By | April 28, 2017
Ngopi bareng Mahrus dan Afif

Ngopi asyik bareng Mahrus dan Afif, dua novelis muda. Doc Pribadi

Sudah lama sekali ingin bertandang ke rumahnya, baru kini kesampaian. Akhirnya, tempat tinggal penulis novel “Mafia Three in One” ini aku kunjungi juga.
Saya berangkat naik motor ke sana. Tiga begundal: Sahrul, Rohim dan Rofik, menyusul dengan mobil. Di rumah ini kami beranjangsana tentang hal-hal tak perlu dan percuma, seperti selalu saat berkumpul. Kami menikmati Kopi Nongko yang Mahrus suguhkan dengan khidmat. Alangkah mahalnya sebuah momen berkumpul bersama kopi.

Oh iya, di depan rumahnya Mahrus sedang didirikan pendopo, untuk bakal warung kopinya. Konsepnya klasik. Pendopo itu berdiri dengan rusuk yang sepenuhnya terdiri dari Bambu Ireng. Bambu jenis ini tergolong veritas yang kuat dan tahan lama. Rayap akan kesusahan mengunyahnya.

Atapnya dari anyaman rumput mendong. Mahrus sendiri yang menganyamnya, mengikatnya, juga menaikkannya di ke atas bangunan. Karena proses inilah pembangunannya jadi terbilang lama, sebab selain dia membuatnya sendiri, dia pula yang mencari bahannya ke lahan-lahan. Mahrus memang bukan tipikal orang yang terburu-buru.

Di bawah bangunan itu dia buat 6 buah petak kolam untuk menernak ikan. Rencananya dia akan membudidayakan Lele di situ, barangkali juga Nila atau ikan Mas. Entah apalagi yang ada di kepala Mahrus.

Baru-baru ini tersiar kabar bahwa di pendopo ini diadakan acara selamatan dan doa bersama, mengharap berkah dari pembukaan warung kopi yang tak akan lama lagi. Saya penasaran, menu kopi apa nanti andalannya.

Selain menu kopi, pendopo itu ingin dia bangun sebagai sentra litetasi. Mahrus memang sudah lama bergiat di bidang itu, sejak dulu saat masih di Jogja. Kini, sekembalinya ke kampung halaman, dia rupanya belum bisa beranjak dari dunia buku. Warung kopipun masih diselipkannya wahana perbukuan.

Ada benarnya juga kata Rohim, salah satu begundal yang ikut ke rumah Mahrus hari itu: “Buku adalah kutukan!” Sekali kau menggelutinya, selamanya kau tidak akan keluar darinya. Kau boleh jadi menghindar barang tiga atau empat tahun, tapi tak lama dari itu kau akan dihantam rindu tanpa ampun kepada buku. Hingga kini belum ada mantra penangkal kutukan itu.

Menjadi penggiat buku adalah takdir yang getir, terutama di negeri ini.

***

Tiga begundal itu akhirnya undur duluan. Mereka akan melintas ke Lumajang, ke rumahnya Rofik untuk suatu rencana jahat yang sejak awal memang mereka rundingkan. Saya masih tinggal di situ, menikmati kopi dan pisang goreng yang tak lagi hangat.

Di situ saya terlibat obrolan yang serius. Ah, bicara dengan Mahrus memang selalu serius, cenderung berkisar soal-soal besar yang dikemas mungil dan sederhana.

Tepat di depan rumah Mahrus terdapat sekolah. Di situ terlihat beberapa siswa berseliwerang, nongkrong dan mengobrol satu sama lain. Dan itulah obrolan serius itu: sekolah.

Bagi Mahrus, pemandangan di rumahnya itu bukan barang asing. Dia tahu gepeng dan lonjongnya sekolah itu. Dan semakin dia tahu, semakin terlihat di matanya bahwa sekolah menyimpan banyak sekali absurditas. Ya, Mahrus seringkali melihat hal-hal tidak masuk akal di sana.

Bagi yang sudah mengamati–atau bahkan sudah terlibat dalam–kegiatan pendidikan non formal, tampaklah bahwa sekolah telah terjebak dalam formalisme yang akut. Mahrus tahu dan melihatnya dengan gamblang di depan matanya sendiri. Jebakan formalisme itu memerosotkan jiwa pendidikan.

Ironis, bukan, ada lembaga pendidikan yang tidak punya jiwa pendidikan? Bagi Mahrus, itu malapetaka.

Selepas itu, obrolan serius itu melahirkan kebijaksanaan baru yang benar-benar baru, setidaknya di benak Mahrus dan saya. Kebijaksanaan baru itu digenapi kesadaran bahwa jalan untuk memperbaikinya masihlah panjang dan berjangka lintas generasi.

Ada baiknya kita menoleh sekali-sekali kepada beberapa sekolah alternatif yang non formal sifatnya. Qoryah Toyyibah di Semarang, pelajaran mengaji di musala-musala, TPQ, madrasah diniyah, les-les privat, taman baca anak-anak, atau berbagai tempat lain yang memancarkan jiwa pendidikan di luar sekolah formal.

Sembari mengajak guru mencicil perbaikan di tubuh sekolah, ada pentingnya pula mengajak mereka terlibat ke dunia non formal itu. Aktif di sekolah saja akan mematikan semangat pendidikan, sebab administrasinya lebih membuat gila ketimbang mewaraskan.

Obrolan serius itu belum rampung, dan belum ada kesimpulan yang terbilang definitif. Belum ada rencana aksi, belum tersusun strategi aplikasi. Tapi kopi di depan saya sudah amblas tinggal ampas.

Saya terpaksa pamit pulang. Selain karena kopi sudah tiada, di rumah sedang ada yang mewanti-wanti.[]

8 Replies to “Berkunjung Ke Rumah Mahrus, Ngopi Hingga Mampus”

  1. Gadung Giri

    temen saya ada yang namanya muhammad ali mahrus. anak purbalingga. kerjaannya memberi makan nyamuk. untuk penelitian sakit malaria atau apalah.. kirain mahrus yang sama. ternyata beda manungsa 😀

    Reply
  2. Bang Ical

    ……….. Penyelenggara pendidikan setidaknya harus kreatif dan punya tekad pendidikan yang progresif. Entahlah, kasus yang sama banyak sekali di Lombok, Bang.

    Reply
    1. mhilal Post author

      Itu kayaknya problem nasional, Bang. Menjadi guru ternyata amat menantang. Butuh nyali 😁

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *