By | April 21, 2017
Hari kartini mencari terang

Mencari terang. Doc pribadi

Maafkanlah, Kartini, setiap 21 April aku tak bisa merayakanmu. Sebab jujur, aku belum membaca surat-suratmu yang terkenal itu.
Aku seorang lelaki, tapi izinkan aku merayakan Hari Perempuan Nasional ini, hari kelahiranmu. Dan tidak seperti seperti gaya kebanyakan orang, aku ingin merayakannya dengan menebarkan ‘terang’ di sekelilingku. 

Aku tidak mungkin berpakaian seperti caramu berpakaian. Lagipula, gaya pakaianmu sudah kuno sekali, tidak praktis, tidak cocok untuk orang dengan karier tinggi. Apalagi untuk pekerja pabrikan atau penggarap sawah. Biarlah gaya berpakaianmu itu ditiru para priyayi itu. Aku tidak ingin jadi priyayi.

Yang aku ingin adalah menerbitkan ‘terang’ di tengah kegelapan. Bukankah itu yang kaucita-citakan sepanjang hidupmu, menjadi secuil bagian dari terbitnya ‘terang’?

Dan cita-citamu ini adalah abadi. Ia menembus berbagai generasi. Kalaupun aku melakukannya, barangkali hanya ‘terang’ lilin yang berhasil kuterbitkan. Terang lilin hanya menyinari sebuah bilik kecil, tak banyak orang bisa menikmatinya.

Barangkali cita-citamu senada dengan apa yang dikatakan Sidharta Gautama: “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.” Zaman telah berubah, dan kegelapan adalah pemandangan yang kerap membuat kuduk merinding karena saking seringnya. Banyak orang mencaci maki dan menghardik gelapnya sekeliling, tapi tak sanggup memberi terang apapun, bahkan secercah sinar kunang-kunang lebih berguna ketimbang hardik dan caci-maki mereka.

Kau sudah mati, Kartini. Tak guna menghidupkanmu kembali. Tapi ‘terang’ yang kau dambakan tetap abadi, tak akan lekang oleh waktu.[]

8 Replies to “Hari Kartini”

    1. mhilal Post author

      Itu foto keren, pik. Momennya pas bgt. Sudai emang peka sekali melihat momen 😁😁

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *