By | April 13, 2016

10553600_858552967558001_3099009236021772191_n

Belum lama ini, sebuah film India saya tonton. Judulnya Piku. Bagus.

Ceritanya tentang Piku (Deepika Padukone) seorang perempuan karir di New Delhi. Dia harus mengurus bapaknya (Amitabh Bachchan) yang punya masalah perut dan berperangai sulit diatur. Dia sampai stress karena pikiran dan energinya terpecah antara mengurus bapaknya dan menjalani pekerjaan.

Ceritanya jadi menarik sejak mereka merencanakan perjalanan panjang ke Calcutta, kampung halaman mereka. Kamu tahu kan jarak New Delhi-Calcutta? 45 jam perjalanan! Ini betul-betul perjalanan panjang.

Perjalanan itu dilalui melalui mobil. Mereka menyewa taksi. Sopir taksi (Irrfan Khan) inilah yang menjadikan cerita perjalanan itu makin asyik.

Empat orang menaiki taksi itu. Si Piku, ayahnya, si sopir taksi dan … seorang pembantu bernama Budhan (Balendra Singh) untuk mengurus ayah Piku.

Jadi ada seorang pembantu. Seketika itu saya teringat Aravind Adiga. The White Tiger. Sudut pandang The White Tiger mengarahkan perhatian saya pada si pembantu yang dalam film Piku hanya menjadi sosok figuran.

Jika dalam The White Tiger segala sudut pandang berpusat pada sosok pembantu—jadi, sudut pandang kelas-bawah terhadap kelas menengah/elit—maka di film Piku ini sudut pandangnya berasal dari kelas menengah/elit (Piku, ayahnya dan si supir taksi).

Menonton film Piku dalam kerangka sudut pandang The White Tiger membuat si pembantu, si Budhan, menjadi sosok penting bagi saya. Bagaimana, misalnya, ayah Piku meminta Budhan memijit kaki atau pundaknya dalam suatu scene yang seolah itu ‘wajar’ dan ‘netral’. Kalau kita pakai sudut pandang The White Tiger, adegan pijit-pijit itu jadi problematis. Dalam The White Tiger, adegan seperti itu adalah cermin kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang terinstitusi dalam relasi kultural. Novel The White Tiger menceritakan scene pijit-pijit seperti dalam kerangka ‘protes’ dan ‘ironi’. Adapun film Piku, kerangka itu jadi seolah ‘wajar’ sebab sudut pandangnya adalah penglihatan mata kelas menengah/elit.

Saya baru merasakan kesan ini di film Piku. Mungkin ada baiknya, nanti saya menonton film India lain, lalu menerapkan kerangka sudut pandang The White Tiger lagi. Barangkali, teman-teman blogger ada rekomendasi film India untuk saya tonton?

Sumber gambar:
FB Piku

5 Replies to “Antara Film Piku dan Novel The White Tiger”

    1. mhilal Post author

      Sudah nonton. Bagus banget, emang. Amir Khan jagoan banget 🙂

      lirik lagunya itu lho….
      love is wasting time,
      I love wasting time

      :mrgreen:

      Reply
    1. mhilal Post author

      Wuih… judulnya sulit dibaca, kayaknya bagus itu. Makasih bgt rekomnya mbak. Saya akan berburu film itu 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *