By | Maret 12, 2017

 

“Selamat pagi, komandan!”

Aku sontak menoleh ke asal suara. Si pemilik suara tentu sudah kukenal baik, sebab logat, diksi, dan frequensi getarannya sudah amat akrab di telingaku. Dia memarkirkan sepeda motornya di halaman kantor Diniyah, menyunggingkan senyum kudanya, lalu masuk ke kantor, bergabung denganku.

Menyambutnya, tentu kubalas salamnya dengan penghormatan serupa: “Selamat Pagi, Kumendan!”

Hari ini penampilannya tidak lumrah. Sarung, kemeja putih dan sebuah kopiah putih di kepala. Gaya tak lumrah itu mengesankan seperti politisi yang tertangkap KPK, mendadak relijius penampilannya.

Dengan senyum kuda yang masih tersungging, dia menyalami saya dengan penuh percaya diri. Duduk di kursi sebelah, kulihat ada ponsel android di saku kemejanya.

“Wah, ponsel baru baru, Ndan?” Tanyaku, memulai percakapan.

“Iya, ini sesuai instruksi kiai agar membuang ponsel ne-no-net (non android) yang dulu,” jawabnya, masih memanggilku dengan julukan pejoratif itu, meniru-tiru saja.

“Apa ponsel baru tidak akan mengendurkan semangat revolusi, Ndan?” Tanyaku.

“Tentu tidak, Ndan,” jawabnya. “Ponsel ini biar makin connected. Kerja-kerja revolusi akan makin luas dan cepat nanti.”

“Soal penampilan baru ini, apa ada indikasi keluar dari kerja revolusi, Ndan?” Kucecar lagi dia dengan pertanyaan.

“Penampilan apa?”

“Itu penampilanmu. Tidak biasanya pakai sarung-kopiah begitu.”

“Oh, ini,” dia menunduk, mengamati pakaiannya, tentu masih dengan senyum kuda.

“Revolusi tetap jalan, Ndan,” tuturnya kemudian. “Revolusi tidak boleh macet, apapun risikonya.”

“Perubahan penampilan itu artinya apa, Ndan?”

“Hanya perubahan strategi.”

“Kenapa strategi harus berubah, Ndan?”

“Karena situasi sedang berubah.”

“Situasi masyarakat apa pribadi, Ndan?”

“Masyarakat dan pribadi.”

Aku mengerti maksud jawaban terakhir ini. Kedatangannya ke kantor dan menyeruput kopi tanpa dipersilakan lebih dahulu tadi adalah bagian dari strategi karena perubahan situasi pribadinya.

“Tujuan tetap, Ndan?”

“Tetap demi Indonesia merdeka seratus prosen!”

Tepat saat jawaban terakhir tadi, Sudai masuk ke kantor dengan wajah masam. Sudai adalah patron Kumendan Rudi dalam bidang politik-sosial-budaya, bidang penghidupan di kala paceklik, juga bidang asmara di kala berduka. Singkat kata, Ndan Rudi mateh-odik norok Sudai.

Wajah masam itu mudah dijelaskan sebab-musababnya. Menjadi patronnya Ndan Rudi bukanlah keinginannya, bahkan cenderung dia hindari. Ibarat kata, Ndan Rudi adalah anak yang dicampakkan oleh patronnya. Namun tak ada yang menyangsikan kegigihan Ndan Rudi, kendilati tidak diinginkan ia tetap gigih memepet Sudai. Kasus terbaru adalah Sudai terpaksa menjual ponselnya ke Ndan Rudi dengan harga miring-merosot, karena Ndan Rudi meronta-ronta bersimpuh di kaki Sudai memohon agar ponsel itu dijual kepadanya. Tak tega, Sudai mengabulkan permintaan itu.

“Tujuan ini masih langgeng selama Indonesia masih tetap begini, ” lanjut Ndan Rudi dengan mimik serius, “tapi strategi–”

“Tidak usah banyak cincong, Rud. Buruan belikan rokok!” Sudai tiba-tiba memotong keseriusan Ndan Rudi sambil menunjuk ke toko sebelah.

Terbata-bata, Ndan Rudi berusaha menjawab Sudai: “Uangnya mana, Pak I?”

“Lho, tadi kan sudah kukasih uang? Tak tunggu-tunggu di kamar, lama tidak datang-datang, malah ada di sini. Buruan!”

“Anu, Pak I…”

“Anu apa?!”

“Anu…”

“Kenapa anumu?!”

“Uangnya kubeli makan tadi, Pak I.”

“Lho kamu ini gimana sih?”

“Tidak gimana-gimana, Pak I.”

“Kebiasaan kamu ini!”

“Biasanya emang begini, Pak I.”

“Jangan dibiasakan!”

“Mana uangnya, Pak I?”

“Huh kah!”

Sudai menyerahkan sejumlah uang ke Kumendan Rudi dengan wajah yang masih masam. Aku hanya bisa melihat pemandangan di ruangan itu.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *