By | February 28, 2016

a_royal_affair[Judul: A Royal Affair (En kongelig affære) | Rilis: 2012 | Pengarah: Nikolaj Arcel]

Di Denmark, abad ke-18, di suatu masa ketika gagasan politik tidak seperti saat ini. Saat itu di Denmark gagasan tentang demokrasi dan distribusi kekuasaan belum diterima. Tapi gagasan itu seperti wabah, menyebar melalui buku-buku yang diterbitkan oleh para tokoh pilar-pilar gagasan itu.

Denmark saat itu diperintah oleh seorang raja, Christian VII (Mikkel Følsgaard), yang sakit secara mental. Karena itu, setiap kebijakan dimusyawarahkan oleh sebuah dewan yang terdiri dari beberapa orang yang, sayangnya, menganut paham konservatif tentang politik juga korup. Setiap ide tentang kebijakan digagas oleh dewan ini, dengan segenap intrik dan kepentingannya masing-masing, sedangkan sang raja hanya tinggal menandatanganinya. Bisa dibayangkan, bagaimana hasilnya jika pemerintahan dipegang oleh orang-orang macam begitu.

Di tengah gelapnya kehidupan Denmark, muncul seorang dokter yang menganut gagasan pencerahan, Johann Friedrich Struensee (Mads Mikkelsen); dia sudah membaca Voltaire, J.J. Rousseau, John Locke, dan para penggagas pencerahan lain. Singkatnya, Truensee adalah bagian dari Free Thinkers. Truensee berhasil menjadi dokter pribadi Raja Christian karena sang raja merasa Struensee adalah teman yang cocok di bidang kegemarannya: dunia teater. Pada saat wawancara, mereka bertukar kutipan naskah teater. Itulah yang membuat Struensee diterima di hati sang raja.

Persahabatan sang raja dengan Struensee begitu intens. Hampir segala hal yang disukai sang raja seolah adalah kesukaan Struensee juga. Christian seolah mendapat pengakuan di hadapan Struensee. Ini berbeda dengan orang lain, Christian merasa kecil dan terkucil di hadapan mereka. Karena keakraban yang sangat besar inilah, Struensee sebetulnya sudah menancapkan pengaruhnya kepada Christian.

Perjumpaan Struensee dengan Ratu Denmark, Caroline Matilda (Alicia Vikander), juga berkaitan dengan pencerahan. Caroline berasal dari Kerajaan Britania Raya. Kondisi Denmark saat itu belum seterbuka Britania Raya. Kerajaan Denmark belum menerima fajar Pencerahan. Karena itu, ketika Caroline baru tinggal di Denmark, buku-buku yang dia bawa harus diseleksi terlebih dahulu. Buku-buku yang memuat gagasan pencerahan dikenai sensor ketat di Denmark.

Saat Caroline memasuki kamar Struensee untuk menyatakan rasa terima kasihnya karena tampaknya pengobatannya terhadap Christian, suaminya, menunjukkan gejala sukses, dia melihat rak buku kamar itu. ada dilihatnya beberapa buku yang seharusnya disensor. Dia terkejut, bagaimana bisa Struensee menyimpan buku-buku itu. Struensee menjawab bahwa dia punya koneksi bangsawan Denmark yang memungkinkannya menyimpan buku-buku terlarang. Saat itulah, Caroline merasa adanya kecocokan antara dirinya dengan Struensee. Dia mengambil buku karya Voltaire dan meminjamnya untuk dia baca.

Perkenalan antara Caroline dan Struensee inilah yang selanjutnya menjadikan film ini menarik. Sebab intrik politik—antara para penganut gagasan konservatif dan penganut gagasan baru—bersentuhan dengan kisah cinta terlarang. Struensee dan Caroline menjalin perselingkuhan, lalu mereka membangun kekuatan politik untuk membubarkan Dewan Kerajaan yang de facto lebih berkuasa ketimbang sang raja sendiri.

Perselingkuhan itu menghantarkan Struensee ke puncak kekuasaan Denmark secara de facto. Di tangan Struensee, Denmark menjadi sebuah kerajaan yang menerapkan gagasan pencerahan. Dia membuat kebijakan-kebijakan bercorak reformatif yang tidak mungkin dikeluarkan oleh para penguasa konservatif.

Dihapuslah berbagai peraturan yang dipandangnya bertentangan dengan ide pencerahan: penghapusan penyiksaan, penghapusan buruh paksa (corvee), penghapusan sensor pers, penghapusan pengkhususan jabatan negara pada bangsawan semata, penghapusan hak-hak privilege bangsawan, penghapusan penghasilan bangsawan yang “cenderung tak pantas”, penghapusan etiket pengadilan kerajaan, penghapusan aristokrasi pengadilan kerajaan, penghapusan subsidi pemerintah untuk pabrik tak produktif, penghapusan beberapa hari libur, pemberlakuan pajak untuk perjudian dan kuda mewah untuk membiayai perawatan bayi terlantar, larangan jual-beli budak di wilayah koloni Denmark, penghargaan untuk prestasi dengan gelar dan dekorasi feudal, kriminalisasi dan hukuman untuk rasuah, penataan institusi pengadilan untuk mengurasi korupsi, reformasi perguruan tinggi, reformasi institusi medis, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, rakyat Denmark menyambut kebijakan-kebijakan reformatif ini. Denmark pun tersohor di seluruh Eropa sebagai sebuah negara yang mulai menerima ide-ide baru dan tidak lagi konservatif. Christian, sang raja Denmark, mendapat surat yang ditulis langsung oleh Voltire, yang berisi pujian dan kekagumannya akan Denmark.

Namun seiring pergulatan Struensee untuk mereformasi Denmark, kaum konservatif yang kekuasaannya tersingkir mulai melancarkan serangan balik. Oleh karena sensor terhadap pers sudah terlarang, muncul pamflet-pamflet yang menyerang Struensee. Dari sini kita dipertontonkan sebuah adegan yang sangat khas ide modern: kekuatan pers.

Pamflet-pamflet itu menyebarkan opini kepada masyarakat Denmark untuk merusak citra Struensee. Siapakah yang mengendalikan pamflet-pamflet itu? Tentu saja lawan politik Struensee, kubu konservatif. Di pucuk kubu ini adalah ibu tiri Christian sendiri, Juliana Maria. Dengan siasat politiknya, dia berhasil mengendus hubungan jadah antara Struensee dan Ratu Caroline. Tentu saja, sekali gosip ini disebar melalui media, semua bibir akan menggunjingkannya. Rakyat mulai jengah dengan Struensee. Hubungan Struensee dengan Raja Christian pun mulai merenggang.

Bertubi-tubi, serangan terhadap Struensee makin menjadi-jadi. Hingga akhirnya, sebuah jurus pamungkas berhasil dikeluarkan oleh kubu konservatif. Bertebaran pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa Struensee telah mengambil alih kerajaan dari Christian. Berita hoax ini berhasil membangkitkan amarah rakyat, sehingga rakyat mengepung kerajaan. Mereka menuntut agar Struensee dicopot dan diusir dari kerajaan. Kesempatan ini tentu tidak akan dilewatkan kubu konservatif. Dengan sigap, mereka mengambil alih kekuasaan dari tangan Struensee dan mengembalikan Dewan Bangsawan. Struensee dipenjara dan Ratu Caroline diasingkan ke Kastil Kronborg.

Setelah kekuasaan yang sangat singkat, sejak 18 Desember 1770 hingga 16 Januari 1772, Struensee dihukum pancung di lapangan Denmark, ditonton oleh 30.000 orang.

Struensee, sang pembawa Fajar Pencerahan ke Denmark, ini sudah tewas, Denmark pun kembali ke Era Kegelapan. Hingga kapan? Tidak terlalu lama, rupanya.

Dengan Christian, Caroline punya anak lelaki bernama Frederick. Adapun perselingkuhannya dengan Struensee, Caroline melahirkan louise Auguste. Kelak, Frederick akan menjadi raja Denmark dan menerapkan kebijakan bernafas Fajar Pencerahan atas inspirasi dari Struensee. Sejak itu, Denmark memegang kukuh gagasan Pencerahan hingga kini.[]

sumber gambar: here.

2 Replies to “A Royal Affair (En Kongelig Affære)”

    1. mhilal Post author

      Saya juga baru tahu sejak nonton film ini. Denmark masih seperti negeri antah-berantah dalam benak saya, banyak yang belum saya tahu.
      Dengan senang hati. Trims juga atas kunjungannya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *