)”

      1. Asop

        Wah luar biasa. 🙂
        Bukti bahwa humanity sejak dulu selalu berperan. Namanya manusia, pasti mengutamakan perasaan. 😆

        Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *