By | Agustus 13, 2016

between_the_walls

Film Prancis selalu bikin gemas. Entre les murs (arti: di antara dinding-dinding) ini misalnya. Menontonnya, kamu tidak akan mendapatkan jawaban definitif. Di ujung cerita masih tersisa banyak sekali pertanyaan-pertanyaan.

Tapi, menurutku, di situlah pesona film ini terletak. Dalam hal tertentu, barangkali kau akan menyaksikan sosok seperti Ikal dalam Laskar Pelangi berikut Bu Muslimahnya yang bersahaja. Kau pun tidak mendapatkan sosok Ibu Guru Erin Gruwell dalam Freedom Writers yang terang mendidik di kelas. Entre les murs adalah kisah seorang guru yang juga manusiawi di hadapan para siswa yang manusiawi pula.

Seorang guru bahasa Prancis, bernama François Marin, menghadapi para murid yang aduhai merepotkan. Mengajar di kelas itu betul-betul tidak mudah. Sulit mengharapkan perkembangan berarti dari mereka. Entah sekolah macam apa itu, tapi para penghuninya luar biasa beragam; ada yang keturunan Mali, ada yang Tionghoa, ada yang keturunan Turki, Aljazair, lalu entah dari mana lagi.

Para guru di sekolah itu banyak yang tertekan menghadapi kelas satu ini. Ada salah seorang guru yang keluar kelas sambil mengoceh tentang anak-anak itu hingga ke kantor sekolah. Dia luapkan segala kekesalannya di kantor. Anak-anak brengsek, selalu ramai, tak mau berhenti bicara di kelas, hingga entah ocehan apalagi dia luapkan. Guru lain di kantor itu tampak membiarkannya mengoceh, membiarkannya meluapkan kekesalannya.

Tapi tidak bagi François Marin. Dia awalnya tampak asyik-asyik saja menghadapi anak-anak merepotkan itu, meskipun dia kewalahan juga sebetulnya. Tapi semuanya berjalan baik-baik saja. Dia berhasil mengajak anak-anak itu mengucapkan kata yang lebih sopan ketimbang yang biasa mereka ucapkan. Dia berhasil mengajak mereka mengerjakan tugas menulis profil masing-masing. Memang terkadang ada cekcok antara dirinya dan anak-anak tertentu, tapi sejauh ini dia berhasil tertawa riang bersama mereka. Sejauh ini, semua masih wajar-wajar saja.

Di antara anak yang cukup sulit diajak kerja sama adalah Khoumba, si gadis hitam entah keturunan negara mana. Tapi François Marin masih bisa mengendalikan diri dan menyuruh gadis itu menyerahkan laporan bukunya dengan cara yang sopan (meskipun mereka berdua seperti bertengkar). Itu semua masih biasa. Wajar-wajar saja.

Pernah suatu ketika terdengan kabar bahwa ibu Wei, salah seorang murid di kelas merepotkan itu, terancam dideportasi ke negara asalnya. Kabar ini menjadi obrolan serius di kantor sekolah. Semua guru bersahut-sahutan membincangkannya. Salah seorang guru perempuan tiba-tiba menyebutkan kabar gembira lain: dirinya sedang hamil. Lalu mereka merayakannya dengan minuman, satu sama lain bersulang. Si guru yang sedang hamil menyatakan harapannya untuk anak yang sedang dikandungnya: semoga kelak dia akan secerdas Wei. Sebuah harapan yang sangat manis.

François Marin mulai benar-benar kerepotan menghadapi kelas itu ketika dia menyuruh anak-anak berbicara di depan tentang apapun yang ingin mereka bicarakan. Beberapa anak lelaki berbicara tentang sepakbola di negara asal mereka. Yang dari Mali membanggakan timnas sepakbolanya karena berhasil menggilas Aljazair dengan skor fantastis. Lalu seorang anak keturunan Aljazair maju ke depan, membela timnas sepakbolanya dengan alasan ini dan itu. Tapi setelah itu, maju lagi seorang anak keturunan Mali yang lebih memilih timnas Prancis ketimbang negara asalnya.

Respons dari teman-teman sesama keturunan Mali ternyata sangat heboh. Terutama Soulaymane, salah seorang murid keturunan Mali, yang berlebihan meresponsnya dengan kata-kata kasar, bahkan rasis. Kelas menjadi gaduh. François Marin mencoba menenangkan Soulaymane, tapi Soulaymane sudah terlalu emosi. Dia tidak mau diajak kerja sama. Kejadian ini berakhir dengan Soulaymane dibawa ke kepala sekolah. Membawa seorang murid ke kepala sekolah berarti urusan gawat. François Marin terpaksa sekali melakukannya, dia sudah tidak bisa menangani sendiri kelakuan Soulaymane.

Kejadian semakin gawat ketika, karena saking emosinya, François Marin menyebut Esmeralda (seorang anak yang merepotkan juga di kelas itu) dengan “skank.” Kata ini berarti pelacur. Kejadiannya adalah karena di hari sebelumnya, Esmeralda dan Khoumba yang diikutsertakan mengevaluasi perilaku kelas merepotkan itu berkelakuan mengganggu. Mereka berdua ketawa-ketiwi tidak jelas, membuat suasana evaluasi sangat terganggu. Besoknya, di kelas, François Marin bilang bahwa kalau mereka ketawa seperti itu mereka tak ubahnya seperti skank. Ini tentu saja perkataan akibat terlalu emosi, dan sebetulnya emosi seperti itu tidak seharusnya terjadi, sebab di belakang akan merepotkan François Marin sendiri.

Dan betul. Pada akhirnya, semua menjadi sangat buruk. Soulaymane dikeluarkan dari sekolah itu karena secara tidak sengaja melukai hidung Khoumba. Dikeluarkannya Soulaymane sangat menyakitkan bagi François Marin.

Tapi film ini diakhiri dengan kejadian yang sangat manis. Ya, manis bagi François Marin. Di satu sisi, dia amat kehilangan Soulaymane karena kejadian yang seharusnya tidak terjadi. Diakui atau tidak, François Marin juga ada peran, sungguhpun tidak disengaja, atas kepergian Soulaymane. Itu jelas meninggalkan getir di hati François Marin.

Di sisi lain, ada hal mengejutkan ketika sekolah itu mencapai akhir tahun. François Marin bertanya kepada para murid, apa yang sudah mereka pelajari selama setahun ini. Macam-macam jawaban para murid. Khoumba, misalnya, menjawab bahwa dia sedang belajar musik. Lalu ada Boubakar, salah seorang anak yang sering bikin gaduh di kelas, mengaku sedang belajar Trigonometri dan dia menjelaskan Teorema Pithagoras dengan terbata-bata, tapi itu adalah hasil usahanya sendiri. Dan Esmeralda, anak yang pernah dikatai skank dan amat merepotkan François Marin, mengaku baru saja membaca buku Republic-nya Plato. Semuanya menceritakan hasil pembelajarannya, dan semuanya sangat mengejutkan. Kejutan-kejutan itu membuat François Marin terpana. Andai saja Soulaymane masih di kelas itu, tentu dia akan membawa kejutan yang tak kalah hebat.

Jadi, sudah kubilang sejak awal, film ini tidak bisa serta-merta disamakan dengan Laskar Pelangi atau Freedom Writers, meskipun sama-sama mengangkat tema pendidikan. Barangkali, kesamaan di antara ketiganya adalah bahwa semuanya diangkat dari buku. Tapi tak bisa disangkal bahwa Entre les murs ini memiliki keunikannya sendiri. Terutama, dan yang paling terasa, adalah cita rasa Prancisnya.

Selain itu, kenapa film ini jadi sangat menarik ditonton di mataku adalah karena aku bisa mempelajari sesuatu. Tampak sekali bahwa film itu mengangkat problem sosial yang sedang dialami negeri itu: kaum imigran dan tantangan hidup berdampingan bersama mereka.[]

Sumber gambar:
Entre les murs

20 Replies to “Entre les murs (2008)”

  1. kutukamus

    Sudah lupa detailnya. Tapi yang jelas aktingnya rata-rata jauh lebih realistis daripada produk Hollywood. Dan khas Prancis—menyampaikan sesuatu, tanpa memaksakan ‘wow’. >-I

    Reply
    1. mhilal Post author

      Setuju, ‘wow’ sekali memang. Pesan yg ingin disampaikan sangat tersirat sekali, kadang perlu waktu untuk menangkapnya. Itu asyik sekali…

      Reply
  2. bicara

    kayaknya pracis sudah lama terbiasa dengan imigran dari bekas jajahan utamanya, krisis ekonomi sepertiya yang bikin sosok kayak le pen bisa menggaung

    Reply
    1. mhilal Post author

      setuju mas, bukua. Eh, tapi nama Le Pen baru kali ini saya dengar. Harus googling dulu biar ngerti komentar mas bukua :mrgreen:

      Reply
      1. Libi

        Seseorang yg beberapa bulan lalu aku cintai 🙈🙈🙈
        Benci sama aksen perancis😝😝😝

        Reply
          1. Libi

            Bukan benci orangnya cuma benci aksen perancisnya, belajar berbulan2 dan ga pernah bisa. Ah payah🙈🙈🙈

            Reply
              1. Libi

                Mana mungkin aku bisa benci dia, dia spesial meskipun menyebalkan😊
                Eh kok jadi curhat gini 🙈🙈🙈🙈

                Reply
                1. mhilal Post author

                  Haha … iya, libi malah jadi curhat ini. Coba ditulis di blognya, pasti saya baca dan komentarin nanti

                  Reply
                  1. Libi

                    Kalo ditulis terus pasti juga terus diingat, lebih baik dilupakan ketimbang bikin patah hati🙈🙈🙈🙈 apaaan inih

                    Reply
                    1. mhilal Post author

                      Lha, ini dari tadi libi kan sudah nulis banyak 😄 sok, tulis saja atuh…

                    2. Libi

                      Ngga ah, kalo nulis dia itu memalukan, menyebalkan kalo ga bisa dilupain🙈🙈🙈

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *