By | February 25, 2017
bedah buku Assalamu'alaikum Setan di IAI Al-Qolam

Zain Bamuala membaca Puisi Di Acara Bedah Buku “Assalamu’alaikum Setan”. Dok pribadi.

Membaca novel karya Afif Al-Fariq ini seperti memasuki sebuah dunia yang ditinggali selama bertahun-tahun, namun oleh karena malas meluangkan waktu untuk permenungan, dunia itu menjadi terlalu biasa dan miskin kedalaman di mata saya. Oleh karena itu, ketika membacanya, ada beberapa letupan-letupan kesadaran akan betapa abainya kita terhadap apa yang kita tinggali dan hidupi ini.

Kehadiran novel ini, dan novel-novel lain yang mengangkat tema pesantren, patut disyukuri sebagai bagian dari upaya merangsang letupan-letupan kesadaran baru tentang dunia pesantren dan kehidupan sehari-hari kaum santri. Saya yakin kaum santri tidak kurang mendalam dalam menghayati kehidupan dan lingkungannya, namun mereka yang bersedia menulis dan mencatatnya amatlah sedikit bila dibandingkan pusaka tradisi yang dimilikinya. Di sinilah arti penting upaya Afif Al-Fariq ini: menguri-uri pusakanya yang telah terlalu terabaikan untuk ditulis dan dicatat.

Apalagi, sudah bukan rahasia lagi bahwa novel “Assalamu’alaikum Setan” adalah bukunya kesepuluh yang berhasil dia terbitkan. Tentu kita semakin girang sebab upaya itu ternyata amatlah semarak, dan Afif terlibat di dalamnya. Sepuluh buku bukan jumlah sedikit, tidak mudah merampungkannya, tidak gampang menekuninya.

Namun, pada saat novel “Assalamu’alaikum Setan” ini sudah terbit, ia lantas terlempar ke ruang publik dan menjadi milik para pembaca. Dari situ, peluang untuk membacanya sebagai sebuah karya sastra menjadi terbuka seluas-luasnya, tanpa tedeng aling-aling. Kita harus menyambut kesempatan itu, agar perenungan tentang pesantren sebagaimana disinggung di atas bisa makin mendalam dan meluas. Lebih dari itu, memasuki peluang untuk membacanya merupakan sebentuk apresiasi terhadap lahirnya suatu karya. Tulisan pendek ini adalah salah satu sambutan kesempatan itu sekaligus apresiasi terhadapnya.

***

Pesantren adalah sebuah dunia luas, meliputi berbagai aspek kehidupan dunia santri. Meski seorang santri sudah tidak lagi tinggal di pondok pesantren, namun rasa kesantriannya tidak akan berhenti hingga di situ semata, sebab dalam alam pikir seorang santri hubungan guru-murid terikat hingga dunia setelah kematian. Dengan begitu, kebutuhan seorang santri akan bimbingan kiainya berlangsung tidak sekadar semasa menimba ilmu di pesantren, melainkan hingga si santri terjun ke masyarakat, bahkan hingga kiainya sudah mangkat dipanggil Tuhan sekalipun.

Tidak sedikit cerita seorang santri yang mengalami “perjumpaan” dan “dibimbing” oleh kiainya yang sudah wafat, entah melalui perantara mimpi atau pengalaman spiritual lain. Alam pikir seorang santri membentangkan tali hubungan guru-murid itu dalam rentang waktu yang abadi.

Hal ini rupanya direkam dan dinarasikan dengan khas oleh Afif dalam novelnya itu. Kekhasan itu makin menukik sebab tokoh yang diangkat oleh Afif adalah seorang santri, bernama Yusuf, yang latar belakangnya adalah orang Madura perantauan di Kalimantan Barat. Seperti umumnya orang Madura di Kalimantan Barat, Yusuf menimba ilmu di sebuah pesantren di Jawa.

Di sebuah pesantren di Jawa Yusuf menghabiskan seperempat masa hidupnya. Jarak yang jauh antara lokasi studinya dengan kampung halamannya, apalagi karena keluarganya yang miskin, membuat Yusuf tidak pernah pulang kampung sepanjang studi. Kenyataan ini memang umum dialami oleh para santri asal Kalimantan Barat: hidup menahun di pesantren Jawa dan jarang sekali pulang kampung, bahkan ada yang tidak sama sekali sepanjang studinya.

Hal menarik ini bisa dibilang unik dan lokal bahkan dalam jagad pesantren sendiri. Lokalitas ini pun berhasil ditangkap oleh Afif sebagai bahan utama ceritanya. Dari sini, timbul pertanyaan yang akan selalu dialami oleh cerita sastra yang mengangkat tema lokalitas tertentu: bagaimana Afif meramu ceritanya agar tidak terlalu lokal (Madura perantauan di Kalbar) dan bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas? Dengan kata lain, bagaimana Afif keluar dari jebakan lokalitas ekstrem sehingga bisa menyeimbangkannya dengan universalitas?

Tampaknya, tema pendidikan sebagai suatu problem solving merupakan tema universal yang coba dimasuki oleh novel “Assalamu’alaikum Setan” ini. Dalam kerangka ini pula judul novel ini menemukan maknanya. Syahdan, karena surat wasiat yang didapatkan dari mendiang bapaknya, Yusuf harus pulang ke kampung halamannya. Dia juga berjumpa dengan kawan masa kecilnya, Rohim, yang mengerti benar nasib malang yang dialami oleh sahabatnya itu. Yusuf dan Rohim akhirnya mengalami pengalaman yang bisa diringkas menjadi judul novel ini.

Dua sahabat sejoli itu menghadapi kenyataan bahwa sebagian masyarakat di situ tidak terlalu mengindahkan agama, bahkan meremehkannya dengan ejekan intimidatif. Orang-orang ini sudah bosan pada agama. Selaku jebolan yang masih segar dari pesantren, Yusuf menyadari kenyataan ini dan bercita-cita mengembalikan fitrah mereka sebagai makhluk beragama. Namun, rumusan strategi Yusuf terbilang berbeda dari cara para pendahulunya yang sekadar mengandalkan ceramah di masjid atau ngerasani dari jauh. Cara seperti itu Yusuf temui kurang efektif. Strategi yang Yusuf pakai adalah memasuki dunia hitam itu, memasukinya sebagai sebuah fakta sosial, lalu menikung di belakang untuk mengarahkannya sesuai harapan Yusuf. Singkat kata, Yusuf menyusup ke dunia berandalan itu, juga menjadi bagian di dalamnya.

Oleh karena itu, Yusuf menghadapi tantangan tidak mudah dalam menjalankan strategi perubahannya ini. Di satu sisi, dia harus menghadapi cibiran masyarakat karena diangggap terlalu mendalam terlibat dengan lingkungan patologi sosial itu. Di sisi lain, Yusuf kerap diledek oleh penghuni dunia gelap itu, sebab dia berusaha mempertahankan identitasnya sebagai santri: tetap ke musalla menjalani kewajiban agama.

Dilema inilah sebetulnya tema utama dalam novel itu. Dengan menarik, Afif meringkasnya menjadi sebuah judul yang dilematis, “Assalamu’alamualaikum Setan“. Sepintas, judul itu mengundang tanya, bagaimana bisa setan diucapkan salam? Bukankah setan adalah musuh yang nyata? Tapi, pada saat bersamaan, kita tidak jarang melakukannya tanpa sadar, sebab kadang setan juga dari kalangan manusia dan salah satu perbuatan baik yang diajarkan Nabi adalah menyebarkan salam kepada sesama manusia. Dilema semacam itu memang tidak terelakkan akan dihadapi oleh siapapun.

Tarik-menarik dan dilema itu mulai terjawab ketika ada musyawarah di kalangan kampung itu. Musyawarah itu diinisiasi oleh Yusuf dan, tentu saja, Rohim. Singkatnya, musyawarah itu merembukkan rencana Yusuf untuk mendirikan pesantren. Cerita rekaan ini menjawab posisi Yusuf yang sebenarnya di hadapan masyarakatnya secara umum, baik dari kalangan putih maupun hitam, yakni pesantren sebagai penawar penyakit masyarakat.

Pada dasarnya, jawaban dari persoalan di atas juga menunjukkan secara gamblang posisi yang diambil oleh Afif sendiri. Sebagai alumni pesantren dan bergaul dengan kalangan pemuda yang suka keluyuran, Afif masih menyimpan harapan besar bahwa penyakit-penyakit di masyarakatnya perlu diselesaikan secara kultural. Pendidikan sebagai sebuah social problem solving merupakan pandangan filosofis yang dianut oleh Afif. Dan tidak bisa disangkal, pada hakikatnya pesantren pada umumnya menganut pandangan seperti itu. Di dunia kaum bersarung ini, pandangan filosofis tersebut terkristal dalam adagium-adagium yang populer di kalangan mereka, seperti “ilmu yang bermanfaat”, “perjuangan”, “melayani masyarakat”, dan lain-lain. Semua istilah semacam itu merupakan kearifan lokal yang mencerminkan suatu pendirian filsafat pendidikan yang diambil oleh pesantren. Belakangan bahkan pendirian berkembang menjadi “pesantren sebagai kritik sosial” yang sasarannya menjadi sangat luas dan merambah lingkup yang sebelumnya tidak terjamah oleh pesantren.

Namun ada sesuatu yang menjengkelkan dari uraian cerita dalam novel ini. Latar yang berupa Madura perantauan di Kalimantan Barat kurang dieksplorasi dengan memadai oleh Afif. Keunikan-keunikan sosial yang dimiliki oleh komunitas Madura perantauan ini tidak banyak dijelaskan sehingga terasa ada peluang besar yang terlewatkan oleh novel ini. Bayangkan jika problem yang dihadapi oleh komunitas ini menjadi tema yang sentral, saya yakin cerita yang dikarang bisa menjadi lebih kompleks dan penuh kejutan.

Peluang yang dilewati itu, misalnya, tantangan multikulturalisme yang dihadapi sehari-hari oleh komunitas madura perantauan di Kalimantan Barat. Sudah bukan rahasia lagi, ragam suku yang terdapat di sana amatlah beragam rupa, membentang dari masyarakat Bugis, Melayu, Tionghoa, Dayak, dan Jawa. Kenyataan ini menjadi tantangan yang tidak remeh, sebab di satu sisi komunitas Madura dituntut untuk melebur bersama menjadi suatu masyarakat yang harmonis, tapi pada sisi yang lain juga dituntut untuk mempertahankan identitas kemaduraannya. Tarik-menarik dua tuntutan ini kadang menimbulkan gesekan, dilema, konflik batin, bahkan pernak-pernik perenungan yang seharusnya memukau. Kehidupan di tengah-tengah keberagaman tak diragukan lagi merupakan modal besar yang dimiliki oleh komunitas Madura perantauan di Kalimantan Barat.

Tema multikulturalisme kini menjadi pembicaraan yang amat ramai dikasak-kusukkan di berbagai belahan dunia. Di Eropa sana, misalnya, sedang dicari suatu penyelesaian bagaimana caranya hidup bersama. Berbondong-bondong berdatangan orang luar Eropa ke sana. Mereka bingung, khawatir, takut, juga berharap banyak dan menyimpan rasa senang. Namun, meski kenyataan keragaman itu nyata, rumusan hidup bersama belum ditemukan. Dalam rangka menghadapi fakta sosial itu, mereka berpikir keras dan meminta pendapat banyak pihak.

Adapun Kalimantan Barat, telah berabad-abad penduduknya hidup dalam keragaman. Sudah barang tentu rumusan hidup bersama sudah mereka miliki. Apa dan bagaimana rumusan itu, itulah pertanyaan yang sebetulnya menarik untuk dijawab. Apalagi bila rumusan itu ternyata bisa ditemui di setiap suku yang hidup di bumi Kalimantan Barat, tentu konsep dan rumusan itu bisa menjadi kekayaan kultural yang dimiliki olehnya.

Sayangnya, persoalan ini tidak disinggung sama sekali dalam novel Assalamu’alaikum Setan.

***

Perihal kisah percintaan dalam Novel ini pun, menurut saya, sangatlah mainstream dan itu-itu saja. Kisah cinta yang ditawarkannya sudah banyak ditemui di tempat lain. Membacanya seperti mendengar perulangan cerita yang sama yang tiada henti. Dalam kadar terentu, cerita semacam ini tampaknya sudah jadi ciri khas FTV.

Cobalah tonton FTV dan akan kau lihat sebuah alur percintaan yang seluruhnya serupa: bertemu tak sengaja, bertengkar, lalu jatuh cinta. Pola jalan cerita semacam inilah yang dialami oleh Yusuf dan Masya ketika mereka mendapati benih-benih cinta di hati mereka. Semua begitu spontan, semua di luar kendali mereka.

Menceritakan kisah cinta adalah tantangan yang tidak mudah bagi seorang pengarang, sebab jumlah tulisan tentang pengalaman manusia yang satu ini sudah sedemikian banyaknya. Berjuta-juta tulisan tentang pengalaman percintaan sudah tersedia. Lalu apa yang tersisa? Cerita cinta macam apa kira-kira yang bisa dibilang unik? Begitulah tantangan itu berbunyi.

Namun, barangkali tidak perlu mencari cerita cinta yang betul-betul belum pernah ditulis sebelumnya. Kendati cerita cinta itu sudah ditulis orang lain sebelumnya, barangkali tidak ada salahnya menceritakannya kembali dengan modifikasi kecil-kecilan di sana-sini, sebab apa yang dialami seseorang tidak bisa sama. Itulah yang tampaknya diupayakan oleh penulis novel Assalamu’alaikum Setan ini ketika dia menceritakan perjodohan Yusuf dengan anak sang kiai.

Yusuf dijodohkan dengan seorang gadis yang belum pernah ditemuinya sebelumnya, dan gadis itu digambarkan jauh dari kesan cantik. Oleh karena patuh pada titah sang kiai, Yusuf mengiyakan perjodohan itu tanpa protes. Tapi ternyata perempuan yang ditemuinya di kamar penagantin jauh dari gambaran semula. Ia cantik tiada terkira. Cerita semacam ini sudah sering kita dengar, tidak ada yang baru sama sekali, juga tidak ada sisi uniknya. Namun, kita patut bersyukur, di kalangan luar pesantren cerita ini sangat asing dan sulit dinalar, sebab hanya kaum santri yang memiliki konsep etis yang menjunjung kepatuhan mutlak kepada guru. Pesan yang hendak disampaikan memang sangat terang benderang: sesetan apapun seorang santri, toh dia tetap patuh juga kepada gurunya, sehingga sebutannya sebagai setan pun menjadi buram dan sia-sia.

Sebagai pembaca novel ini, saya merasa kisah cintanya adalah hal yang paling patut kena sorotan tajam.[]

11 Replies to “Catatan Singkat Mengenai Novel “Assalamualaikum Setan””

    1. mhilal Post author

      Jika terluka, hindari pohon akasia. Tolong hindari, agar tak ada yang menemukanmu tergeletak berdarah-darah

      Reply
  1. Bang Ical

    Saya jadi ingat guru ngaji saya, Kang. Dia rutin menemani orang-orang di kampungnya yang main togel, menegak miras, dll. Dikawani, tanpa terlarut. Pelan-pelan dikenalkan pada Allah 😃

    Reply
  2. belalang cerewet

    Barangkali kisah cintanya disisipkan setelah plot utama sudah jadi, Mas, jadi terkesan stereotip. Judulnya juga kurang greget, menurut saya, hampir-hampir saya tuding mendompleng Assalamualaikum, Beijing! Btw, tadi ada kalimat yang belum tuntas, tapi saya cek lagi kok sudah lengkap ya. Apa mataku yang jereng, haha….

    Reply
    1. mhilal Post author

      Hehe… emang sehabis terbit, tulisan ini mengalami beberapa kali revisi, mas.

      Ah, betul. Judulnya mirip sama assalamualaikum beijing ya, mas. Baru kepikiran sy. Trims banyak atas tambahan ulasannya mas belalang.

      Setuju juga soal kisah cinta itu, mas. Jadinya mainstream bgt gitu.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *