By | June 12, 2017

Binatangisme Mahbub Djunaedi George Orwell

Membaca Binatangisme membuatku pening tujuh keliling. Hal itu bukan karena buku itu sulit dipahami. Sekali-kali bukan! Melainkan karena isinya sangat terang benderang, seterang matahari di siang bolong.

Dan di situlah persoalannya. George Orwell mengolah jalan ceritanya seperti bertutur tentang masa kelam yang dialami oleh manusia. Memang dia bertutur tentang hewan-hewan, tapi dia tidak sedang bercerita tentang kancil vs petani timun. Yang dia ceritakan adalah sekelompok hewan yang terjerat nestapa: nestapa otoritarianisme.

Apalagi, yang membikin ceritanya membuat kepala makin ngelu, otoritarianisme itu dilakukan oleh sesama bangsa hewan. Kalau misal dilakukan bangsa manusia kan biasa. Nah, ini sesama hewan menindas hewan lain. Kesannya jadi tambah menyakitkan.

Membacanya seperti mengalami masa-masa kelam yang dihadapi sekelompok manusia yang dikhianati oleh kenyataan. Cita-cita yang diperjuangkan bersama hingga berdarah-darah ternyata buntu, terbentur kenyataan yang berseberangan. Lalu, sambil menatap kosong di kejauhan, kenyataan itu terpaksa harus diterima sebagai sesuatu yang niscaya dan tak bisa dielakkan.

Barangkali begitulah yang dirasakan oleh Mahbub Djunaedi, penerjemahnya ke dalam Bahasa Indonesia. Bersama sesamanya, dia berjuang membebaskan dirinya dari masa otoritarian Orde Lama. Dan perjuangan itu membuahkan hasil. Dengan tempik sorak dia sambut Orde Baru yang benar-benar baru.

Tapi, lama kelamaan, apa yang dilihatnya tidaklah berbeda. Orde Baru tidak kalah otoriternya ketimbang sebelumnya. Dan itu sungguh menyakitkan, persis seperti para hewan di dalam novel Binatangisme, yang sulit percaya bahwa ternyata peternakannya sama sekali tidak berubah, masih seperti ketika dikuasai manusia. Semua perjuangan membebaskan diri dari otoritarianisme itu ternyata percuma.

Barangkali benar kata orang, semua kembali kepada adagium: “katakanlah hal benar sungguhpun ia pahit.” Dan sepahit-pahitnya kebenaran adalah kenyataan bahwa kita telah melakukan kesalahan.[]

12 Replies to “Binatangisme”

  1. Rissaid

    Walau saya trlalu kecil saat order lama, jika membandingkan kesemenaan bbrp org bersuara, sprti bully, hoax dll, saya smcam ‘rindu’ orde lama, wlupun mereka2 yg tidak bs apa2 d jaman itu pst tidak sepakat. ah saya jg ngelantur hehe

    Reply
  2. arrazzaqu aisyah

    Ah Orwell’s big work! Or should I say one of Orwell’s big works? πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *