By | July 9, 2016

jackie_chan

Lebaran kali ini rupanya lebarannya Jackie Chan. Beberapa hari ini sejak lebaran kemarin, film-filmnya tayang setiap malam di sebuah stasiun TV kita.

Film-film yang tayang hingga hari ini, semuanya sudah saya tonton. Belum ada judul yang asing bagi saya. Ketika tulisan ini dibikin (9/Juli/2016), tayang film Karate Kid. Inipun sudah saya tonton.

Terdorong oleh rasa penasaran, saya mencari nama Jackie Chan di Youtube. Di situ saya mendapatkan banyak sekali video tentangnya. Dari wawancara yang dia lakukan, ada beberapa sisi pribadi darinya yang baru saya ketahui .

Misalnya, saya mendapat kesan bahwa pembawaannya yang kocak itu tidak cuma di film, namun dirinya memang lucu. Saat wawancara dia memang suka bikin penonton tertawa. Michelle Yeoh, yang pernah main film bareng dengannya dalam Police Story 3: Super Cop, pernah berkata: “Apa yang kita lihat dalam film adalah Jackie Chan sesungguhnya.” Artinya, di dunia nyata Jackie Chan memang lucu.

Masa kecil Jackie Chan sering dia ceritakan dalam kesempatan wawancara. Dia lahir dalam keluarga yang sangat miskin. Saking miskinnya hingga tak lama setelah dia lahir, pernah muncul gagasan untuk menjualnya ke orang kaya untuk bertahan hidup. Tapi bapaknya berubah pikiran dan bertekad tetap akan membesarkannya. Itulah kenapa Jackie Chan sangat menghormati ayahnya.

Jackie Chan gagal bersekolah. Usia 7 tahun dia bergabung dalam kelompok opera China dan dididik seni beladiri di sana. Di satu sisi, ada kesan sedih dan penyesalan karena dia tidak sekolah ketika kecil, di sisi lain, dia merasa beruntung karena dididik dengan cara tradisional di lingkungan opera China. Dia merasa mendapat banyak sekali pelajaran dari sistem pendidikan itu.

Selama 10 tahun dia di opera, selama itu pula dia diajari Kung Fu oleh gurunya. Pendidikan di opera dia gambarkan sebagai pendidikan yang sangat keras dan melelahkan. Menurut penuturannya, gurunya sering memukulnya dengan tanpa alasan. Dia sering disuruh diam dalam posisi Kung Fu tertentu, dan bukan dalam waktu sebentar, posisi diam tak bergerak itu bisa berlangsung selama 30 menit. Jika dia gagal melakukannya, hukumannya tentu adalah pukulan yang sangat keras. Selama 10 tahun dia menjalaninya secara sabar.

“Apakah menurut Anda cara pendidikan seperti itu baik,” tanya seorang pewawancara asal Amerika. Di hadapan audiens Amerika, secara mengejutkan Jackie Chan menjawab, “bagus!” Tentu saja semua audiens Amerika itu tertawa. Jackie Chan segera menyusulkan keterangannya. Baginya, pendidikan keras yang telah dia dapatkan itu mengajarinya tentang disiplin. Hingga kini, dia tetap berdisiplin dalam hidupnya, mis., mencuci pakaian sendiri, rutin berolahraga, kerja keras, dan terus mau belajar.

Dalam kesempatan wawancara lain, dia sering bercerita tentang dilema yang dia hadapi. Dia memang suka membuat film laga. Film laga adalah hasrat hidupnya. Tapi, pada saat bersamaan, dia sangat tidak suka terhadap kekerasan. Dilema itu membuat dia terus berpikir, bagaimana caranya agar film yang dia buat tidak mengajarkan kekerasan kepada penontonnya. Dia sangat sadar bahwa film bisa secara tak sadar mengajarkan sesuatu kepada penontonya.

Itulah alasannya, kenapa dalam karirnya dia selalu menggabungkan antara laga dengan komedi. Dia berharap, orang-orang yang menonton film laganya bisa tertawa terbahak-bahak dan melupakan sisi kekerasan di dalamnya. Seperti film Rumble in the Bronx (rilis 1995). Di situ betul-betul minim humor. Penonton akan menyaksikan tawuran, kelahi, kejar-kejaran, dan erangan akibat digebuk lawan.

Setelah sukses didapat oleh film Drunken Master (rilis 1978), Jackie Chan berkisah, di satu sisi dia khawatir bahwa film itu akan mengajari penonton untuk suka berkelahi sambil mabuk-mabukan. Lebih dari 1 dekade kemudian dia susul film itu dengan Drunken Master II (rilis 1994) yang lebih banyak bernuansa komedi, dengan harapan orang terhindar dari yang dia khawatirkan.

Dan kita pun maklum, komedi yang dia tawarkan memang khas. Dia pernah membuat film laga dengan komedi penuh mimik yang dibikin lucu dan tidak wajar, mis., mata juling saat kena gebuk lawan. Cara ini kental dalam, misalnya, film Snake in the Eagle’s Shadow atau Dragon Lord. Belakangan dia insyaf bahwa humor harus dimasukkan dalam cerita. Dia menampilkan humor yang lebih alami dan lebih menonjolkan cerita ketimbang mimik. Kita bisa melihatnya, misalnya dalam Twin Dragons atau City Hunter. Dalam Who Am I?, humor ini semakin mantap dan menjadi identitas dari Jackie Chan.

Jagoan dalam film-filmnya juga lebih manusiawi. Pengalamannya sebagai pemeran pengganti Bruce Lee mengajarinya bahwa Bruce Lee adalah jagoan yang terlalu hebat. Musuhnya dia pukul sekali, terpental beberapa meter, dan langsung tumbang tak mampu berdiri lagi. Jackie Chan merasa jagoan semacam ini terlalu jauh dari kenyataan sehari-hari. Oleh karenanya, dia menciptakan jagoan yang lebih manusiawi dan mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Tokoh jagoan yang dia bikin adalah orang yang memukul lawannya berkali-kali, dan karena lawannya masih juga berdiri, dia pun lari terbirit-birit. Itu adalah gambaran jagoan yang lebih cocok untuk kepribadiannya, selain bisa jadi pintu masuk humor juga.

Menonton berbagai wawancara dan mendengarkan sendiri pengakuan-pengakuan yang Jackie Chan berikan memberikan banyak inspirasi. Saya jadi mafhum bahwa Jackie Chan memang pekerja keras, namun di balik kegelimangan prestasi yang sudah dia capai, dia tetap menjadi individu yang rendah hati. Ceritanya tentang usahanya menyelesaikan persoalan-persoalan yang dia hadapi adalah yang paling menarik bagi saya.

Pernah dia berpikir, bagaimana menghadapi kecenderungan film Hong Kong yang suka meniru sukses yang didapat oleh film. Di masa ledakan film-film Bruce Lee, banyak sekali film yang menconteknya. Bahkan bermunculan banyak sekali aktor yang nama depannya Bruce. Jackie Chan berhasil mengeluarkan film Snake in the Eagle’s Shadow yang sukses besar. Lagi-lagi, film ini dicontek oleh orang lain. Gaya kung fu dalam film ini dicontek. Akhirnya, dia bereksperimen dengan adegan-adegan berbahaya tanpa pemeran pengganti. Dan eksperimen ini pun berhasil. Para pencontek itu menganggapnya terlalu gila untuk ditiru.

Pengalaman Jackie Chan melakukan aksi gila nan berbahaya pun bukan lagi perkara asing. Bahkan dalam filmnya pun, penonton sudah bisa merasakan betapa berbahaya adegan tersebut. Tonton saja film Police Story: 1, 2 dan 3, aksi-aksi yang dilakukan memang pantas disebut gila. Di Yugoslavia, dia pernah mengalami kecelakaan karena nekat melompat ke dahan pohon, dan dahan itu patah. puluhan meter dia terjatuh ke bawah, dengan kepala lebih dulu membentur bumi. Dia mengalami pendarahan akut. Ajaibnya, dia masih hidup! Itu pun tidak membuatnya jera.

Apa cita-cita hidup Jackie Chan, seorang pewawancara pernah bertanya padanya. Jackie Chan menjawab, bahwa dia pernah punya cita-cita begini: menembus pasar Amerika, menembus pasar dunia, dan namanya tertempel di Hollywood Walk of Fame. Kini ternyata semua cita-cita itu sudah tercapai. Masih adakah cita-cita yang ingin dia capai? Jackie Chan menjawab: perdamaian di dunia.[]

Sumber Gambar:
Ingrid Richter

12 Replies to “Cita-cita Hidup Jackie Chan”

  1. nabila

    ulasan yg bagus
    Sy jg sring liat video interview jackie chan yg ud sy donlot dr yutub tpi syg b inggrisq trutama listening agk kurang hhehe Jd gk bgitu pham..
    klo gk salah dlm swtu wa2ncara jackie prnah bilang bhw dkhidupan nyata Dy prnah trlibat prkelahian smpe menonjok se2org ps kna mulutny.skip skip esok hriny jackie mrasa tanganny yg biz mukul org it bauny gk sedap amis2 busuk gmna gtu.ps dcek ehh trnyata ad secuil gigi yg msuk k dlm tanganny. Serem bget ihh 😨😨😨 (ksi cendol jka saya salah)

    Reply
    1. mhilal Post author

      betul. Jackie pernah cerita begitu 😀 😀 😀 Dia ketakutan pergi ke dokter. Jadi ditahan saja rasa sakitnya. Lama-kelamaan, ternyata makin bengkak lukanya. Setelah dicongkel, ternyata ada gigi masuk ke situ…. haha

      Reply
  2. Rosanna Simanjuntak

    Ya, ampun suka banget dengan tulisan ini.

    Apalagi pas yang ini:

    “Tokoh jagoan yang dia bikin adalah orang yang memukul lawannya berkali-kali, dan karena lawannya masih juga berdiri, dia pun lari terbirit-birit.”

    “Terbirit-birit…”

    Langsung anganku membawa ke suatu tempat yang luas dan akupun ikut terbirit-birit!”

    Hihihi…

    Reply
    1. mhilal Post author

      Hahaa… terbirit-birit kan karena dikejar² makhluk berbahaya, mbak. Kalau ndak ada yg mengejar jadinya lari pagi.
      Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bisa berbagi selalu hhee

      Reply
  3. A. Prakosa

    Bisa dibilang impian merupakan nyawa bagi manusia, manusia tanpa impian bagaikan mayat berjalan. Sukses bukan hanya milik orang orang yang pendidikan tinggi saja, tapi juga milik orang yang mau bekerja keras dan memiliki kemauan untuk mengejar impian itu sendiri. hahaha njirr kayak abis liat mario teguh 😀
    makasih banyak mas, saya jadi belajar banyak dari riwayat om jackie chan diatas hihihi

    BTW, salam kenal mas Hilal :))

    Reply
  4. kang nur

    Yang saya suka dari jacki itu kalo berkelahi ga pernah pake senjata api… gerakannya kadang seenaknya saja

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *