By | Mei 17, 2016

Hari ini ditetapkan sebagai hari buku nasional. Konon kenapa tanggal 17 Mei ditetapkan sebagai Hari Buku Nasional karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional yang didirikan pada tahun 1980. Ketetapan ini diinisiasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Abdul Malik Fadjar, pada tahun 2002 silam.

Jadi, Hari Buku Nasional memang dimaksudkan sebagai harinya membaca. Kondisi perbukuan, khususnya, dan kondisi literasi, pada umumnya, masih perlu ditingkatkan di negeri ini. Keadaannya masih terbilang tidak merata, mengingat kondisi sekolahnya memang tidak merata. Di perkotaan, literasinya jauh lebih baik ketimbang perkampungan yang kualitas pendidikannya memang berbeda.

Berhubung ini adalah Hari Buku Nasional, maka akan saya sebutkan beberapa buku nasional yang memengaruhi hidup saya. Artinya, berkat membaca buku tersebut saya jadi memiliki perspektif dan gaya berpikir baru, yang tak akan saya miliki jika kini saya belum membacanya. Berikut ini daftarnya:

1. Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer

Tetralogi Buru adalah empat novel yang bercerita tentang Minke, terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Saya ingat, keempatnya saya baca sewaktu masih sekolah kelas 3. Saya baca meminjam kepada seorang teman.

Novel ini tentu memberi saya perspektif baru tentang sejarah Indonesia. Pram dengan sangat bagus menjelaskan sejarah dengan cara yang berbeda dari buku-buku paket sekolah yang kurang menyenangkan. Beberapa tahun kemudian, saya jadi sadar bahwa banyak sekali nilai yang bisa didapat dari novel ini, terutama tentang apa artinya menjadi orang Indonesia.

Hingga kini, saya mengajak beberapa orang agar membaca novel ini. Dan memang betul, setelah membaca Bumi Manusia saja, saya perhatikan mereka memiliki perspektif baru dan berbeda. Menurut saya, buku ini wajib dibaca oleh anak usia SMA. Perpustakaan sekolah seluruh Indonesia mestinya memiliki novel ini sebagai bacaan wajib.

2. Sekolah Itu Candu oleh Roem Topatimasang

Dulu saya membaca buku ini sewaktu masih sekolah kelas 2. Saya ingat, setelah membacanya saya jadi enggan bersekolah dan tidak masuk kelas selama seminggu. Untungnya, di sela-sela tak masuk sekolah itu, saya merenung dan mendapat kesadaran lain, sehingga akhirnya memutuskan masuk sekolah lagi. Pengalaman itu sangat lucu jika diingat dari sudut pandang saat ini.

Baca juga: Pengalaman Spiritual Bersama “Sekolah Itu Candu”

Dari judulnya saja sudah bisa ditebak buku ini berbicara tentang apa. Sekolah memang sebuah lembaga pendidikan, namun ia rentan  untuk terjebak kepada formalitas belaka, sehingga esensi pendidikan itu sendiri kerap tak tercapai. Hingga kini, saya masih terpengaruh oleh buku ini mengenai rentannya sekolah, meski masih mempertahankan keyakinan bahwa peran pentingnya masih bisa diharapkan.

Buku ini, menurut saya, seharusnya dibaca oleh kalangan praktisi pendidikan.

3. Pergolakan Pemikiran Islam oleh Ahmad Wahib

Saya juga membaca buku ini sewaktu masih sekolah kelas 3. Buku ini sebetulnya adalah catatan diary (buku harian) penulis tentang keislaman dan keindonesiaan sebelum akhirnya meninggal karena kecelakaan. Namun, oleh karena renungannya sangat mendalam, maka kemudian dibukukan dan disebarkan secara luas.

Banyak sekali renungan-renungan Ahmad Wahib yang sangat bagus dan, dalam kadar tertentu, “menggoncang” iman. Meskipun di kemudian hari saya menemukan banyak hal yang harus ditolak dari pemikiran Ahmad Wahib, namun saya sangat menghargai bukunya ini karena mengajak saya untuk berpikir dan merenung tentang keislaman. Buku yang baik adalah buku yang mengajak pembaca untuk merenung, bukan buku yang menggurui.

4. Islam, Doktrin dan Peradaban oleh Nurkholis Madjid

Saya mulai membaca buku ini juga sewaktu masih sekolah, namun waktu itu tidak paham apa maunya Nurkholis Madjid dengan tulisannya itu. Sewaktu kuliah, saya mencoba membaca lagi dan mendiskusikan dengan beberapa teman. Sedikit-sedikit, akhirnya saya mulai mengerti isi buku itu.

Islam, Doktrin dan Peradaban adalah kumpulan makalah Nurkholis Madjid yang memuat hampir segala segi dalam Islam. Membacanya seakan pembaca diajak memasuki khazanah Islam yang sangat luas dan mencakup banyak sekali segi.

Yang menarik, Nurkholis Madjid memperkenalkan inklusivisme Islam, yang amat cocok untuk Indonesia yang sangat beragam penduduknya. Saya jadi sadar setelah membaca buku ini, apa artinya menjadi seorang Muslim di Indonesia.

5. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya oleh Harun Nasution

Sebetulnya, buku ini cuma mengulas berbagai segi dari Islam, mulai dari Ilmu Kalam, Sejarah, Pendidikan hingga institusi dalam Islam. Namun, setelah membacanya, saya jadi tersadar bahwa Islam tidak hanya berisi soal ajaran-ajaran semata, namun juga berisi hal-hal yang sifatnya sosial.

Yang menarik pula, buku ini didukung dengan rujukan yang terbilang kaya. Berbagai segi Islam diulas dalam sudut pandang yang kaya adalah kelebihan buku ini. Saya juga akhirnya mengenal sosok Harun Nasution setelah membaca buku ini. Yang cukup penting dari sosok ini adalah rasionalismenya. Melalui Harun Nasutionlah saya jadi mengerti bahwa Islam memiliki sisi rasionalisme yang tak bisa diabaikan.

6. Kiai Nyentrik Membela Negara oleh Abdurrahman Wahid

Buku ini adalah kumpulan tulisan Gus Dur tentang berbagai kiai yang dia kenal. Kiai-kiai ini memiliki perspektif tersendiri mengenai negara Indonesia, sebuah perspektif yang terbilang unik dan Gus Dur sebut sebagai khas pesantren. Dengan demikian, buku ini sebetulnya membela pesantren sebagai suatu institusi yang nasionalis, yang penulisnya ceritakan melalui para kiainya.

Para kiai menghabiskan masa hidupnya di pesantren. Yang dibaca dan dipelajari pun kitab-kitab kuning yang dalam penglihatan sekilas tidak memiliki kaitan dengan nasionalisme dan keindonesiaan. Namun bahwa mereka kemudian menjadi sosok-sosok yang nasionalis adalah peristiwa unik yang layak diceritakan.

7. Kolom Demi Kolom oleh Mahbub Djunaedi

Saya menikmati tulisan-tulisan Mahbub Djunaedi bukan karena isinya yang berbobot, namun karena cara menulisnya yang asyik. Mahbub Djunaedi menulis dengan gaya humor, menggelitik, namun isinya tetap bagus dan informatif.

Di blog ini, saya sudah mengulas buku ini. Silakan lihat di sini.

Membaca tulisan ini, saya jadi mengerti bahwa menulis itu tidak melulu soal isi, namun bagaimana cara menuliskannya pun terbilang penting. Dari Mahbub Djunaedi pula saya jadi mengerti bahwa humor itu tidak melulu menertawakan hal remeh, namun juga hal-hal berat dan genting.

8. Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno

Tentu ini adalah buku penting. Saya harus berterima kasih kepada seorang teman yang bersedia meminjamkan buku ini untuk saya baca hingga selesai. Apalagi sekarang, setahu saya, buku ini tidak terbit lagi.

Namun, waktu itu saya cuma menyelesaikan jilid ke-I saja dari buku ini. Jilid ke-II-nya tak selesai sebab berisi kumpulan pidato Bung Karno. Jilid pertamalah yang berisi tulisan Bung Karno di berbagai media yang tersebar saat itu.

Dengan membaca buku ini, tentu saya mendapat pemahaman yang lebih baik tentang Indonesia.

9. Telikungan Kapitalisme Global oleh Wahid Hasyim

Buku ini terbilang tipis. Tidak sampai seratus halaman. Namun isinya amat berpengaruh kepada saya.

Membaca buku ini, saya jadi sadar bahwa Indonesia tidaklah sendirian dalam setiap babak sejarahnya. Misalnya, babak sejarah peralihan dari Orde Lama menuju Orde Baru, buku ini menunjukkan bahwa banyak sekali negara luar negeri yang amat berkepentingan dengan tumbangnya Orde Baru. Parahnya, banyak sekali anak negeri yang tidak menyadari kenyataan itu sehingga “ditunggangi” oleh kepentingan luar negeri.

Dan dalam setiap babak sejarah itu, Indonesia di hadapan negara luar yang berkepentingan kerap menjadi pihak yang kalah, yang “ditelikung”.

Nah, itulah buku-buku nasional yang saya anggap berpengaruh terhadap saya. Mungkin pembaca sekalian bisa juga memberi tahu buku nasional apa saja yang mempengaruhi kalian, berhubung ini adalah Hari Buku Nasional.[]

6 Replies to “Buku-buku Nasional Yang Memengaruhi saya”

  1. Pingback: Pramoedya Ananta Toer | Kurusetra

  2. Alba

    Saya rekomendasikan untuk mencarinya di perpustakaan. Selamat mengonsumsi nutrisi bergizi ala Pak Mahbub!

    Reply
      1. Alba

        Pernah baca buku beliau yang berjudul ‘Angin Musim’. Itu membekas sekali.

        Reply
        1. mhilal Post author

          Wah, baru tahu kalau pak mahbub punya buku itu. Saya akan coba cari di toko buku. Buku pak mahbub memang layak baca, sangat bergizi 🙂

          Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *